Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Di awasi?


__ADS_3

Hui tu sebenarnya sangat terharu dengan ucapan mereka. Tapi, mengingat mereka adalah orang dengan mulut pedas yang dapat membuat kesal, dia menahan diri agar tidak mengeluarkan air mata harunya.


"Apakah kau sudah ingin menangis haru mendengar ucapan kami kakek?" tanya Ze dengan senyum mengejeknya.


"Tampaknya memang benar seperti itu sayang." ucap Jin hu membenarkan ucapan Ze.


"Aku rasa juga seperti itu." Huo nan ikut menimpali.


"Ceh." decih Hui tu.


"Apa yang aku pikirkan memang benar. Mana mungkin mereka diam saja membiarkan suasana haru berlanjut. Mereka sungguh paling mahir membuat orang terharu menjadi orang yang kesal dan tersudut." gumam Hui tu.


"Sebaiknya kau pikirkan nasibmu selama perjalanan saja putra mahkota kerajaan Beicheng. Jangan asik mengolok-olok aku saja." ucap Hui tu sambil menatap Huo nan dengan senyuman penuh arti.


"Apa yang bisa menimpa aku selama perjalanan sehingga aku harus memikirkan nasibku?" tanya Huo nan yang belum menangkap arti ucapan Hui tu.


"Bukankah perjalananmu akan jauh lebih mengesalkan dan menyedihkan karena harus menjadi penonton seorang diri di dalam kereta bersama dengan mereka?" tanya balik Hui tu sedangkan Huo nan tersenyum bangga mendengarnya.


"Setiap menempuh perjalanan dengan kakak ke 2 dan kakak ipar aku selalu duduk santai di luar tempat kusir biasanya akan duduk. Jadi, aku a....."


"Tidak untuk perjalanan kali ini. Karena aku dan Zili sudah cukup sesak berada di luar berdua dan keadaanmu yang baru pulih serta perjalanan ini yang cukup berbahaya, kau harus duduk nyaman di dalam kereta bersama dengan mereka berdua." sela Hui tu.


"Apa yang Hui tu katakan memang ada benarnya juga." ucap Zili membenarkan ucapan Hui tu.


"Tidak, aku akan duduk di luar bersama kalian." tolak Huo nan.


"Apa yang salah dengan duduk di dalam kereta bersama kami?" tanya Ze.


"Aku hanya merasa bosan jika hanya di dalam kereta selama perjalanan kakak ipar." jawab Huo nan.


"Tapi,......"


"Dia hanya tidak ingin mengganggu kita jika berada di dalam kereta selama perjalanan sayang." sela Jin hu yang sebenarnya tidak ingin Huo nan mengganggu kebersamaan dirinya dengan Ze mengingat janjinya pada Ze untuk tidak terlalu menunjukkan kemesraan di depan orang lain.


"Mengganggu bagaimana? Tidak, dia baru pulih dan butuh banyak istirahat. Di luar tidak akan dapat istirahat dengan baik sedangkan perjalanan ini cukup jauh. Dia harus berada di dalam kereta selama perjalanan." putus Ze.


"Baiklah, apapun yang istri inginkan suami akan menuruti." ucap Jin hu sambil mengelus rambut Ze.

__ADS_1


"Belum apa-apa mereka sudah mesra saja." keluh Huo nan lirih membuat Hui tu dan Zili sibuk menahan diri untuk tidak menertawakan dirinya.


"Apakah kau keberatan Huo nan?" tanya Ze.


"Aku mana berani melawan keputusan kakak ipar." jawab Huo nan.


"Tapi, tolong jaga hati pria tanpa pasangan ini selama perjalanan." ucapnya sangat pelan.


"Tubuh dan organ dalam tubuhmu sudah pulih, ada apa dengan hatimu? Apakah masih ada keluhan karena racun itu?" tanya Ze yang tidak paham maksud Huo nan.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha" Hui tu dan Zili akhirnya tidak lagi dapat menahan tawa mereka.


"Mengapa kalian tiba-tiba tertawa?" tanya Ze.


"Hanya tiba-tiba mengingat hal lucu." jawab Hui tu dan Zili hanya mengangguk mengiyakan jawaban Hui tu.


"Kalian aneh sekali. Tiba-tiba mengingat hal lucu secara bersamaan." ucap Ze.


