
Setelah selesai makan mereka pun mengobrol santai di sofa ruang tamu bersama. Dan setelah beberapa jam kemudian Kanaya pun pamit pulang karena Mesya menyuruhnya menjemput dirinya karena acara Mesya sudah selesai.
Sepulang nya Kanaya mereka pun masih mengobrol tiba-tiba Sovi ingat tentang kedatangan Ana tadi.
"Ohh iya tadi sore Tante kamu datang ke sini Amora." Ujar Sovi.
"Tante Ana maksud mama?" Tanya Amora yang sedikit kaget.
"Hmmm," sovi mengangguk.
"Mau ngapain lagi wanita iblis itu kemari ma? Kenapa mama tidak panggil miko? Miko ingin memberinya pelajaran dulu." Tanya Miko yang langsung terpancing emosi setelah mendengar nama Ana.
"Santai Miko, jangan pernah lakukan kekerasan kepada manusia seperti ana. Karena tidak ada gunanya." Ujar Sean.
"Iya pa benar kata papa." Timpal Sovi.
"Lalu apa tujuan dia datang ke sini ma? Apa dia mau minta maaf karena dia telah menyebarkan berita bohong tentang menantu kita?" Tanya Sean yang penasaran.
"Hmmm boro-boro minta maaf pa, dia ke sini mau minta perlindungan." Jawab Sovi.
"Hah, perlindungan buat apa ma?" Tanya Amora.
"Jadi sebenarnya kata dia yang mengendalikan dia dari belakang adalah Elsa dan Tama, dia di paksa dan di ancam menyebarkan berita bohong tentang kamu itu Amora. Tapi ada untung nya juga sih dia ke sini setidaknya kita tau kalau Elsa punya rencana licik ingin menghancurkan nama baik kamu Amora." Jelas sovi.
"Wahh, ternyata belum kapok juga Elsa dan Tama ya, sepertinya kita terlalu santai menghadapi kedua Manusia berhati iblis itu. Sepertinya Miko perlu deh ma pa memberikan peringatan kecil untuk mereka." Ujar Miko yang langsung memiliki ide di otak nya.
"Papa dukung mik, kalau boleh jangan cuman peringatan kecil tapi buat mereka hancur se hancur hancurnya." Dukung Sean yang juga merasa kesal kepada Elsa dan Tama.
"Jadi kali ini permainan mau kamu ambil alih ya mik? Tapi jangan terlalu kejam ya sayang." Kata Sovi yang sedikit takut kalau putra sulung nya itu sudah marah.
"Sebenarnya harus kejam sih ma, kalau mereka sudah berani mengusik ketenangan keluarga Wijaya. Apalagi menyangkut kakak ipar." Tiba-tiba Ravi buka suara.
Ravi yang selama ini tidak terlalu mau ambil pusing dengan urusan begitu di keluarga ini untuk pertama kali nya mendukung kakak nya.
__ADS_1
"Santai kak, kali ini Ravi akan bantu kakak membalas semua kejahatan mereka. Mari kita tunjukkan siapa sebenarnya keluarga Wijaya. Kita harus membuat mereka hancur se hancur-hancur nya. Agar mereka sadar kalau mereka sudah salah pilih lawan." Ujar Ravi mendukung Miko.
"Siap adik tampan ku, mari kita tunjukkan kekuatan kita." Jawab Miko yang semakin bersemangat.
Mereka pun tertawa karena kini kian hari hubungan mereka sudah semakin membaik dan Ravi juga perlahan sudah mulai bisa menerima Amora sebagai kakak ipar nya.
Mereka pun mulia mengobrol tentang banyak hal dan tanpa sadar waktu pun terus berjalan. Karena sudah merasa mengantuk sovi pun akhirnya membubarkan obrolan itu dan menyuruh semua penghuni rumah untuk istirahat.
Semua nya pun masuk ke kamar masing-masing, namun Ravi masih merasakan ada yang kurang.
Ravi yang sebenarnya sedari tadi curi-curi pandang mencari Ayu. Karena semenjak selesai makan malam tadi dia tidak melihat Ayu lagi. Ravi merasa bersalah kepada Ayu soal tadi siang di villa. Entah kenapa untuk sekarang bagi Ravi wajah Ayu adalah candu.
Akhirnya Ravi pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Ayu.
"Tok...tok..tok..." Ayu apa kamu sudah tidur?" Tanya Ravi di balik pintu kamar Ayu.
Ayu yang sedang rebahan di ranjang sedikit kaget mendengar suara Ravi. Segera dia duduk dan mengambil jaket nya karena tadi dia sudah bersiap untuk tidur sehingga hanya menggunakan daster tipis.
"Belum kak, ada apa ya kak?" Sahut Ayu dari dalam kamar tidur nya.
"Cklek..." Mau ngomong apa kak?" Tanya ayu yang sudah membuka pintu kamar nya.
