
Se pulang nya dari kantor Ravi pun mandi dan merenungkan keadaan yang ada. Dia memang merasakan kalau keadaan nya benar-benar kacau sekarang.
"Tidak bisa, aku tidak bisa begini terus aku harus ngomong sama Ayu." Batin Ravi yang Langsung membulatkan tekad nya.
"Aku tidak mau kejadian Amora terulang dua kali, dan aku kehilangan orang yang ku sayangi hanya karena gengsi." Sambung nya lagi.
Ravi pun keluar dari kamar nya untuk mencari Ayu dan berniat mengajak Ayu untuk mengobrol. Namun sepertinya Dewi portuna sedang tidak berpihak kepada Ravi. Ayu Sedang asyik menyiapkan makan malam untuk keluarga bersama Sovi di dapur.
"Arghh,,, kenapa sih mama harus di dapur juga." Guman Ravi.
Akhirnya mau tidak mau Ravi pun menghampiri mereka ke dapur, sekedar ingin menatap wajah manis Ayu.
"Malam ini kita makan apa ma?" Tanya Ravi saat dia sudah berada di hadapan keduanya.
"Ehh Ravi, ini nih ada beberapa macam menu di masak sama Ayu." Jelas Sovi sambil menunjuk menu yang sudah tersedia di atas meja.
"Wahh seperti nya enak semua tuh ma." Sambung Ravi.
"Iya mama juga tidak menyangka bahwa ternyata Ayu jago masak." Jawab sovi.
"Ahh ibu bisa saja." Jawab ayu yang meneruskan pekerjaan nya namun dia selalu menghindari kontak mata dengan Ravi.
Setelah makanan siap dan di angkat ke meja makan sekeluarga itu pun makan malam bersama. Ravi sedari tadi tidak fokus makan karena tatapan nya selalu kepada Ayu yang kebetulan duduk di hadapannya. Namun seakan tidak menyadari tatapan Ravi ayu terus melanjutkan makan nya.
Setelah selesai makan, Ayu pun membereskan piring-piring dan kemudian membersihkan meja makan, tak lupa dia juga mencuci piring-piring kotor itu.
Sementara Amora dan Miko sudah lebih dulu ke kamar mereka agar Amora makan vitamin dan istirahat. Sementara Sovi dan Sean juga ikut masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"Mau kakak bantu yu?" Tawar Ravi yang menghampiri ayu di wastafel tempat cuci piring.
"Tidak perlu kak, terimakasih." Jawab Ayu yang meneruskan pekerjaan nya.
"Yu, kenapa sih seakan kamu menghindar terus dari kakak?" Kini Ravi menggenggam pergelangan tangan Ayu.
"Lepas."ayu menghentak tangan nya sehingga karena licin oleh sabun akhirnya tangan ayu bisa lepas dari genggaman Ravi.
"Yu, kamu marah sama kakak?" Ravi semakin mendekati ayu.
"Hah, marah untuk apa?" Ayu balik bertanya.
"Iya itu yang ingin kakak tanyakan, kakak ada salah ya sama kamu kok sepertinya dari tadi kamu selalu menghindari kakak Mulu?" Tanya Ravi.
"Tidak kok, lagian apa hak ku marah kepada kakak." Jawab ayu yang membawa piring yang sudah di cuci untuk di lap lalu di susun di rak piring.
"Kamu marah soal yang tadi, kakak juga sakit yu kakak cemburu melihat tatapan si Steven itu kepada kamu." Kini Ravi melepaskan kemarahan yang sudah tidak dapat di pendam lagi.
"Kamu kenapa sih yu, apa karena hati kamu sudah berpaling kepada si Steven itu?" Tanya Ravi yang terlihat mulai nge gas.
"Kalau pun iya memang nya kenapa?, Tidak ada yang salah kan dengan itu." Kini Ayu juga terpancing emosi.
"Enggak yu, kakak tidak akan pernah setuju kalau kamu sama dia."
"Hah, setuju apa ayu butuh persetujuan kakak untuk masa depan ayu? Kakak itu bukan siapa-siapa ayu." Jawa ayu sambil tersenyum simpul.
"Tapi kakak tau kamu mencintai kakak yu, dan kakak juga demikian kakak sangat mencintai kamu yu."ujar Ravi.
__ADS_1
"Sok tau." Jawab ayu singkat.
"Yu, tatap mata Kakak, jawab kamu mencintai kakak kan? Kakak akan melepaskan Kanaya dan mari kita mulai hubungan yang baru." Ujar Ravi yang memegangi kedua lengan ayu dan membuat Ayu bertatap an dengan nya sambil menatap ayu dalam.
"Apaan sih kak, jadi orang jangan terlalu percaya diri, persetan dengan cinta dan pacaran. Ayu juga sudah janji kok sama kak Amora Ayu tidak akan pacaran selama ayu kuliah. Jadi sepertinya semua omong kosong kakak itu tidak ada gunanya untuk ayu."
"Ohh iya satu lagi, mulai detik ini hilangkan semua perasaan apapun itu yang ada di hati kakak untuk ayu. Karena sebenarnya Ayu juga cuman bercanda dari kemaren sama kakak. Dan jika pun ayu ingin pacaran bukan kakak yang akan ayu pilih. Hmmm Dan satu lagi sayangi lah kak Kanaya setulus mungkin. Karena tidak akan ada wanita seperti kak Kanaya lagi." Sambung Ayu yang pergi meninggalkan Ravi.
"Maafkan Ayu kak, tapi memang kakak lebih baik sama kak Kanaya, perbedaan kita terlalu jauh. Bagaikan langit dan bumi." Batin Ayu yang berjalan menuju kamar nya.
Sesampainya di kamar nya ayu hanya bisa menangis sesenggukan di kamar mandi. Hatinya begitu sakit belum lagi dia mengingat betapa mesranya Ravi sama Kanaya tadi di restoran. Lalau mengingat bagaimana dia dan Ravi menghabiskan beberapa waktu yang lalu dengan penuh cinta. Ayu memang sudah jatuh cinta kepada Ravi bahkan sangat-sangat mencintai Ravi namun dia juga harus sadar diri dia siapa dan Ravi siapa.
Belum lagi kini ada Kanaya orang yang akan tersakiti jika Ayu memaksakan diri untuk tetap bersama dengan Ravi.
Karena sudah lelah menangis akhirnya Ayu memutuskan untuk sholat untuk menenangkan pikiran nya.
.
.
.
Sementara di dapur Ravi masih terdiam mencoba mencerna satu demi satu kata-kata Ayu tadi. Dia memang selalu gagal dalam urusan percintaan. Namun kini dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Kalau dia melepaskan kanaya maka dia akan mengingkari janji nya kepada Kanaya. Karena beberapa waktu yang lalu saat Ravi sudah tau masa lalu Kanaya Ravi sempat berjanji akan selalu berada di sisi Kanaya bahkan dia berjanji akan menerima semua masa lalu Kanaya dan akan menikahi Kanaya.
Namun tanpa di sadari kedatangan Ayu merubah semua nya. Perasaan Ravi kini berubah. Hatinya berpaling dari Kanaya.
Karena tidak menemukan jawaban untuk masalah nya akhirnya Ravi pun memutuskan untuk ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaannya dan melepaskan sedikit beban pikirannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, aku mencintai dua orang sekaligus dalam satu waktu, dan aku tidak ingin kehilangan kedua nya." Batin Ravi yang duduk di kursi nya.
Waktu pun terus berlalu dan kini sudah larut malam Ravi yang merasa kelelahan akhirnya ketiduran di ruang kerja nya.