Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Penolong


__ADS_3

Setelah Sean dan Sovi selesai mandi mereka pun berangkat ke bandara, sementara Amora yang awalnya ingin ikut ke bandara mengantarkan kedua mertuanya itu di larang oleh Sovi.


Karena tidak ingin membatah mertuanya akhirnya Amora pun menurut dan akhirnya dia tinggal di rumah.


Sovi dan Sean pun berangkat ke Amerika untuk menyelesaikan urusan mereka di antarkan oleh Paijo ke bandara.


Amora merasa bosan setelah kedua mertuanya berangkat ke bandara dan rumah mereka terasa begitu sepi. Amora pun masuk ke kamar nya dan rebahan di ranjang nya sambil membaca beberapa novel untuk mengusir kebosanan nya sekalian menunggu suami nya pulang.


.


.


.


Sementara di kantor Ravi merasa aneh dengan sikap Kanaya, Kanaya hari ini seakan punya banyak beban pikiran dia bahkan tidak fokus bekerja.


"Aku benar-benar tidak habis pikir kok bisa-bisanya mama punya pikiran begitu, dimana-mana seharusnya seorang ibu itu menuntun anak nya ke jalan yang benar ini kenapa malah menyuruh ku menjadi pelakor sih." Batin Kanaya yang masih belum habis pikir.


"Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan, mama kan orang nya egois dan terlalu memaksa kehendak nya. Bagaimana jika mama bersikeras memaksa ku menjadi perusak rumah tangga nya kak Miko dan kak Amora. Ya kak Miko memang tampan sih tapi aku juga tidak mau berdoa merusak rumah tangga mereka." Sambung nya lagi.


"Kanaya kamu lagi ada masalah ya? Kenapa sedari tadi melamun terus?" Tanya Ravi yang sudah berdiri di depan meja Kanaya dan membungkuk kan badan nya sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter.


"Astaghfirullah, kaget saya pak." Ucap Kanaya yang tersentak dan tersadar dari lamunannya.


"Kamu kira saya setan apa? Kamu jga ngapain sih di jam kerja malah melamun hah?" Tanya Ravi lagi.


"Ahh itu pak, aduh bagaimana ya ceritanya pokoknya saya lagi ada masalah pak." Jawab Kanaya dengan wajah lesu.


"Masalah apa? Percintaan, keuangan, pertemanan atau keluarga?"


"Semuanya pak."


"Wah kamu jangan serakah dong Kanaya, kalau kamu borong semua nanti yang lain ga dapat masalah lho tega kamu?"

__ADS_1


"Idih kagak lucu kali pak ah. Sudah sana bapak kembali saja ke meja bapak. Wajah bapak membuat saya menjadi tidak fokus bekerja." Usir Kanaya sambil mendorong lengan Ravi.


"Heh memang sedari tadi kamu melamun terus ya, dan apa ini berani kamu ngusir saya Kanaya? Ini perusahaan keluarga saya lho dan ini ruangan saya jadi suka-suka saya dong." Protes Ravi.


"Lah siapa yang nanya, bodo amat yang penting ini meja saya Wee. Ahh sudah bapak balik aja ke meja bapak lagi sana." Usir Kanaya sekali lagi sambil tetapi mendorong Ravi.


"Kanaya kamu ya benar-benar deh, saya ke meja kamu karena ini nih berkas-berkas yang harus kamu jadwal kan dan kamu ga usah ke PD an begitu." Ravi pun mengerutkan alis nya.


"Hmm iya iya letakin aja si situ."


"Kanaya serius kamu lagi ada masalah apa sih? Cerita ke saya manatau saya bisa bantu." Tanya Ravi lagi serius.


"Dasar bos kepo, sudah ah bapak balik aja ke meja bapak ga usah sok-sok an jadi pahlawan kesiangan."


"Yasudah orang niat baik mau bantuin kagak mau." Ucap Ravi yang akhirnya kembali ke meja nya dan kembali fokus ke pekerjaan nya.


"Hmm tapi tunggu dulu Kanaya, seperti nya kak Ravi bisa bantu kamu menyelesaikan semua masalah mu deh, tanpa kamu harus jadi pelakor. Kenapa tidak kepikiran dari tadi sih Kanaya ayo kita manfaatkan kesempatan yang ada." Batin Kanaya yang langsung memiliki ide setelah beberapa menit kemudian.


Kanaya pun langsung bersemangat menyelesaikan berkas-berkas yang sudah menumpuk menunggu dirinya.


