Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Kembali berkumpul bersama keluarga


__ADS_3

Ze bersama tuan besar Shi berjalan bersama ke tempat Luo yin dan Mei yin berada sambil berbincang mengenai apa yang Ze lalui selama di luar istana.


"Mengapa kalian baru kembali ke istana ini?" tanya Jeong nam.


"Ada banyak hal yang harus kami urus di luar sana kakek. Setidaknya kami masih menyempatkan diri untuk singgah di atas istana ini bukan?" jawab Ze.


"Singgah? Bukankah kalian sudah kembali? Kau mengucapkan bahwa kalian hanya singgah apakah artinya kalian akan kembali pergi dalam waktu dekat?" tanya Jeong nam.


"Ya, kami masih harus mengurus beberapa hal di luar sana sebelum kak Jin hu kembali memegang penuh perannya di istana ini sebagai pemimpin." jawab Ze.


"Hal penting apa yang membuat kalian harus pergi begitu lama meninggalkan istana?" tanya Jeong nam.


"Setidaknya kami harus mengurus hal kecil sebelum menjadi masalah besar yang menyusahkan kelak." jawab Ze.


"Itu dia ibu dan nenekmu." ucap Jeong nam saat melihat dua wanita kesayangannya itu.


Jeong nam menyuruh Ze bersembunyi di belakangnya untuk memberikan kejutan pada anak dan istrinya yang sedang asik berbincang di sebuah gazebo di depan sana bersama beberapa orang pelayan.


"Khem." dehem Jeong nam.


"Ayah? Sejak kapan ayah di situ?" tanya Mei yin.


"Kau mengejutkan saja." ucap Luo yin.


"Kalian sedang membicarakan apa sampai begitu fokus?" tanya Jeong nam.


"Hingga tidak sadar aku datang." tambahnya.


"Bukan apa-apa, kami hanya berbincang mengenai beberapa hal agar tidak jenuh." jawab Luo yin.


"Aku memiliki kejutan buat kalian berdua." ucap Jeong nam.

__ADS_1


"Apa kejutannya?" tanya Mei yin.


"Mana kejutannya? Awas saja kalau tidak bagus." ucap Luo yin.


"Aku jamin kalian pasti akan suka dengan kejutan ini." ucap Jeong nam.


Mei yin juga Luo yin sudah berdiri di depan Jeong nam tanpa curiga dengan kehadiran Ze di balik tubuh pria tua itu. Karena tubuh Ze yang kecil sedang tubuh tuan besar Shi yang tinggi besar, tubuh Ze dapat tertutupi dengan sempurna dari pandangan orang di depan Jeong nam.


"Jangan banyak teka-teki lagi. Tunjukkan pada kami kejutan itu." ucap Luo yin dengan cemberut.


"Baiklah, baiklah aku tidak akan buang waktu lagi. Jangan cemberut seperti itu sayang. Coba lihat siapa yang baru datang di belakangku." ucap tuan Jeong nam sambil tersenyum dan menggeser sedikit tubuhnya kesamping agar Ze dapat terlihat oleh dua orang itu.


Luo yin masih cemberut dan memalingkan pandangannya karena kesal. Dia langsung kembali menoleh saat Mei yin memekik senang menyebutkan nama yang sangat dia rindu dan khawatirkan.


"Ze.....!" pekik Mei yin lalu segera memeluk tubuh anaknya yang sudah berdiri di depannya.


"Ze sayang.....! Nenek sangat amat rindu sama Ze." ucap Mei yin yang ikut memeluk Ze.


"Aku juga rindu pada kalian semua." ucap Ze yang masih nyaman berada dalam pelukan dua orang wanita yang sangat disayanginya itu.


"Maaf sayang, kami berdua terlalu bersemangat. Ayo kita duduk dulu." ucap Luo yin.


Mereka kembali duduk di gazebo tempat Luo yin dan Mei yin duduk sebelumnya. Para pelayan hanya diam menyaksikan keharmonisan keluarga itu.


"Mengapa kau sangat lama baru kembali?" tanya Luo yin.


