
Sebaiknya kau sampaikan pesan pada cucumu itu secepatnya agar mereka tidak menunggu kita." saran Ze.
"Baik." saut Hui tu.
"Kalian kembalilah lebih dulu ke desa Taoxi. Kami akan segera menyusul setelah urusan kami di sini selesai." Hui tu menyampaikan pesan pada tuan Yok ji.
"Aku Hui tu sedang menyampaikan pesan melalui telepati padamu jadi tidak perlu mencari keberadaan aku." ucap Hui tu lagi.
"Baik kakek buyut." saut tuan Yok ji.
Mereka semua akhirnya bubar dan kembali ke tempat masing-masing karena kompetisi telah selesai. Para pemuda dan pemudi yang lulus di berikan plakat murid dan di ijinkan untuk kembali ke keluarga mereka untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk masuk ke dalam akademi dan harus segera kembali ke akademi paling lambat 3 hari setelah itu.
"Kita langsung ke tempat tetua akademi tangga langit mengundang kita atau ketempat lain dulu?" tanya Hui tu.
"Kita pergi ke hutan terdekat dan kalian harus mencari, menangkap dan mengolah ikan dan ayam liar untuk dipanggang." ucap Ze.
"Ada banyak kedai dan rumah makan besar di kota ini dan kau memerintahkan untuk kami menangkap ikan dan ayam serta mengolahnya sendiri?" protes Hui tu.
"Iya, ada yang mudah mengapa harus cari yang susah." ucap Huo nan.
"Lakukan sekarang juga atau kalian ingin menjadi patung selama 3 hari." ancam Ze.
"Akan kami laksanakan segera kakak ipar." ucap Huo nan ketakutan.
"Baiklah." saut Hui tu.
"Apapun yang anda inginkan maka akan aku lakukan." ucap Zili.
"Kau jangan senyum dulu. Kau yang harus mengolah dan membakar semua yang berhasil mereka dapatkan." ucap Ze sambil menatap Jin hu.
"Tidak terima?" tanya Ze.
"Apapun yang istriku inginkan maka akan aku lakukan." ucap Jin hu.
"Ayo, kita tidak memiliki waktu banyak sebelum waktu makan malam dengan tetua akademi tangga langit." ajak Ze penuh semangat.
Mereka akhirnya berangkat menuju hutan terdekat dan melakukan apa yang Ze inginkan sedangkan Ze hanya duduk santai di dalam kereta sambil memakan cemilan yang sempat mereka beli dalam perjalanan menuju hutan.
"Mengapa wanita bodoh itu jadi berulah seperti ini?" tanya Hui tu setelah berhasil menangkap dua ekor ayam hutan dan bertemu dengan Huo nan yang berhasil membawa seekor ayam hutan serta beberapa buah segar dari hutan.
__ADS_1
"Sepertinya kakak ipar sengaja ingin mengerjai kita." jawab Huo nan.
"Hm, mungkin dia sedang bosan sehingga mencari masalah. Kemarin saja dia mengerjai ayah dan ibunya karena bosan." ucap Hui tu.
"Bagaimana bisa kakak ipar sejahil itu bahkan orang tua sendiri menjadi korban?" tanya Huo nan tidak percaya.
"Kau tidak lihat saja. Dia membuat ayah dan ibunya bertengkar karena salah paham tapi akhirnya mereka resmi menikah setelah itu." ucap Hui tu.
"Grand master Ji dan bibi Mei yin menikah?" tanya Huo nan.
"Ya, kalau tidak percaya kau dapat bertanya pada Zili." jawab Hui tu saat melihat Zili mendekat sambil membawa beberapa ekor ikan segar dengan ukuran yang cukup besar.
"Ada apa?" tanya Zili karena Huo nan saat ini tengah menatap ke arahnya.
"Apakah kejadian kakak ipar mengerjai ayah dan ibunya serta mereka telah menikah itu benar?" tanya Huo nan balik.
"Ya." jawab Zili.
Mereka akhirnya membawa semua yang berhasil mereka dapatkan lalu menyerahkan semua pada Jin hu untuk diolah. Setelah itu mereka bersantai melihat Jin hu yang kewalahan mengerjakan semua sendiri karena Ze sudah mewanti-wanti agar hanya Jin hu yang mengerjakan semua sendiri.
