Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Percobaan bunuh diri


__ADS_3

"Tring.... tring..." Ponsel Ravi berbunyi sedari tadi, namun dia masih enggan untuk mengangkat panggilan itu karena dia yakin itu pasti telepon dari mama atau papa nya.


Kini sudah mulai malam, namun Ravi yang malas pulang ke rumah memutuskan untuk menyibukkan diri nya dengan pekerjaan kantor nya. Karena dia yakin Kanaya pasti sudah menceritakan semua ini kepada orang tua nya dan bisa di pastikan orang tua Kanaya pasti sudah menelepon mama dan papa nya Ravi untuk membicarakan soal ini.


Daripada habis di tangan mama dan papa nya Ravi memutuskan untuk menginap di kantor sembari menunggu emosi kedua orang tua nya reda dulu. Sembari berdebat dengan pikiran nya Ravi menatap layar komputer nya ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Cacing-cacing di perut nya pun sudah mulai bernyanyi ria minta di isi.


Karena sudah tidak sanggup lagi dengan nyanyian cacing nya Ravi pun akhirnya memutuskan keluar dari kantor untuk mencari makan malam.


Di matikan nya komputer nya dan di ambil nya jas nya dan bersiap beranjak dari kursi kebesaran nya. Ravi pun mengambil ponsel yang sedari tadi tidak berhenti berdering itu. benar saja hampir semua penghuni rumah menelepon nya ada banyak panggilan tidak terjawab di sana, bahkan ada beberapa pesan.


Namun karena tidak ingin memusingkan pikiran nya Ravi memutuskan untuk tidak membuka ponsel itu. Dia keluar dari ruangan nya lalu menuju lift. Benar saja kantor sudah sangat sepi.


Ravi pun menekan lantai dasar lalu segera ke parkiran dia juga berpikir ingin menginap saja di hotel malam ini untuk sekedar menenangkan pikirannya.


Ravi masuk ke dalam mobil nya dan mulai menyetir mobil nya untuk meninggalkan perusahaan. Namun tiba-tiba ponsel nya yang sudah di silent nya kembali bergetar. Ravi yang menoleh ke layar ponsel melihat ada nama Ayu di layar ponsel nya.


"Citttt..." Tiba-tiba Ravi yang mengemudi dengan kecepatan tinggi menghentikan mobil nya.


Entah kenapa membaca nama Ayu saja pikiran nya langsung tenang.


"Assalamualaikum yu." Ucap Ravi yang langsung menjawab panggilan itu tanpa pikir panjang.


"Waalaikumsalam kak Ravi, kakak di mana? Sedari tadi seisi rumah cariin kakak lho. Ini ibu mau bicara." Ucap Ayu dengan suara bergetar.


"Kamu di mana hah? Kamu mau bunuh anak orang ya?" Tiba-tiba Sovi dengan kemarahan yang sudah membara membentak Ravi.


"Apaan sih ma, Ravi baru saja selesai bekerja dsn pulang dari kantor." Jawab Ravi yang sempat kaget.

__ADS_1


"Se sibuk apa kamu hah? Sampai semua panggilan dan pesan dari kami tidak ada satu pun yang kamu respon?" Cerca Sovi.


"Maaf ma, tadi ponsel Ravi di silent." Bohong Ravi.


"Tidak perlu berbohong Ravi, mama sudah tau kamu siapa. Sekarang kamu harus tanggung jawab." Ucap Sovi ke inti permasalahan.


"Lah tanggung jawab apaan sih ma?" Tanya Ravi kebingungan.


"Masih nanya, apa yang sudah kamu lakukan ke Kanaya hah sampai dia melakukan hal ini Ravi?" Tanya sovi yang memang emosi nya sudah membara.


"Ma, Ravi belum siap untuk pertunangan itu." Jujur Ravi.


"Lalu kenapa kau kemaren bilang siapa, dan kenapa kau mengakhiri hubungan mu dengan Kanaya? Siapa siapa wanita yang sudah merusak hubungan kalian itu hah?" Tanya sovi lagi.


"Hah, Kanaya ma yang mengakhiri nya bukan Ravi." Jawab Ravi membela diri.