"Aku baik-baik saja kakak ipar. Ayo kita bersiap saja." jawab Huo nan sambil menatap kesal ke arah dua orang yang sedang menertawakan dirinya.


"Apakah kau merasakan hal yang aneh sayang?" tanya Ze pada Jin hu setelah cukup lama dalam perjalanan.


"Tidak, ada apa sayang?" tanya Jin hu balik.


Huo nan yang di tatap Ze hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa dia juga tidak merasakan hal aneh apapun.


"Bukan masalah, mungkin hanya perasaanku saja karena kurang istirahat." jawab Ze.


"Kalau seperti itu, istirahatlah selama perjalanan ini. Perjalanan ini cukup jauh jadi sebaiknya kau istirahat saja." ucap Jin hu.


Ze segera menyandarkan tubuhnya pada dada bidang sang suami dan berpura-pura tertidur dengan tenang. Jin hu hanya tersenyum sambil mengelus kepala Ze agar Ze tidur lebih pulas.


"Apakah kau merasakan hal aneh kakek tua?" tanya Ze pada Hui tu tentunya dengan telepati.


"Tidak, ada apa?" tanya balik Hui tu.


"Aku merasa bahwa kita sedang diawasi sejak tadi." jawab Ze.

__ADS_1


"Aku tidak merasakan apa-apa ataupun kehadiran siapapun. Mungkin itu hanya perasaanmu saja." ucap Hui tu.


"Ya, mungkin juga. Tapi, sebaiknya kau diluar tetap waspada." ucap Ze.


"Baiklah, aku tidak akan lengah sedikitpun." Saut Hui tu.


"Apakah kau merasakan sesuatu Zili?" tanya Ze pada Zili menggunakan telepati.


"Ya, aku merasakan kehadiran beberapa orang yang sedang mengikuti dan mengawasi kita sejak awal perjalanan kita." jawab Zili.


"Kita harus waspada, mereka semua tampaknya bukan orang yang lemah mengingat Jin hu, Huo nan bahkan Hui tu tidak dapat merasakan kehadiran mereka." saran Ze.


"Baik yang mulia." Saut Zili.


"Sebaiknya kalian berdua masuk ke dalam batu dimensi untuk bertapa." saran Ze pada Jin hu dan Huo nan.


"Mengapa tiba-tiba jadi bertapa?" tanya Hui nan.


"Kak Jin hu butuh lebih menstabilkan energi dalam tubuhnya agar lebih mudah bagiku untuk menghancurkan segel pada tubuhnya nanti dan agar dia dapat segera menguasai kekuatan yang tersegel dalam tubuhnya saat kekuatan itu terlepas. Sedangkan untuk dirimu, mengingat bahwa kau juga butuh menstabilkan energi yang kacau dalam tubuhmu akibat racun itu. Mengingat perjalanan ini cukup jauh dan aku serta mereka berdua di luar sudah cukup untuk berjaga selama perjalanan ini, sebaiknya kalian manfaatkan waktu untuk bertapa." jelas Ze.


"Tapi,....."


"Ayolah sayang, kita memiliki banyak musuh yang semakin kuat. Kau tidak mungkin membiarkan mereka melukai aku karena pencapaian dirimu yang selalu terhalang oleh segel itu bukan?" sela Ze sebelum Jin hu sempat protes.


"Baiklah sayang." pasrah Jin hu.


"Aku akan melakukan apapun untuk dapat melindungi dirimu." ucap Jin hu.


"Bagaimana denganmu Huo nan?" tanya Ze.


"Aku sudah pernah katakan belum ya? Apapun keputusan kakak ipar adalah hal yang wajib aku turuti." jawab Huo nan.


"Tidak perlu berlebihan." ucap Jin hu.


"Mengapa kau tiba-tiba membawa mereka ke dalam batu dimensi?" tanya Hui tu.


"Ada orang yang selalu mengikuti kita. Mereka tampaknya cukup kuat karena bahkan kau tidak menyadari kehadiran mereka. Huo nan masih sangat lemah karena pengaruh racun yang baru saja dikeluarkan dari tubuhnya. Segel pada tubuh Jin hu dapat lebih mudah aktif jika dia terlalu sering menggunakan tenaga untuk bertarung. Aku harus menyembunyikan mereka sebelum orang-orang itu bertindak." jawab Ze.

__ADS_1


__ADS_2