
Setelah melakukan perjalanan cukup lama, mereka akhirnya tiba di hutan tempat Huo nan berburu. Mereka langsung disambut oleh prajurit yang melihat kedatangan mereka.
"Dimana Huo nan?" tanya Ze langsung.
"Putra mahkota ada di dalam rumah berburu, yang mulia Ratu Jin." jawab prajurit itu.
"Tunjukkan jalan." ucap Jin hu.
"Baik yang mulia Raja Jin." Saut prajurit itu.
Prajurit itu langsung menunjukkan jalan pada Ze dan yang lain menuju rumah berburu yang dimaksud. Di dalam Huo nan sedang istirahat menunggu hidangan makan siang dari binatang buruan yang berhasil dia buru.
"Ada apa?" tanya Huo nan saat seorang prajurit masuk ke dalam ruangannya.
"Jawab Putra mahkota, Raja dan Ratu Jin beserta yang lain sedang dalam perjalanan ke tempat ini." jawab prajurit itu.
Tanpa mengatakan apapun Huo nan segera berdiri dan berjalan ke luar untuk menyambut kedatangan Ze dan yang lainnya melewati tubuh perajurit yang masih menunduk hormat menanti perintah dari Pangeran Putra mahkota.
"Benar saja, putra mahkota langsung bersemangat untuk menyambut mereka. Memang benar aku harus segera memberitahukan kedatangan mereka jika tidak, putra mahkota bisa saja marah besar." gumam prajurit itu lalu berdiri tegak tanpa menunggu perintah untuk itu karena dia sangat yakin bahwa tuannya itu tidak ingat lagi keberangkatannya saat ini.
"Kakak kedua dan kakak ipar kenapa sudah menyusul ke sini?" tanya Huo nan langsung saat mereka telah berada di depan rumah berburu tempat dia beristirahat.
"Apakah kehadiran kami tidak diterima di tempat ini?" tanya Ze.
"Bukan itu maksud pertanyaanku kakak ipar. Aku ingat kalian akan mengikuti sebuah kompetisi yang cukup besar, tapi, mengapa secepat itu kalian sudah ada di tempat ini? Apakah kompetisi itu batal?" bantah Huo nan panik.
"Oh, aku tidak tertarik lagi untuk melanjutkan kompetisi itu." jawab Ze.
"Apakah kau hanya akan membiarkan kami berdiri di luar lalu kemudian mengusir kami setelah urusan kami selesai?" tanya Hui tu.
"Ah, aku lupa. Kakak ke 2, kakak ipar, dan yang lainnya ayo masuk ke dalam." ucap Huo nan.
Mereka berlima masuk ke dalam rumah berburu sedangkan perajurit yang ada hanya menunggu di luar.
"Dimana gadis bernama Lin yi itu?" tanya Ze setelah mereka masuk ke dalam rumah berburu itu dan tidak menemukan keberadaan gadis yang Ze cari.
"Lin yi?" tanya Huo nan bingung membuat Ze, Jin hu, Hui tu dan Zili mengernyit heran.
__ADS_1
"Iya, Lin yi." jawab Hui tu.
"Siapa Lin yi?" tanya Huo nan lagi membuat 4 orang itu geram.
"Gadis yang kau selamatkan, kau rawat dan kau bawa ke tempat ini yang sebelumnya kau kenalkan kepada kami saat berpapasan dalam perjalanan ke sini. Dia bernama Lin yi bukan?" jelas Hui tu.
"Tunggu dulu, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan saat ini, aku tidak pernah ingat bahwa aku pernah menyelamatkan gadis bahkan aku tidak kenal satupun gadis bernama Lin yi." bantah Huo nan.
"Tapi kau ingat bertemu dengan kami diperjalanan ke tempat ini bukan?" tanya Hui tu.
"Iya, aku ingat bertemu dengan kalian dan tahu tujuan kalian. Tapi, aku tidak ingat bahwa aku membawa seorang gadis." jawab Huo nan.
"Cukup, kalian semua diam. Biar aku periksa dulu apa yang terjadi." ucap Ze.
Ze segera menaruh ujung telunjuk tangan kanannya tepat di antara alis Huo nan membuat semua orang termasuk Huo nan diam.
