
Pagi ini semua seakan normal, Ayu terlihat biasa saja melakukan pekerjaan nya seperti biasa. Sedangkan Ravi sedari tadi terus menatap Ayu namun ayu selalu buang muka karena tidak ingin kontak mata dengan Ravi.
Mereka semua pun sarapan bersama di meja makan seperti biasa sebelum berangkat ke kantor.
"Yu, hari ini kamu jadi ke kampus nya?" Tanya sovi di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Jadi Bu," jawab Ayu sambil menyerahkan susu ibu hamil untuk Amora.
"Lho ngapain lagi ke kampus ma? Bukan nya kemaren kalian sudah ke kampus?" Tanya Sean.
"Iya pa,tapi hari ini Ayu ke kampus mau ambil almamater sekalian masih ada urusan yang lain." Jelas Sovi.
"Ohh begitu." Sean mengangguk.
"Tapi yu, sepertinya ibu tidak bisa menemani kamu ke kampus soalnya pagi ini kami ada arisan." Ungkap Sovi.
"Tidak apa-apa Bu, nanti Ayu naik kendaraan umum saja, lagian kan kampusnya tidak terlalu jauh dari sini." Jawab Ayu.
"Ohh iya hari ini juga jadwal Amora periksa ke dokter kandungan, Miko juga harus menemani Amora. Bagaimana jika setelah dari rumah sakit kita antar Ayu ke kampus sayang?" Tanya Miko ke Amora.
"Boleh juga mas." Jawab Amora.
"Ehh tidak perlu kak Miko, mbak Amora Ayu bisa sendiri kok. Lagian kan ayu harus terbiasa mandiri." Tolak Ayu.
"Emang nya niat nya mau kapan ke kampus nya yu?" Tiba-tiba Ravi bersuara.
"Ahh anu, rencananya sih pagi ini kak Ravi." Jawab ayu yang merasa canggung.
"Yasudah bareng kakak saja, nanti kakak antar sekalian kakak ke kantor, lagian kan kak Miko tidak ke kantor hari ini jadi kakak harus bawa mobil. Nanti pulang nya bareng sama kak Miko dan kak Amora setelah mereka selesai dari rumah sakit." Tawar Ravi.
"Tapi kak..."
"Ide bagus itu Ravi, papa setuju kasihan juga ayu kalau harus naik angkutan umum dia belum terlalu paham." Sean Langsung memotong kata-kata Ayu.
"Iya pa, mama juga setuju, yasudah sana siap-siap gih yu biar berangkat nya bareng sama Ravi." Titah sovi.
"Baik bu." Jawab ayu yang lesu dan terlihat pasrah.
Ayu pun segera ke kamar nya dan bersiap-siap untuk segera ke kampus, sedangkan batin nya terus bergejolak karena masih ada rasa malu, kesal, marah dan canggung kepada Ravi karena masalah tadi malam. Namun mau tidak mau ayu harus menuruti apapun kata-kata orang rumah ini. Karena dia bekerja dan di kuliah kan oleh keluarga Wijaya.
Beberapa menit berlalu Ayu pun sudah selesai dan segera keluar dari kamar nya dan terlihat Ravi sudah menunggu di depan pintu. Setelah ayu berpamitan dengan seisi rumah dia pun segera menyusul Ravi yang seakan cuek dan Langsung ke mobil.
Ayu pun masuk ke dalam mobil dengan perasaan canggung. Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah itu.
"Kenapa kamu terlihat tidak nyaman begitu yu? Kamu masih kesal soal tadi malam?" Tanya Ravi memulai obrolan mereka.
"Tidak kok." Jawab ayu ketus.
"Lalu kenapa tidak mau menatap kakak? Dan selalu menatap ke arah jendela?" Tanya Ravi lagi.
"Lagi pengen aja." Jawab Ayu lagi.
"Yu, maaf ya kalau kakak salah, tapi percaya deh kakak tidak pernah berniat mau menyakiti perasaan kamu." Ravi menggenggam tangan Ayu sambil fokus menyetir.
