
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Sakit kamu?" Tanya Mesya kepada putri semata wayangnya itu saat mereka sedang sarapan di meja makan.
"Hah tidak kok ma," Kanaya hanya tersenyum kecil melihat ekspresi heran mama nya itu.
"Kamu belum berangkat ke kantor Kanaya? Bukan kah biasanya jam segini kamu udah berangkat, ini kok masih santai menikmati sarapan mu?" Tanya Mesya lagi.
"Nunggu jemputan ma."
"Hah nunggu jemputan? Sejak kapan kamu punya jemputan Kanaya?" Tanya Mesya keheranan.
"Sejak hari ini."
"Tin..tin..tin." Tiba-tiba suara klakson mobil Ravi mengalihkan perhatian seisi rumah.
"Pak tolong bukain gerbang nya." Teriak Kanaya dari dalam rumah kepada pak Udin yang sedang menyiram tanaman.
"Baik nyonya." Jawab pak Udin yang langsung bergegas.
"Ahh akhirnya kesayangan aku datang juga." Ucap Kanaya memanas-manasi mama nya.
Kanaya langsung beranjak dari meja makan menuju sofa ruang tamu sambil menunggu kedatangan Ravi, yang di ikuti oleh Mesya Karena rasa penasaran nya.
"Siapa dia Kanaya?" Tanya Mesya yang memang belum pernah melihat mobil Ravi.
"Pacar Kanaya ma." Jawab Kanaya polos.
"Pacar? Gila kamu ya Kanaya?" Mesya semakin heran melihat putrinya itu.
"Lho kok gila sih ma?"
"Assalamualaikum." Ravi langsung mengalihkan perhatian Mesya.
"Waalaikumsalam." Jawab Mesya yang langsung memutar badan ke arah Ravi.
"Ravi....?" Hanya itu yang dapat Mesya ucapkan sambil mengerutkan keningnya.
"Selamat pagi Tante, saya datang ke sini mau jemput Kanaya berangkat ke kantor." Ucap Ravi sambil sungkem ke Mesya.
"Ehh iya Ravi." Mesya masih gagal fokus kok bisa Ravi yang menjadi pacar Kanaya bukan Miko.
"Yasudah yuk sayang, kita langsung berangkat saja nanti telat lho." Ajak Kanaya yang mengambil tas nya dan menggandeng Ravi.
"Ma kita berangkat dulu ya." Pamit Kanaya kepada Mesya.
Sementara Ravi masih sedikit syok karena di panggil sayang oleh Kanaya dan di gandeng Kanaya, bahkan badan kanaya menempel ke badan Ravi sehingga yang kenyal-kenyal menggoda pun tidak sengaja tersentuh oleh lengan Ravi. Mungkin Kanaya tidak menyadari nya namun Ravi merasakan nya dan membuat nya sesak nafas.
"Ohh iya iya kalian hati-hati ya." Ucap Mesya saat Ravi berdehem menghilangkan rasa gugupnya.
"Iya Tante, kalau begitu kami pamit dulu ya." Pamit Ravi mencoba bersikap normal.
Kanaya dan Ravi pun keluar dari rumah Kanaya sementara Mesya masih mematung di depan pintu.
__ADS_1
" Pak nanti bukain pintu mobil buat aku ya biar kelihatan Romantis di depan mama." Bisik Kanaya kepada Ravi.
"Hah iya-iya." Jawab Ravi yang seperti kerbau cucuk hidung nya menurut saja.
Sesampainya di mobil Ravi langsung membukakan pintu mobil untuk Kanaya dan setelah Kanaya masuk ke dalam mobil Ravi pun menutup pintu dan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil.
Mereka pun melaju meninggalkan rumah Kanaya.
"Huh akhirnya, aku ga nyangka lho ekspresi mama bisa se kaget itu saat tau pacar ku itu pak Ravi. Ahh aku jadi ga sabar deh nanti pulang kantor apa ya reaksi mama, makasih ya pak sudah mau bantuin saya." Ucap Kanaya masih tersenyum geli melihat ekspresi kaget mama nya.
"Ahh iya Kanaya sama-sama." Jawab Ravi gugup.
"Pak Ravi sakit?" Tanya Kanaya.
"Tidak kok, saya baik-baik saja."
"Tapi kok pipi pak Ravi merah?"coba saya cek dulu." Ucap Kanaya yang spontan menempelkan telapak tangan nya di dahi Ravi.
"Ohh ini kepanasan, iya ini kepanasan, gerah Kanaya." Jawab Ravi gugup sambil pura-pura mengibas ia kerah jas nya.
"Iya tidak panas kok." AC nya nyala kok coba jas nya di buka saja dulu pak." Saran Kanaya.
"Tidak apa-apa kok Kanaya santai saja."
"Hmmm, tapi kok pak Ravi tidak mau menatap ku ya dan lebih fokus ke jalan." Batin Kanaya yang melihat Ravi membuang napas agak berat.
"Oh iya Kanaya memang nya siapa sih yang ingin kau incar, maksudnya Tante Mesya menyuruh kamu merusak rumah tangga siapa?" Tanya Ravi yang tidak ingin memutuskan obrolan di antara mereka.
