
Di perjalanan menuju ke kantor Miko asyik berbincang dengan Sean seputar bisnis sedangkan Ravi yang duduk di samping kemudi hanya diam saja memikirkan setiap perkataan amora tadi malam.
Rasanya setiap kata-kata Amora terngiang-ngiang di telinga Ravi dan menusuk ke hati.
"Apa aku bisa menemukan wanita seperti dirimu lagi Amora? Entah kenapa rasanya selama aku mengenal perempuan kau adalah perempuan terbaik dari pada mereka. Terlepas dari masa lalu mu aku melihat kebaikan dan ketulusan di mata mu." Batin Ravi.
"Apa Benar semua kata-kata mu Amora, apa aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan keinginan ku selama ini?" Batin nya lagi.
Sean pun menyenggol lengan Miko dan memutar bola matanya ke arah Ravi. Seakan berbahasa isyarat "adik mu kenapa?"
Miko mengangkat kedua bahu nya seakan menjawab "aku tidak tau pa."
"Ravi." Tiba-tiba Sean memanggil Ravi.
"Woi di panggil noh sama papa," teriak Miko di telinga Ravi yang memang duduk di depannya karena Ravi menghayal dan mengabaikan panggilan papa nya itu.
"Hah iya kak kenapa?" Tanya Ravi yang kelabakan dan tersadar dari lamunannya.
"Ngelamun in apa sih? Sampai ga dengar begitu?" Tanya Sean.
"Ohh itu pa, Ravi lagi mikirin berkas-berkas kantor." Jawab Ravi berbohong sambil cengengesan.
"Pagi-pagi udah bohong aja nih bocah." Timpal Miko.
"Apaan sih kak, siapa yang bohong?" Tanya Ravi dengan nada marah.
"Lah yang bilang Lo siapa? Lagian ya biasanya kalau marah itu artinya betul." Skatmat Miko.
"Sudah-sudah kalian ini sudah pada dewasa selalu saja ribut karena masalah kecil. Dan kamu Miko belajar lah bicara sopan kepada adik mu." Tegur Sean.
"Hah sejak kapan Miko ga sopan ke Ravi pa?" Tanya Miko yang merasa permintaan papa nya itu tidak benar adanya.
"Sejak dulu, kamu selalu ngomong sesuka mu kepada Ravi."
__ADS_1
"Apaan sih pa, Ravi nya aja nyaman-nyaman aja tuh iya kan adik kecil ku?"
"Hmmm." Jawab Ravi sambil memutar bola matanya malas.
"Idih sok-sok an, mentang-mentang di bela sama papa langsung dah besar kepala." Ledek Miko.
"Apaan sih kak?"
"Sudah-sudah, dari tadi ga habis-habis topik perdebatan kalian."
Oh iya Ravi Miko rencananya Minggu depan papa mau balik lagi ke Amerika sama mama kalian soalnya masih ada yang mau di urus di sana. Dan setelah papa amati selama ini apalagi semenjak Miko mengenal Amora fokus Miko terbagi-bagi antara kantor dan istrinya. Tadi malam papa dan mama memutuskan untuk menyediakan sekretaris pribadi untuk kamu Ravi agar sekertaris kamu bisa membantu pekerjaan kamu di kantor dan kamu juga bisa mengenal wanita. Papa dan mama curiga kamu normal atau tidak." Jelas Sean.
"Apa sekretaris? Terimakasih pa atas perhatian papa , tapi Ravi bisa handel semua kok jadi seperti nya tidak butuh sekretaris deh." Tolak Ravi.
"Ini bukan penawaran Ravi, ini keputusan." Jelas Sean.
"Ohh keputusan papa ini terlalu sepihak dan Ravi tidak setuju."
"Heh, kamu masih karyawan di kantor itu ya, dan yang berhak memutuskan kamu punya sekretaris pribadi atau tidak adalah aku dan papa sebagai CEO Wijaya grup." Timpal Miko.
"Ravi sekali lagi papa tekankan ini keputusan bukan penawaran. Jadi ini mutlak dan kamu tidak punya hak buat menolak nya. Ingat mulai hari ini dia akan bekerja dengan kamu dan kamu harus bisa bekerja sama dengan sekretaris pribadi kamu dan mulai lah bersikap sebagai lelaki normal nak."