__ADS_1
"Apaan sih kak, lepas ah nanti ayu makin baper lagi." Ayu menarik paksa tangan nya dari genggaman Ravi.
"Ohh jadi sekarang kamu tidak mau lagi di genggam kakak ya?" Tanya Ravi.
"Iya." Ayu menjawab dengan tegas.
"Yu, jangan ketus gitu dong Kakak tidak bisa kalau kamu marah begini." Pinta Ravi.
"Maaf kak, tapi sepertinya lebih bagus mulai hari ini kita jaga jarak saja. Ayu tidak mau kalau sampai ada hati yang tersakiti karena kita." Ucap Ayu yang sudah memikirkan secara matang ini semua tadi malam. Dan dia akan mencoba untuk menjauh dari Ravi.
"Tapi yu kakak tidak bisa." Lanjut Ravi.
"Sama kak ayu juga tidak bisa sok romantis begini tapi tidak punya status atau minimal pengakuan. Jadi daripada makin dalam dan makin sakit lebih baik kita akhiri saja semua nya sekarang." Tegas ayu.
"Yu..."
"Ayu turun di sini saja kak, itu kampus ayu udah tinggal nyebrang." Ayu memotong kata-kata Ravi.
"Tidak, kakak mau ngantar kamu sampai ke gerbang kampus." Tolak Ravi yang masih terus menyetir mobil.
"Terserah kakak." Jawab ayu yang malas berdebat.
Akhirnya beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai di depan gerbang kampus ayu. Dan setelah mengucapkan terimakasih ayu pun pamit dan segera turun dari mobil.
Ravi melihat ada kemarahan di mata Ayu untuk nya jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu amarah ayu reda. Dia hanya bisa menatap punggung ayu yang semakin menjauh dari nya. Saat ayu sudah tidak terlihat akhirnya Ravi pun kembali mengemudikan mobil nya menuju kantor.
Sesampainya di parkiran kantor Ravi yang dilema di hampir oleh Kanaya dengan ekspresi wajah marah.
"Katanya tadi malam tidak mau bawa mobil, ini kok bawa mobil sendiri sih? Ohh jadi sekarang kamu tidak mau lagi jemput aku jadi banyak alasa nya." Kanaya yang baru datang Langsung menyemprot Ravi habis-habisan
Namun Ravi menolak dengan alasan bahwa besok dia ke kantor bersama papa nya dan Miko dan kemungkinan tidak bawa mobil. Jadi Ravi menyuruh Kanaya naik taxi atau grab saja.
"Kanaya santai dulu dong, itu juga tadi aku baru tau kalau ternyata hari ini papa tidak ke kantor dan kak Miko menemani kak Amora cek kandungan. Akhirnya mau tidak mau aku harus bawa mobil sendiri." Jelas Ravi mencoba menenangkan Kanaya.
"Iya kalau memang begitu kan kamu bisa telepon aku nanyain aku udah berangkat apa belum. Kan bisa tadi kita jadinya bareng ke kantor." Lanjut Kanya.
"Wahh benar, karena terlalu sibuk mikirin Ayu aku sampai lupa sama Kanaya." Batin Ravi.
"Ohh anu, aku pikir kamu sudah berangkat ke kantor makanya tidak menelepon kamu. Lagian kan buktinya sekarang kita sampai nya barengan. Sudah lah ayo kita masuk sebentar lagi sudah jam masuk kantor lho." Ajak Ravi sambil menarik tangan pacar nya itu.
"Lepas ah, aku bisa jalan sendiri kok." Kanaya melepaskan tangan nya dari genggaman Ravi.
"Yaudah aku minta maaf ya sayang ku, Lagian kan nanti kita bisa pulang bareng sayang, udah dong jangan ngambek lagi ya
Entar cantik nya hilang lho." Ravi mencoba merayu Pacar nya itu.
"Hmmm." Jawab Kanaya ketus.
"Kamu mau sehabis pulang kantor kita kemana? Makan belanja jalan-jalan atau nonton?" Tawar Ravi.
"Hmmm nonton kek nya seru deh sayang." Tiba-tiba mood Kanaya membaik.