"Banyak yang harus di selesaikan di luar sana nek." jawab Ze.


Ze sengaja merahasiakan masalah penyerangan mahluk bawah tanah, masalah keracunan master Tang dan masalah besar yang lain agar mereka tidak terlalu khawatir memikirkan dirinya saat dia pergi lagi nanti.


Mereka berbincang cukup lama di gazebo itu tentang banyak hal. Sedangkan Jin hu sibuk mengurus dan membahas beberapa masalah yang telah terjadi selama dia meninggalkan istana dengan penasehat istana, para tetua, para pejabat juga Juga Ji liu ku.

__ADS_1


Ji liu ku tahu tentang masalah yang terjadi karena dia dipercayakan untuk membantu mengawasi dan menjaga istana oleh Jin hu.


"Apakah ada masalah yang terjadi selain masalah yang kita bahas sebelumnya?" tanya Liu ku pada Jin hu setelah pertemuan selesai dan yang lainnya sudah tidak ada di ruangan itu.


"Mengapa ayah bertanya seperti itu? Apakah aku terlihat seperti orang yang sedang banyak pikiran?" tanya Jin hu balik.


"Aku dapat melihat kalau kau sedang memikirkan sesuatu yang rumit." jawab Liu ku.


"Sebenarnya ada banyak masalah yang telah terjadi selama kami keluar dari istana. Mulai dari masalah penyembah iblis, masalah di kerajaan Beicheng, masalah master Tang yang terluka tapi itu semua telah berhasil diselesaikan dengan baik." jelas Jin hu.


"Lalu?" tanya Liu ku.


Sebenarnya Liu ku bisa saja mencari tahu apa saja dengan membaca pikiran menantunya itu. Hanya saja, dia ingin menghargai menantunya itu dengan mencari tahu saat Jin hu siap untuk memberitahu sendiri masalah yang dia hadapi.


"Saat Ze bertapa dan hendak mencapai tingkat Mulia, beberapa mahluk dunia atas berusaha menyerang kami."


Jin hu menceritakan semua masalah yang terjadi hingga segel yang ada pada tubuhnya dan masalah Ze yang marah padanya.


"Biarkan Ze tenang dulu lalu meminta maaf padanya tanpa menyertakan alasan apapun yang membenarkan apa yang kau lakukan. Biarkan dirimu menjadi orang yang salah dengan begitu, dia setidaknya akan luluh." saran Ji liu ku.


"Wanita paling tidak suka saat orang yang mereka anggap salah tidak mau menerima saat disalahkan atau menerima dianggap salah tapi menggunakan alasan agar kesalahannya dibenarkan. Jika kau ingin masalah tidak semakin membesar, terima kesalahan tanpa harus menyertakan alasan." jelasnya.


"Baik, terima kasih atas sarannya ayah." ucap Jin hu tulus.


Mereka akhirnya kembali ke tempat masing-masing setelah itu. Jin hu kembali ke kamarnya dan ternyata Ze sudah ada di tempat tidur sedang terlelap. Mungkin karena lelah dia tertidur begitu pulas hingga saat Jin hu ikut berbaring di sampingnya dia tidak bergerak sama sekali.


Jin hu hanya tersenyum melihat wajah lelap istrinya itu. Dengan sangat hati-hati Jin hu mengangkat kepala Ze dan menyelipkan tangannya di bawah kepala Ze untuk menjadi bantal.


"Selamat istirahat istriku sayang." ucapnya pelan lalu mengecup singkat kepala Ze.


Paginya Ze bangun lebih awal dan yang menjadi pemandangan awalnya adalah wajah terlelap suaminya.

__ADS_1


"Sejak kapan dia tidur di sini? Aku tidak menyadari kedatangannya semalam." gumam Ze.


"Dasar suami menjengkelkan. Jangan harap bisa lolos dari hukuman setelah ini. Kau harus menerima hukuman berat karena telah mengabaikan keselamatan dirimu sehingga membuat aku khawatir." ucapnya lalu mengangkat pelan tangan Jin hu yang melingkar di perutnya agar dia dapat bangun.


__ADS_2