"Kamu tau karena ulah kamu hampir saja Kanaya kehilangan nyawa nya, puas kamu sekarang?" Tanya Sovi yang memang merasa malu dengan sikap Ravi.


"Kamu tau karena kamu mengakhiri hubungan mu dengan Kanaya, dan membatalkan pertunangan kalian tadi sore Kanaya mencoba mengakhiri hidup nya dengan meminum racun, untung saja cepat di ketahui oleh Tante Mesya dan secepatnya di tangani oleh dokter kalau tidak bisa-bisa Kanaya kehilangan nyawa nya. Ingat ya Ravi kalau sampai terjadi apa-apa kepada Kanaya mama dan semua nya tidak akan pernah memaafkan kamu." Ucap Sovi yang murka.


"Hah.." Ravi yang kaget mendengar penjelasan sovi tanpa sadar ponsel nya terjatuh dia tidak menyangka bahwa Kanaya bisa melakukan hal sejauh ini.


"Ma.. sekarang Kanaya di rawat di rumah sakit mana ma?" Tanya Ravi yang gugup sambil memungut ponsel nya.


"Di rumah sakit Xx, segera kamu ke sini kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu." Titah sovi.


"Ba...baik ma Ravi segera ke sana." Jawab Ravi yang langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat Kanaya di rawat.


Sampai-sampai Ravi kelupaan mematikan panggilan suara mereka dan saat ponsel di serahkan oleh sovi kepada ayu ayu mendengar dengan jelas kencang nya mobil yang di kemudikan oleh Ravi.

__ADS_1


"Sebegitu khawatir nya kakak sama kak Kanaya, hati-hati di jalan kak." Batin Ayu yang entah kenapa merasa cemburu.


Akhirnya Ayu pun mengakhiri panggilan itu.


"Kanaya kenapa pikiran kamu se pendek itu sih, jangan sampai kenapa-kenapa Kanaya kalau tidak aku sendiri tidak akan pernah bisa memanfaatkan diriku sendiri." Batin Ravi yang merasa menyesal.


Ravi menyesal tadi tidak mencegah Kanaya pergi bahkan mengabaikan panggilan dari Kanaya dan semua keluarga nya tadi.


Dia pun tancap gas dengan keadaan penuh kepanikan.


Beberapa menit kemudian Ravi pun sampai di rumah sakit tersebut setelah memarkirkan mobil dia Langsung berlari ke ruangan tempat Kanaya di rawat. Dari jauh Ravi melihat papa dan mama nya serta Ayu sedang duduk di ruang tunggu, sedang kan Mesya mama nya Kanaya sedang menangis di pelukan papa Kanaya.


"Ma bagaimana keadaan Kanaya?" Tanya Ravi dengan wajah penuh dengan kepanikan.


"Plak..." Satu tamparan mendarat di pipi Ravi.


"Mama benar-benar kecewa sama kamu Ravi." Ucap Sovi.


"Ma tahan dulu ma, jangan marah-marah di sini." Sean mencoba menenangkan Sovi.


"Ma, Ravi tanya bagaimana keadaan Kanaya ma." Tanya Ravi dengan suara meninggi.


"Tenang dulu Ravi, kita tunggu saja dokter ya." Ucap Sean menenangkan semua nya.


"Arghh.."Ravi mengacak rambut nya frustasi dia benar-benar merasa menyesal.


"Cklek..." Beberapa menit kemudian sang dokter pun keluar dari ruangan Kanaya. Dan dia menjelaskan bahwa Setelah penanganan kegawatdaruratan sudah selesai dilakukan dan kondisi pasien sudah stabil mereka semua pun tersenyum dan mengucap syukur.


setelah di izin kan oleh sang dokter mereka masuk ke dalam ruangan Kanaya untuk melihat kondisi Kanaya.

__ADS_1


Ravi hanya bisa menatap Kanaya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. dia tidak sanggup berbicara apapun hanya rasa bersalah yang ada di hati nya.


Tanpa Ravi sadari Ayu juga merasa sakit melihat kondisi ini melihat Ravi begitu rapuh.


__ADS_2