
"Karena batu dimensi telah memilih dirimu, apakah kau akan mengatakan pada pemuda bernama Ming hui itu dan meminta batu dimensi itu langsung?" tanya Hui tu.
"Dia bukan pemilik asli dari batu dimensi ini dan bahkan nama Ming hui itu juga bukan nama aslinya." ucap Ze.
"Lalu, bagaimana dia memiliki batu dimensi itu dan siapa nama asli dari pemuda itu?" tanya Hui tu.
"Dia memban*ai pemilik batu dimensi ini beserta seluruh keluarga besarnya hanya untuk merebut batu dimensi ini dan berita yang lebih besar adalah nama asli dari Ming hui itu adalah Song yu jiu." jelas Ze membuat Hui tu terbelalak.
"Bukankah itu artinya dia adalah bagian dari orang-orang yang akan menjadi target balas dendam mu selanjutnya?" tanya Hui tu.
"Ya, dan setelah itu terjadi aku akan memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang bermarga song yang hidup di semesta ini." ucap Ze dengan mata menggelap karena emosi yang hampir menguasai dirinya.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan pada Ming hui palsu itu?" tanya Hui tu.
"Untuk sementara aku akan bersabar dan berpura-pura tidak tahu dengan muslihat licik dia untuk mencari tahu siapa orang kuat di belakang keluarga song itu agar aku dapat memikirkan cara untuk menghancurkan mereka beserta orang-orang di belakang mereka." jawab Ze.
"Apakah itu artinya bahwa putri akan menyerahkan batu dimensi itu pada Ming hui palsu itu?" tanya Zili.
"Tentu tidak, aku akan memberikan batu dimensi palsu pada Ming hui palsu. Seimbang dan sangat adil bukan jika seseorang yang palsu memiliki benda yang palsu juga?" jawab Ze.
"Dari mana kau akan mendapatkan batu dimensi palsu itu apakah kau akan menggunakan ilmu ilusi padanya untuk mengelabui matanya?" tanya Hui tu.
"Ilmu ilusi tidak bertahan lama dan dapat dipatahkan oleh beberapa orang tertentu. Lagi pula ilusi hanya akan berpengaruh pada orang yang aku serang saja dan rekannya yang lain tentu tidak akan kena. Tentu cara ini tidak efektif." jawab Ze.
"Lalu?" tanya Hui tu dan Zili bersamaan.
"Lihat ini." Ze memperlihatkan batu dimensi palsu yang dia ambil di danau tadi.
"Apakah ini adalah batu dimensi juga?" tanya Hui tu.
"Ini hanya batu biasa yang mirip dengan batu dimensi. Mereka tidak akan curiga karena mereka tidak dapat merasakan aura dari batu dimensi." jelas Ze.
__ADS_1
"Jenius." puji Hui tu.
"Zili, dapatkah aku memintamu melakukan sesuatu?" tanya Ze.
"Apapun itu putri dapat memintanya dariku." jawab Zili.
"Aku ingin kau terus mengawasi Ming hui palsu itu. Mencari tahu semua yang dia lakukan dan siapa saja yang dia temui saat dia pergi diam-diam dari tempat ini." ucap Ze.
"Dengan senang hati aku akan melakukan itu." saut Zili.
"Biarkan kami saja yang melakukan tugas itu pangeran." ucap Suho dan Dujo yang sedari tadi hanya terdiam menyimak.
"Tidak, kita belum tahu kekuatan dibalik Ming hui palsu itu. Untuk berjaga-jaga harus aku yang turun tangan sendiri agar rencana ini berjalan mulus." tolak Zili.
"Tapi.... "
"Kalian dapat menjaga pangeran kalian ini dari jarak jauh namun dapat kalian jangkau untuk dibantu saat dia membutuhkan bantuan." saran Ze.
"Kalau seperti itu kami setuju." saut suho dan Dujo bersama.
"Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Ingat untuk menjaga jarak dariku selama misi ini." pasrah Zili.
"Baik pangeran." saut Suho dan Dujo bersama.
"Ingat untuk menutupi jejak keberadaan dirimu di sekitarnya agar tidak dicurigai. Kalian juga harus berhati-hati selama mengawasi pemuda licik itu." ucap Ze.
"Baik putri." saut Zili dan dua orang itu.
"Ayo kita temui Ming hui palsu itu dan memberikan batu dimensi palsu ini padanya. Dia bisa saja curiga jika kita terlalu lama meminjamkannya." ajak Ze.
"Aku juga harus segera membuat ramuan tinta untuk segel jimat aku tidak ingin Jin hu terlalu lama dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti saat ini." tambah Ze.
__ADS_1
Mereka berlima keluar dari ruangan pribadi ayah Ze dan segera menemui Ming hui palsu. Ze segera memberikan batu dimensi palsu pada Ming hui tanpa pemuda itu sadari bahwa batu dimensi yang dia terima adalah batu dimensi palsu.
"Batu dimensi milikmu itu adalah jenis yang sangat istimewa. Akan sangat sulit untuk membukanya untuk saat ini. Aku memiliki seseorang yang kemungkinan besar dapat membantu untuk membukanya tapi untuk saat ini kita masih belum dapat menemui beliau karena beliau sedang bertapa." ucap Ze memberikan alasan pada Ming hui palsu itu.
Ze memberikan harapan palsu pada Ming hui palsu itu agar pemuda itu bertahan di sana dan tidak melakukan hal lain yang tidak terduga sebelum Ze mengetahui semua hal yang ingin dia ketahui tentang keluarga song dan orang-orang yang melindungi mereka.
"Aku akan menunggu dengan sabar untuk menemui orang hebat yang putri maksud itu dari tapanya jika seperti itu." saut Ming hui palsu itu dengan senyum bahagia karena dia berfikir bahwa sebentar lagi dia akan mendapatkan apa yang dia dan kelompoknya inginkan.
"Aku akan memiliki batu dimensi ini dengan sempurna saat aku sudah dapat membukanya dan setelah itu, aku akan merebut batu dimensi miliknya, si gadis bodoh yang dapat ditipu dengan mudahnya. Dengan itu keluarga song kami akan semakin berjaya dan akan menjadi keluarga paling berkuasa di seluruh negeri ini." batin Ming hui palsu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ze sembari menepuk punggung Ming hui karena dia sudah menegurnya beberapa kali dan tidak ditanggapi oleh Ming hui itu.
"Ah maafkan aku putri aku tidak sengaja melamun karena teringat dengan keluargaku yang telah diban*ai oleh orang dari keluarga song itu." bohong Ming hui.
"Oh, tidak masalah. Aku harus mengurus beberapa hal jadi aku akan pergi untuk beberapa hari kau berlatihlah di sini dengan tekun." ucap Ze berpura-pura tidak tahu kebohongan pemuda licik di depannya itu.
"Baik putri, Berhati-hatilah di jalan." saut Ming hui.
Ze pergi dari sana diikuti dengan Zili dan Hui tu. Mereka pergi dari kediaman itu setelah berpamitan pada master Tang.
"Baru sebentar kau di sini dan sudah akan pergi lagi?" tanya Tang biu hu tidak percaya.
"Aku harus melakukan sesuatu di luar dan akan kembali dalam dua atau tiga hari lagi." ucap Ze.
"Tapi.... "
"Ze pasti memiliki hal penting yang harus dia urus di luar sana." ucap Tang hui bi.
"Biarkan saja, lagi pula dia akan kembali dalam waktu dekat sesuai janjinya bukan." tambahnya.
"Baiklah." pasrah Tang biu hu akhirnya.
__ADS_1