"Kau terkena serangan jurus ilusi sebelumnya. Ini menjelaskan mengapa kau tidak mengingat sama sekali tentang siapa gadis bernama Lin yi itu." jelas Ze membuat Jin hu, Hui tu dan Zili mengangguk paham.
"Apa tujuan gadis itu menggunakan jurus ilusi pada Huo nan?" tanya Hui tu.
"Tolong jangan biarkan siapapun mengganggu konsentrasi ku karena aku butuh fokus dan energy yang aku akan gunakan cukup banyak sehingga dapat melukai aku jika proses ini terganggu." pinta Ze.
"Biar aku berjaga di luar." tawar Zili.
"Aku juga akan berjaga di luar." ucap Hui tu.
Mereka berdua segera keluar dari rumah itu lalu segera menutup pintunya dan segera konsentrasi menjaga sekitar. Ze segera menaruh telapak tangannya di kening Huo nan lalu fokus pada ingatan Huo nan yang ditutupi oleh gadis itu.
Flash back on
Huo nan sedang dalam perjalanan menuju tempat berburu tiba-tiba rombongannya terhenti karena beberapa orang yang terbaring di jalan yang kelihatannya sedang terluka.
Saat beberapa prajurit memeriksa keadaan mereka, tiba-tiba mereka semua tidak sadarkan diri. Saat mereka sadar, tubuh mereka semua terikat dan seseorang memerintahkan mereka untuk menatap ke arahnya. Orang itu membuat Huo nan ingat bahwa dia telah menyelamatkan seorang bernama Lin yi dan mereka semakin akrab setelah beberapa saat gadis itu tinggal di istana untuk dirawat.
Setelah itu Huo nan dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan bersama dengan gadis bernama Lin yi itu. Mereka berpapasan dengan rombongan Ze setelah berpisah dengan rombongan Ze, rekan gadis itu kembali muncul lalu menghapus ingatan tentang Lin yi dari ingatan Huo nan.
Flash back off
__ADS_1
Ze selesai lalu segera memanggil Hui tu dan Zili melalui telepati. Ze menceritakan apa yang dilihatnya dari ingatan Huo nan.
"Apa tujuan mereka melakukan itu padaku?" tanya Huo nan.
"Untuk gadis bernama Lin yi itu, mungkin agar kami terutama Ze menyelamatkan nyawa calon suaminya. Tapi, dari mana dia tahu tentang Ze dan perjalanan rombongan kita yang kebetulan berpapasan?" jawab Hui tu.
"Untuk itu, kita perlu menangkap gadis itu untuk......"
"Uhuk uhuk uhuk." tiba-tiba Huo nan terbatuk dan memuntahkan darah segar membuat Ze dan yang lainnya terkejut.
Ze segera memeriksa keadaan Huo nan dan membelalakkan matanya. Dia segera mengiris ujung jarinya lalu meneteskan darahnya ke dalam mulut Huo nan yang sudah terbaring tidak berdaya.
"Seluruh organ tubuh bagian dalamnya seketika membusuk. Seperti keadaan guru Tang sebelumnya." ucap Ze.
Semua terkejut mendengarnya. Mereka bertiga mulai panik melihat keadaan Huo nan yang semakin melemah.
"Segera siapkan bak untuk merendam tubuh Huo nan dan cari batu sejati tingkat sedang. Aku masih memiliki beberapa bahan yang lainnya untuk mengobatinya." ucap Ze.
"Aku masih memiliki beberapa batu sejati tingkat sedang dan untuk bak, bukankah bak yang digunakan untuk master Tang berendam kau masukkan ke dalam batu dimensi?" ucap Hui tu.
"Ah, iya aku lupa." ucap Ze.
Ze segera mengeluarkan umbi tanaman api neraka dan menyerahkannya pada Jin hu.
"Iris tipis umbi ini seperti sebelumnya." ucap Ze.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf atas keterlambatan up beberapa hari ini. Di usahakan kedepannya akan lebih sering up. Tapi eh tapi 😏 itu tergantung dari banyak tidaknya support dan dukungan dari pembaca loh ya😁
Salam hangat dari author
Minal aidzin walfaizin bagi semua umat Islam
Mohon maaf lahir dan batin untuk semua
mari gunakan perbedaan untuk menyatukan semua dengan saling menghargai bukannya menjadi perpecahan di antara kita.
__ADS_1