"Pa ga bisa begini dong, papa sama Mama tidak boleh ambil keputusan tanpa melibatkan Ravi begini. Dan apa papa bilang mulai lah bersikap normal, jadi maksud papa selama ini Ravi tidak normal begitu?" Tanya Ravi menuntut penjelasan.
"Lah emang benar kan kalau Lo bukan laki-laki normal kali." Ejek Miko sambil keluar dari mobil.
"Wahh sialan Lo kak, berani banget bilang begitu." Jawab Ravi sambil ikut keluar dari mobil.
"Selamat pagi pak Ravi." Suara merdu itu membuat Amora Ravi tiba-tiba mereda seketika.
Dia yang ingin adu mulut dengan kakak nya, pandangan nya teralihkan saat seorang perempuan bertubuh langsing dengan rok mini se lutut lengkap dengan atasan kemeja sehingga mempertontonkan paha mulus nya, di tambah lagi wajah cantik dan manis sedang tersenyum ramah kepada Ravi.
"Ravi kenalkan dia Kanaya, sekretaris baru kamu." Ucap Sean.
__ADS_1
"Hah..?" Hanya itu yang mampu Ravi ucapkan sambil melotot.
"Heh itu iler kamu di bersihkan dulu, ga bisa banget lihat perempuan cantik." Ledek Miko.
"Mana kak?" Jawab Ravi sambil meraba pipinya.
"Idih kok nih anak jadi salah tingkah sih?"
"Ga ada kok, kakak ngerjain aku ya? Tanya Ravi sambil salah tingkah.
"Kenapa tuh pipi memerah kek kepiting rebus?" Ledek Miko lagi.
Sementara Kanaya hanya tersenyum melihat penampakan pagi ini.
"Sudah-sudah ayo Kanaya kita masuk.nanti kamu akan di jelaskan job description nya di dalam." Ajak Sean.
"Baik pak." Jawab Kanaya.
"Sudah tidak perlu panggil pak, panggil om saja lagian kita kan di luar kantor."
"Hehehehe baik om" jawab Kanaya sambil tersenyum kecil.
Mereka berempat pun masuk ke dalam kantor pusat Wijaya grup itu. Sedangkan Ravi sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kanaya. Bukan karena Kanya seksi dan menggoda tapi karena Kanya sangat mirip dengan almarhum ibu kandung nya.
Sementara Miko yang melihat perubahan adik nya saat melirik dan menatap Kanya berbeda dia merasa bahagia. karena itu artinya ada rasa simpati di hari Ravi pada pandangan pertama pada Kanaya dan kalau hal itu benar terjadi Ravi bisa melupakan Amora.
karena Miko tahu betul bahwa sampai hari ini Ravi masih menyimpan rasa cinta yang besar kepada Amora.
sesampainya di ruangan Ravi, Sean pun menyuruh Ravi menjelaskan job description Kanaya kepada Kanaya. walaupun sedikit gugup akhirnya Ravi bisa menjelaskan semua pekerjaan yang harus di kerjakan oleh Kanaya
sementara Miko memilih langsung ke ruangannya karena sudah banyak pekerjaan yang menunggu dirinya.
"Semoga ini semua menjadi awal yang baik untuk kamu Ravi." batin Miko sambil tersenyum dan mulai duduk di kursi kebesaran nya dan mulai bergulat dengan pekerjaan yang sudah menumpuk.
__ADS_1
Sean yang melihat perubahan di ekspresi wajah putranya saat bertemu dengan Kanaya hanya tersenyum manis. dia berharap kalau putra nya ini juga pria normal dan bisa menjadikan Kanaya menjadi calon istrinya kelak. setidaknya itu lah tujuan utama nya sovi dan Sean memberikan pekerjaan ini kepada Kanya.
Kanya putri dari sahabat nya Sean yang baru saja lulus studi dari luar negeri. dan akhirnya di minta oleh Sean bekerja di kantor Sean untuk membantu putra bungsu nya sekaligus mendekatkan hubungan mereka.