
Pagi harinya paman Hong membuat seorang pelayan menuruti perintah darinya untuk memasukkan ramuan sihirnya pada makanan dan minuman yang akan Jin hu makan untuk sarapan pagi. Dia tidak menggunakan trik menyogok untuk pelayan itu. Paman Hong menggunakan sihir pengendalian pikiran.
"Bagaimana?" tanya paman Hong pada pelayan yang sudah kembali ke kediaman tempatnya saat ini.
"Sudah saya lakukan tuan." saut pelayan itu.
"Bagus." ucap paman Hong dengan senyum picik di bibirnya.
Paman Hong lalu melepaskan pengaruh sihirnya dari pelayan itu dan membuat pelayan itu tidak mengingat apapun yang terjadi dan yang dia lakukan sebelumnya.
"Tok tok tok." suara ketukan terdengar di pintu.
"Yang mulia tuan Jin hu menunggu Raja Kai dan yang lainnya di ruang perjamuan istana." ucap seorang pelayan.
"Baik kami akan segera ke sana." ucap paman Hong.
Pelayan itu menunduk hormat lalu pergi dari tempat itu. Paman Hong menutup pintu lalu berjalan masuk ke dalam untuk memanggil yang lainnya.
"Kita sudah dipanggil untuk ikut sarapan." ucap paman Hong.
"Baik, tapi bagaimana dengan ramuan sihir itu paman Hong?" tanya putri Rou ruan.
"Aku sudah berhasil membuat seorang pelayan memasukkan itu ke dalam makanan untuk Jin hu tuan putri." jawab paman Hong.
"Kalau begitu, ayo kita lihat langkah keberhasilan kita. Aku sudah tidak sabar untuk bisa memiliki kak Jin hu sebagai pendampingku." ajak putri Rou ruan penuh semangat.
"Sabar tuan putri, tidak baik menunjukkan bahwa kita sangat bersemangat di hadapan mereka." ucap paman Hong.
"Paman Hong benar Ruan ruan, mereka dapat curiga dengan rencana kita jika kita terlalu bersemangat." saut Raja Kai.
"Iya ayahanda." saut putri Rou ruan.
Sedangkan pengawal pribadi Raja Kai hanya diam untuk menyimak saja. Karena tidak pantas untuk dirinya berbicara dengan 3 orang itu tanpa diberi perintah untuk itu. Itu adalah aturan yang berlaku dalam kerajaan Kai. Pengawal, prajurit terutama pelayan tidak pantas untuk mengutarakan pendapat dan mengeluarkan suara tanpa perintah dari orang yang memiliki kedudukan tinggi jika tidak, mati atau setidaknya kehilangan kemampuan untuk berbicara adalah hukuman yang berlaku.
...----------------...
Ze dan yang lain sudah hampir tiba di negeri atas awan. Itu karena kuda naga terbang yang menggunakan kecepatan penuhnya. Ze duduk di depan tempat biasanya Liu yu dan Wen yuan duduk karena merasa jenuh di dalam kereta.
__ADS_1
"Sen sen berhenti." seru Ze.
Kuda naga terbang yang hanya mendengar kata berhenti dari Ze segera berhenti. Hui tu yang terkejut karena kereta yang berhenti mendadak menengok ke luar.
"Ada apa dan siapa Sen sen?" tanya Hui tu.
"Di bawah sana sepertinya telah terjadi sesuatu." jawab Ze menunjuk ke bawah karena mereka saat ini sedang berada di udara.
"Sen sen siapa?" tanya Hui tu lagi.
Ze menunjuk kuda naga terbang sambil tersenyum. Hui tu menggeleng kepala melihat kelakuan Ze.
"Ada-ada saja nama yang kau berikan pada para mahluk roh itu. Untung Ular api tidak mendapatkan nama aneh-aneh darimu juga." ucap Hui tu.
"Kuda naga terbang terlalu panjang untuk disebutkan. Sen sen terdengar lebih baik." ucap Ze lalu kembali menatap ke bawah.
"Bukankah dibawah sana adalah Desa Sen?" tanya Hui tu yang ikut menatap ke desa di bawah mereka.
"Hm, karena itu aku terpikir untuk menggunakan nama sen sen untuk panggilan kuda naga terbang." jawab Ze.
"Sepertinya memang ada yang aneh." ucap Hui tu.
"Apakah ini ulah pengikut iblis lainnya?" tanya ceri emas yang ikut melihat dari jendela kereta.