"Ini pak berkas nya sudah selesai." Ucap Kanaya menyerahkan berkas tadi setelah dia langsung buru-buru menyelesaikan nya.


"Hmm jawab Ravi kembali cuek."


"Pak Ravi, saya boleh minta tolong tidak?" Tanya Kanaya dengan wajah memelas.


"Saya bukan polisi, minta tolong saja ke kantor polisi sana." Jawab Ravi.


"Ihh bapak mah begitu, ini saya serius pak ini masalah kehidupan percintaan saya dan sepertinya saya butuh sekali bantuan bapak."


"Memang nya kalau saya bantu kamu apa yang bisa saya dapatkan?" Tanya Ravi yang menghentikan aktivitas nya dan menatap Kanaya dalam-dalam.


"Hmm apa ya, apa aja deh pak yang bapak mau asalkan bapak mau bantu saya." Ucap Kanaya lagi.

__ADS_1


"Masalah tidak ada yang saya butuhkan dari kamu Kanaya bagaimana dong?"


"Idih sombong banget sih ini si Ravi." Batin Kanaya.


"Hmmm bagus lah, berarti bapak mau menolong saya dengan ikhlas tanpa imbalan ya? Wah pak Ravi memang orang yang dermawan ya."


"Memang nya saya ada bilang kalau saya bersedia menolong kamu hah?"


"Yaelah pak tolong saya pak, sekali ini saja please, ini saya masih minta baik-baik lho


Bagaimana kalau sampai saya meminta nya dengan cara tidak baik bapak mau?" Ancam Kanaya.


"Heh Kanaya jangan macam-macam kamu ya. Memang apa sih yang kamu butuhkan hah?" Tanya Ravi yang akhirnya kepo juga.


"Hmm jadi begini pak Ravi, kemaren kan saya cerita ke bapak kalau saya putus dengan pacar saya karena mama saya tidak setuju karena alasan keluarga kami tidak se level. Nah sebenarnya mama saya masih ada alasan lain sih kenapa dia menyuruh saya memutuskan pacar saya karena dia mau saya menikah dengan pria pilihan nya. Cuman masalah nya pria itu sudah menikah dan beristri jadi saya tidak mau jadi pelakor namun mama saya seperti fine-fine saja jika saya jadi pelakor." Jelas Kanaya.


"Terus hubungan nya sama saya apa?" Tanya Ravi.


"Nah saya minta tolong ke pak Ravi jadi pacar pura-pura saya biar mama saya tidak memaksa saya menjadi pelakor karena saya yakin kalau saya berpacaran dengan bapak pasti mama saya tidak akan memaksa saya jaid pelakor lagi. Ya pak please bantuin saya bapak harapan sata satu-satunya." Sambung Kanaya.


"Hahaha kamu lagi menyatakan perasaan kamu ke saya? Atau lagi ngajak saya pacaran Kanaya?" Goda Ravi sambil tersenyum.


"Heh tadi saya bilang kan pacaran pura-pura, hanya pura-pura saja pak Ravi Wijaya."


"Maaf Kanaya tapi saya tidak tertarik, ya kalau mau jadi pelakor jaid pelakor saja kalau tidak yasudah tidak perlu, orang tua juga boleh di lawan kok Kanaya kalau memang tidak benar kan tidak selamanya orang tua itu benar." Tolak Ravi.


"Wahh bapak sih tega, masa ga mau bantuin sekretaris sendiri. Lagian ini mah rejeki buat bapak di ajak pacaran sama perempuan se cantik saya, ya walaupun hanya pura-pura sih. Tapi ya pak ya banyak lho pria di luar sana yang ngantri mau jadi pacar saya tapi saya tolak dan bapak saya beri kesempatan dengan cuma-cuma. Ingat pak rejeki ga boleh di tolak lho."


"Maaf ya kanaya tapi saya tidak tertarik, dan ya Ajak saja salah satu dari fans kamu itu untuk di jadikan pacar pura-pura kamu. Awas saya mau ke bawah mau makan siang." Ucap Ravi yang keluar dari ruangan itu dan meninggal kan Kanaya sendiri.


"Ihhh sok jual Mahal banget sih dia, nyesal aku nawarin tadi, tapi cuman dia yang bisa bantu aku. ahhhh liat aja nanti ya aku bakal buat dia yang memohon kepada ku."


"Jadi tadi aku di tolak ya, ahhhh mau di taruh di mana wajah cantik ku ini." Gerut Kanaya yang menahan kesal dan malu.

__ADS_1


__ADS_2