Ravi sempat terpana dengan penampilan Ayu, rambut yang di gulung tunggu ke atas. Sehingga menunjukkan leher panjang dan putih ayu. Daster se lutut sehingga mempertontonkan kaki putih mulus nya. Wajah yang mulus tanpa polesan makeup dan semua nya berhasil memperkuat kecantikan ayu yang natural itu.
"Ummm...Kita ngobrol di Taman belakang saja yuk, ga enak berdiri di depan kamar begini." Ajak Ravi yang tersadar dari lamunannya.
Ayu pun menurut dan mengikuti langkah Ravi dari belakang. Mereka pun berjalan ke taman belakang.
"Yu kakak minta maaf ya." Ujar Ravi saat mereka berdua sudah duduk di pinggir kolam berenang.
"Hah, minta maaf untuk apa kak?" Tanya Ayu merasa heran.
"Soal tadi siang, karena kakak kamu juga jadi kena semprot sama mama." Jelas Ravi.
__ADS_1
"Ohh masalah itu, tidak apa-apa kok kak santai saja." Jawab ayu sambil menunjuk kan senyum palsu nya. Hati nya masih terasa nano-nano kepada Ravi semenjak kedatangan Kanaya tadi.
"Kamu tidak marah kan yu? Kakak janji deh ini yang pertama dan terakhir ya, lain kali kalau kita ke mana-mana kakak bakal minta izin dulu ke mama dan papa yu." Ujar Ravi yang merasa tidak tega jika mengingat ekspresi takut ayu tadi siang.
"Tidak apa-apa kak Santai saja, lagian mau ke mana lagi kita kak? Nanti pacar kakak marah lho kalau tau pacar nya jalan sama pembantu nya." Ucap Ayu yang sudah hampir lepas kendali.
Bagaimana tidak di banding kan Ravi ayu masih anak kemaren yang masih labil. Jadi dia dominan tidak bisa mengontrol emosi nya dan tanpa sadar meluapkan nya.
"Yu santai saja, Kanaya bukan orang yang seperti itu dia perempuan yang cukup pengertian kok. Dan satu lagi ini terakhir kali kamu mengucapkan kata seperti itu, kamu sudah kakak anggap sebagai adik sendiri jadi jangan pernah ada lagi kata pembantu dan lain-lain ya." Ujar Ravi.
"Sadar Ayu sadar hanya di anggap sebagai adik, lihat lah betapa kak Ravi memuji pacar nya." Batin Ayu merasa sesak di dada.
"Ayu kan bicara sesuai kenyataan kak, memang nyatanya ayu pembantu kan di rumah ini." Jawab Ayu.
"Tidak ada yang menganggap kamu pembantu di Rumah ini yu, kami semua menganggap kamu bagian dari keluarga ini. Jadi stop bilang kalau kamu pembantu dan lain-lain ya." Jelas Ravi lagi.
"Kak, kakak pasti sayang banget kan sama kak Kanaya, secara kak Kanaya cantik, pintar, anak orang kaya, bodygoals lagi." Tanya Ayu memastikan rasa sakit nya.
"Ayu, sudah lah kenapa jadi bahas Kanaya sih?" Tanya Ravi.
"Iya Ayu hanya terpesona aja sama kak Kanaya, seperti nya dia wanita yang cukup sempurna, Ayu merasa inseciure melihat kak Kanaya.." Jawab Ayu.
"Ayu kamu juga cantik bahkan cantik sekali, tidak ada manusia yang sempurna semua manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan pernah merasa inseciure ya." Ravi mencoba menenangkan Ayu.
"Iya kak...tapi kan." Belum sempat Ayu melanjutkan kata-katanya
"Tring...tring...tring..." Tiba-tiba ponsel Ravi berdering di saku celananya.
"Bentar ya yu." Ujar Ravi saat melihat nama Kanaya di layar ponsel nya.
Ravi pun segera berjalan agak menjauh dari Ayu untuk menjawab panggilan video dari pacar nya itu. Dia tidak mau kalau sampai Kanaya salah paham kalau tau dia dan ayu duduk berdua di pinggir kolam malam-malam begini.
Sementara Ayu hanya bisa menapak punggung Ravi yang semakin jauh dari nya. Sama seperti hubungan mereka yang semakin tidak bisa di gapai.
__ADS_1
"Ayu kamu kenapa sih hah? Kaka Ravi itu hanya menganggap kamu adik nya tidak lebih. Jangan hanya karena di perlakukan baik kamu jadi nyaman yu. Sadar kamu siapa dan dia siapa. Yok fokus yu ke cita-cita kamu." Batin Ayu menguatkan dirinya sendiri.
Setelah lelah bertengkar dengan hati dan pikirannya akhirnya Ayu memutuskan masuk ke dalam rumah karena sudah sangat larut malam dan Ravi pun sudah membucin di kamar nya.