"Memiliki istri ternyata tidak selalu menyenangkan juga." ucap Huo nan.
"Terlebih jika kau menjadi budak istri mu." ucap Hui tu.
"Dia menghina kita." ucap Huo nan.
"Aku pikir aku tidak termasuk dalam kata kita yang kau maksud itu. Setidaknya aku pernah memiliki orang yang aku sayangi dan menyayangi aku. Kata itu hanya ditujukan untuk dirimu putra mahkota kesepian." ucap Hui tu.
"Mengapa ujung-ujungnya aku lagi yang menjadi korban dari kalian semua?" protes Huo nan.
"Ku pikir gelar putra mahkota kesepian adalah gelar paling cocok untuk dirimu." ucap Ze.
"Sayang cepat selesaikan semua itu. Aku sudah sangat lapar." ucap Ze lagi.
"Baik sayang tunggu sebentar lagi sudah akan masak." ucap Jin hu yang tengah membakar ikan dan daging ayam hutan tangkapan Huo nan, Hui tu dan Zili.
"Aku bukanlah orang kesepian." tolak Huo nan.
"Apakah selama ini kau pernah dekat dengan orang lain selain kami dan keluargamu?" tanya Ze.
__ADS_1
"Ad......"
"Tentunya guru dan saudara seperguruan bukan termasuk dalam kata orang lain." sela Ze dan Huo nan menggeleng.
"Pernah jatuh cinta?" tanya Ze lagi dan sekali lagi Huo nan menggeleng.
"Pernah ada gadis yang mendekati dirimu secara intim?" tanya Ze.
"Selama aku bersama kakak ke 2 karismaku akan tertutupi oleh pesona kakak ke 2 jadi para gadis tentu hanya akan memandang ke arahnya." jawab Huo nan.
"Mengapa itu jadi salahku?" tanya Jin hu yang sudah membawa makanan untuk Ze.
"Jika kakak ke 2 tidak memancarkan pesona yang sangat menyilaukan, bagaimana bisa aku yang seorang pangeran ini tidak mendapatkan perhatian para gadis dari dulu hingga saat ini." ucap Huo nan.
"Berarti maksudmu kak Jin hu sengaja menebar pesona agar para gadis tergila-gila padanya?" tanya Ze sambil melirik tajam suaminya.
"Jangan mengatakan omong kosong. Aku tidak tertarik dengan wanita manapun selain istriku jadi tidak mungkin aku sengaja tebar pesona." ucap Jin hu membela diri.
"Ikan dan ayam bakar milikmu sudah siap Sayang." ucap Jin hu mengalihkan topik sebelum istrinya semakin termakan provokasi dari Huo nan apa lagi jika Hui tu ikut membakar apinya.
Tanpa banyak bicara lagi Ze langsung menyantap ikan dan ayam bakar yang Jin hu siapkan untuk dirinya.
"Air di sungai itu sangat jernih membuat aku ingin mandi di sana." ucap Ze.
"Jangan sayang, walaupun ini adalah hutan, tetap saja ini tempat terbuka yang siapa saja bisa datang tiba-tiba." larang Jin hu.
"Tapi aku ingin mandi di sana." ucap Ze kesal.
"Boleh tapi, aku akan memasang tirai di sekitar kau mandi." pasrah Jin hu akhirnya.
Jin hu akhirnya menancapkan 4 batang kayu lalu mengelilingi dengan kain agar menjadi tirai yang mengelilingi Ze.
"Mengapa istri mu itu semakin berulah?" tanya Hui tu.
"Entah, jangan dibahas sebelum dia semakin berulah lagi dan membuat kita semakin kerepotan." jawab Jin hu.
Mereka kembali ke ibukota negeri Nansi setelah Ze dan yang lainnya selesai mengganti pakaiannya. Karena merasa tidak nyaman dengan tubuh lengket akhirnya Jin hu dan yang lainnya memilih untuk mandi juga di sungai itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih kepada semua yang telah meluangkan waktu untuk membaca novel ini dan yang telah memberikan dukungan kepada author.
Selamat membaca 😚