"Yasudah balik kerja nanti kita nonton ya sayang." Ravi mengacak rambut Kanaya dengan senyum tipis di wajah nya.
__ADS_1
"Hooh." Kanaya pun mengangguk bahagia.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kantor dan segera menuju ruangan mereka walaupun banyak mata yang menatap mereka seakan mereka berdua tidak perduli. Sesampainya di ruangan mereka pun langsung bergelut dengan pekerjaan masing-masing.
.
.
.
Sementara Ayu yang baru saja selesai mengambil almamater dan mengurus semua urusan nya rencananya ingin melihat-lihat fakultas nya.
Dia pun berjalan mengelilingi sekitar sembari menunggu Amora dan Miko menjemput nya.
"Mahasiswa baru ya?" Tiba-tiba sebuah suara berat mengangetkan Ayu.
"Ehh iya." Jawab ayu sambil tersenyum sembari melihat ke sumber suara.
" Hmmm fakultas ekonomi juga?" Tanya nya.
"Iya, kamu?" Ayu balik bertanya.
"Iya aku juga mahasiswa baru, sama seperti kamu." Jawab sang pria.
"Fakultas ini juga?" Tanya ayu lagi.
"Iya."
"Wahh senang aku bisa kenal sama teman se fakultas. Nama kamu siapa?" Ayu langsung menyodorkan tangan nya untuk berkenalan.
"Namaku Steven, kamu?" Tanya pria sambil membalas jabatan tangan Ayu.
"Namaku Ayu." Jawab ayu lagi.
"Ayu buru-buru?" Tanya Steven lagi.
"Tidak sih, aku lagi menunggu di jemput." Jawab Ayu.
"Mau tidak sembari menunggu di jemput kita mengobrol di kantin bawah, sembari bahas soal kampus biar kamu tidak bosan juga menunggu." Ajak Steven.
"Wahh boleh tuh." Jawab ayu.
Mereka pun akhirnya berjalan menuruni tangga menuju kantin yang ada di fakultas itu.
Sesampainya di kantin mereka memesan minuman dan cemilan. Sembari menunggu pesanan nya Mereka pun mulai banyak mengobrol seputar kampus, dan beberapa pengetahuan dan ilmu umum. Namun entah kenapa obrolan mereka teras begitu nyambung.
Ayu sesekali menatap wajah pria yang ada di sebelah nya. Dia terlihat begitu manis dengan kulit putih bersih dan badan mungil serta imut-imut.
Ayu juga merasa heran kenapa Steven begitu pintar dan tau banyak hal tentang jurusan mereka.
Sama hal dengan Ayu Steven juga merasa takjub melihat wawasan ayu yang begitu luas. Sebenarnya Steven bukan mahasiswa lagi di fakultas itu melainkan dosen muda. Saat Ayu dan Amora serta Sovi ke sini untuk mendaftar Ayu beberapa hari yang lalu. Steven yang kebetulan ada urusan ke kampus tak sengaja melihat ayu dari kejauhan dan dia merasa terpesona melihat ayu pada panda pertama.
Namun sepertinya takdir berpihak kepadanya hari ini pun Steven yang awalnya tidak sengaja melihat ayu lagi akhirnya memutuskan untuk mengajak wanita yang berhasil membuat hatinya berdebar pada pandangan pertama itu untuk berkenalan.
__ADS_1
Cukup lama Steven memperhatikan Ayu dari kejauhan Namun karena Steven sudah tidak dapat menahan rasa ingin mengenal ayu akhirnya dia pun memutuskan untuk menghampiri Ayu. Namun karena tidak mau ayu merasa canggung kepada nya akhirnya Steven mengaku bahwa dirinya mahasiswa baru juga di sini. Apalagi face nya yang mendukung dia yakin ayu akan percaya.
Cukup lama mereka berbincang bahkan sampai tukaran nomor ponsel. Akhirnya Amora menelepon ayu mengabari bahwa mereka sudah berada di depan kampus Ayu. Ayu pun pamit kepada Steven untuk pulang.