"Entah, kita baru bisa tahu setelah melihat langsung apa yang terjadi di bawah sana." jawab Ze.
"Apakah tidak masalah menunda kembali ke istana atas awan nyonya?" tanya ceri emas.
"Iya, bukankah kau sendiri yang katakan bahwa kau tidak bisa terlalu lama meninggalkan Jin hu?" tanya Hui tu.
"Kita lihat saja dulu. Apakah ada masalah atau tidak dan apakah dapat kita tangani segera atau tidak. Jika dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat kita tangani tapi jika tidak, kita terus dulu ke istana atas awan untuk melihat kondisi segel dalam tubuh Jin hu dan memperbarui segelku dalam tubuhnya. Setelah itu kita kembali ke desa ini untuk membantu para penduduk." saran Ze.
"Ide bagus, aku setuju kalau seperti itu. Lagi pula kita tidak bisa menutup mata atas hal buruk yang menimpa orang lain yang tidak bersalah jika kita memang dapat menolong mereka." saut Hui tu.
"Aku juga setuju dengan anda Nyonya." sakit ceri emas.
"Sen sen bawa kami turun di hutan sebelah sana." ucap Ze sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.
__ADS_1
Kuda naga terbang atau sen sen membawa mereka ke tempat yang Ze maksud. Mereka segera turun dari kereta. Ze memasukkan Sen sen beserta keretanya ke dalam batu dimensi takut jika ada yang menemukannya di sana saat di tinggalkan karena tidak mungkin untuk membawanya serta karena akan mudah ketahuan.
"Kita berpencar saja agar lebih cepat mendapatkan apa yang ingin kita ketahui. Dalam waktu setengah dupa walaupun tidak mendapatkan berita apapun, kita harus berkumpul kembali di tempat ini." ucap Ze.
"Itu lebih baik." saut Hui tu.
"Aku juga setuju." saut ceri emas.
"Ingat untuk berhati-hati karena kita belum tahu apa yang akan kita hadapi di desa ini." ucap Ze dijawab anggukan kepala oleh Hui tu dan ceri emas.
Mereka segera berpencar masuk ke dalam desa Sen yang menurut mereka sangat aneh itu. Setelah cukup lama mereka berpencar, mereka tidak menemukan apapun dan yang aneh adalah tidak ada siapapun di dalam desa.
"Aku tidak menemukan apapun bahkan tidak ada seorangpun yang dapat aku temukan." ucap Hui tu setelah mereka berkumpul kembali setelah waktu yang ditentukan telah tiba.
"Anehnya lagi bahkan seekor lalat pun tidak ada di dalam desa itu." saut ceri emas.
"Kita kembali saja ke istana atas awan lebih dulu. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika kita tidak segera pergi dari tempat ini." ucap Ze.
Mereka akhirnya kembali terbang dan setelah mereka berada di atas udara, asap hitam tebal menyelimuti desa itu.
"Asap apa itu?" tanya ceri emas.
"Aku tidak tahu tapi, sepertinya sangat berbahaya karena aku merasakan aura kegelapan dan perasaan mencekam yang sangat kuat dari kabut itu." jawab Ze.
"Itu adalah kabut pelahap. Mahluk hidup apapun yang dilewatinya akan hilang tanpa jejak." jawab Hui tu.
"Dari mana asalnya?" tanya Ze.
"Aku juga tidak tahu karena aku hanya pernah mendengar tentang kabut itu dan baru kali ini aku dapat melihat langsung bentuknya." jawab Hui tu.
"Sepertinya aku harus bertanya pada Silla tentang kabut pelahap dan cara menanganinya." ucap Ze.
"Ayo kembali dulu ke istana atas awan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk saat ini di desa ini." putus Ze.
...----------------...
Di istana Jin hu dan yang lainnya termasuk Raja Kai dan kelompoknya sudah berada di ruang perjamuan. Mereka bersiap untuk makan bersama sebelum mengantar kepergian Raja Kai.
__ADS_1
Raja Kai dan putri Rou ruan sesekali melirik ke arah Jin hu berharap Jin hu segera memakan makanannya. Sedangkan paman Hong sibuk menatap ke arah Mei yin yang membuat dia tertarik pada pandangan pertama. Tatapan paman Hong membuat Mei yin merasa risih.
Jin hu sudah bersiap mengangkat makanan di dalam sendok agar masuk ke dalam mulutnya membuat jantung putri Rou ruan berdetak cepat karena terlalu bersemangat menunggu Jin hu segera melahap makanannya.