"Ahh anu ada pak, saya bilang juga saya yakin pak Ravi tidak akan kenal." Jawab Kanaya gugup.
"Sudah lah pak itu tidak penting, yang terpenting sekarang bapak bantu saya saja menjadi pacar pura-pura saya di depan mama dan papa nanti nya ya." Ucap Kanaya mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm baiklah kanaya." Jawab Ravi yang kembali fokus menyetir mobil.
"Maafkan aku kak Ravi, kalau sampai aku bilang rumah tangga kakak mu lah uang ingin aku rusak aku yakin kau akan memecat ku detik ini juga. Atau mungkin kau akan membenci ku dan tidak akan membiarkan ku hidup tenang." Batin Kanaya yang memang tau seberapa besar sayang Ravi kepada Miko.
"Ehh Pak Ravi sebelumnya sudah pernah pacaran belum?" Tanya Kanaya tiba-tiba.
"Hah pacaran? Saya tidak punya waktu untuk itu Kanaya." Jawab Ravi sok cool.
"Ye pacaran juga penting kali pak, jangan kerja Mulu."
"Nanti saja Kanaya Saya masih punya banyak pekerjaan yang jauh lebih penting dari pacaran."
"Ohh begitu, berati pak Ravi belum pernah merasakan ciuman dong?" Tanya Kanaya spontan tanpa rasa malu.
"Apaan sih kamu Kanaya?" Wajah Ravi langsung merah padam.
"Ngaku aja deh pak pasti belum pernah kan ngerasain ciuman dan lain sebaginya?" Tantang Kanaya lagi.
"Sok tau kamu, saya sudah pernah merasa Kam semua nya. Apa kamu pikir hanya orang pacaran saja bisa merasakan itu semuanya? Ingat Kanaya dengan uang saya saya bisa membeli semuanya." Bohong Ravi.
__ADS_1
"Wah benar kah? Kalau begitu saya mau turundi sini saja pak." Pinta Kanya tiba-tiba.
"Lho kantor kan masih jauh dari sini Kanaya kenapa kamu minta turun di sini?" Tanya Ravi keheranan.
"Ya tidak apa-apa saya mau turun di sini, tolong hentikan mobil nya pak Ravi." Pinta Kanaya ulang.
"Tapi Kanaya..."
"Berhenti pak, atau saya lompat?" Ancam Kanaya.
"Iya, iya, kamu kenapa sih Kanaya? Apa saya salah bicara?" Tanya Ravi keheranan tapi tetap menepikan mobil nya.
"Sudah sekarang kamu mau apa Kanaya?" Tanya Ravi setelah mobil sudah berhenti.
Tiba-tiba Kanaya membuka seat belt nya dan langsung menurunkan kursi Ravi sehingga Ravi sedikit terlentang.
"Kanaya kamu mau ngapain? Katanya tadi mau turun di sini?" Tanya Ravi gugup.
"Kaca mobil nya tidak tembus pandang kan?" Tanya Kanaya lagi.
"Hah kaca mobil? Ti..tidak kok." Jawab Ravi semakin gugup.
"Baiklah sayang, tunjukkan kepada ku jika kau memang sudah pernah melakukan nya." Ucap Kanaya yang tiba-tiba naik ke pangkuan Ravi dan tersenyum seakan ingin memakan Ravi.
"Ka.. Kanaya kamu mau ngapain hah? Ini jalan raya lho."
"Tenang pak, bukan kah kata pak Ravi kaca mobil nya tidak tembus pandang artinya tidak ada yang melihat kita dari luar dan jalan ini lumayan sepi kok."
"Tapi kamu mau ngapain Kanaya?"
"Aku hanya ingin tau apa kata-kata bapak tadi benar atau tidak." Jawab Kanaya sambil menempelkan jari telunjuk nya di dada Ravi yang masih terbungkus kemeja setelah menyingkirkan jas nya. Lalu Kanaya mulai menjelajahi nya dengan jari telunjuk itu.
Sampai ke leher dan ke bibir.
"Kanaya kamu mau ngapain hah?" Tanya Ravi namu Tidak juga menghindar.
"Cup." tiba-tiba Kanaya mengecup bibir mungil Ravi.
"Ini yang aku inginkan selama ini," ucap Kanaya tersenyum.
"Kanaya ciuman pertama ku." teriak Ravi tanpa sadar.
"Hahaha akhirnya kau mengaku juga pak Ravi." tawa Kanaya.
Kanaya pun turun dari pangkuan Ravi, namun Ravi masih sesak nafas karena gesekan dari Kanaya membuat junior nya berdiri, belum lagi tadi yang kenyal-kenyal kembali menempel di dada nya.
"Ayo jalan, kita hampir telat lho." ucap Kanaya tanpa rasa bersalah sambil memasang seat belt nya.
"Kanaya kamu kok lancang banget sih, berani-beraninya."
"cup.." satu kecupan kembali mendarat di pipi Ravi.
__ADS_1
"kalau masih protes aku bisa melakukan lebih lagi, ayo jalan kita harus ke kantor." ajak Kanaya.
Ravi pun hanya bisa pasrah, entah lah sekarang perasaan nya campur aduk. setelah memperbaiki kursi duduk nya mobil pun kembali melaju menuju kantor.