
Ze kembali ke tempat Huo nan dengan wajah ditekuk karena masih sangat marah. Dia sangat marah karena tidak dapat menemukan dalang dari semua masalah itu. Dia juga sangat khawatir jika suatu saat orang itu kembali menargetkan orang-orang disekitarnya dan kembali membuat salah satu dari mereka terluka parah.
"Aku harus dapat menemukan orang itu." gumam Ze.
"Ada apa sayang? Mengapa kau terlihat sangat kesal?" tanya Jin hu sambil memegang tangan Ze.
"Gadis bernama Lin yi beserta beberapa orang yang menyerang Huo nan semua mati. Bahkan gadis bernama Lin yi itu mati tepat di depan mataku tanpa bisa aku tahu siapa yang melakukan serangan dan dari mana asal serangan." jawab Ze membuat Jin hu dan Hui tu mengernyitkan keningnya.
"Berarti orang dibalik semua itu sangat kuat." ucap Hui tu.
"Apakah itu orang yang sama yang juga melukai master Tang bersaudara?" tanya Hui tu.
"Aku pikir itu orang yang sama mengingat racun yang digunakan sama persis sedangkan jenis racun itu sangat langka bahkan sempat dinyatakan sudah musnah dan targetnya adalah orang-orang yang berada di sekitar aku yang aku pedulikan." jawab Ze.
"Jika orang itu sangat kuat, mengapa hanya menargetkan orang disekitar dirimu? Bukankah akan lebih mudah jika menyerang dan menghabisi dirimu langsung saja?" tanya Hui tu.
"Jenis pertanyaan apa itu? Seolah kau sangat ingin orang itu langsung menargetkan aku." protes Ze.
"Bukan itu maksud ucapanku dasar bodoh. Aku hanya tidak bisa menemukan alasan mengapa orang yang sangat kuat dan memiliki kekuatan diatas dirimu harus susah payah melukai dirimu melalui orang disekitar dirimu. Bukankah lebih mudah untuknya jika langsung menyingkirkan dirimu?" jelas Hui tu.
"Aku sebenarnya juga bingung. Tapi, menurut Zili ini ada kemungkinan berhubungan dengan sang penjaga yang selalu menjaga aku. Dia tidak bisa menargetkan aku secara langsung karena tidak ingin berurusan dengan sang penjaga." ucap Ze.
"Masuk akal jika itu alasannya mengingat gadis penjaga itu sangat kuat." ucap Hui tu.
"Tapi, mengapa orang sekuat itu bisa menginginkan kehancuran dirimu? Bahkan kita tidak tahu siapa orang itu." tanya Hui tu.
"Entahlah, suatu saat pasti akan ada jawaban yang tepat untuk menjelaskan semua kejadian ini." jawab Ze.
"Apakah Huo nan masih belum sadarkan diri?" tanya Ze.
"Ya." jawab Hui tu dan Jin hu.
Huo nan tampak akan siuman terlihat dari bulu matanya yang mulai bergetar. Melihat itu Zili langsung memberitahu yang lain dan berhasil membuat mereka semua kembali fokus pada Huo nan.
__ADS_1
"Akh....." pekik Huo nan sembari memegang kepalanya.
"Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit?" tanya Huo nan.
"Telan dulu pil regenerasi ini. Hui tu akan menceritakan apa yang terjadi kepadamu nanti." ucap Ze.
"Mengapa jadi aku yang harus bercerita?" protes Hui tu.
"Dari kita berempat hanya kau yang paling suka bicara banyak." jawab Ze.
Huo nan segera menelan pil pemberian Ze. Setelahnya Hui tu menceritakan apa yang telah terjadi pada kedua master Tang, apa yang Ze harus lakukan untuk menyelamatkan mereka, lalu berakhir dengan cerita bahwa Huo nan juga mengalami atau terkena racun yang sama dengan mereka.
"Beruntung Ze masih memiliki semua bahan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan racun dari tubuhmu." ucap Hui tu di akhir ceritanya.
"Yah, aku hanya berjaga-jaga saja dengan mengambil darah dari merak lebih dari yang dibutuhkan. Untung kak Ruri juga memberikan aku lebih banyak darah naga." ucap Ze.
"Ada baiknya juga kami mengambil lebih banyak umbi tanaman api neraka, karena kini umbi itu berguna untuk menyelamatkan nyawa dari putra mahkota kerajaan Beicheng." ucap Zili.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan aku." ucap Huo nan tulus.
"Bagaimana bisa itu menjadi salahmu kakak ipar?" tanya Huo nan.
"Orang itu menargetkan orang-orang yang ada di sekitar aku." jawab Ze.
"Itu bukan salahmu kakak ipar, itu salah orang itu. Aku merasa beruntung memiliki kakak ipar sehebat dirimu. Aku juga tidak menyesal andai tidak selamat karena racun itu. Bagiku kalian adalah hal terbaik yang aku miliki setelah orang tuaku." ucap Huo nan.
"Bagiku kalian adalah keluarga yang sebenarnya." tambahnya.
"Ternyata pangeran yang konyol dapat mengucapkan kata-kata yang cukup serius dan mengharukan." ucap Hui tu sambil tersenyum sembari menepuk pundak Huo nan.
"Aku juga tidak menyangka hari dimana dia mengatakan hal yang berbobot akan tiba saat ini." Saut Jin hu.
"Apakah racun yang sebelumnya telah memasuki tubuhnya juga mempengaruhi otaknya sehingga menjadi lebih normal?" ucap Zili ikut mengolok Huo nan.
__ADS_1
"Bisa jadi seperti itu." Saut Ze yang tahu tiga orang itu sengaja menghindari topik mengharukan.
"Tidak bisakah kalian menghargai disaat aku mengatakan hal yang baik." protes Huo nan.
"Aku lagi serius dan kalian menghancurkan suasana dengan mengejekku." tambahnya membuat Ze dan yang lainnya tertawa.
"Sudahlah, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita saja. Aku sudah lama menunda untuk membantu mencari tahu keturunan Hui tu." ucap Ze.
"Apakah artinya kalian akan meninggalkan aku lagi?" tanya Huo nan.
"Mengingat kau ke tempat ini untuk latihan, kau bisa ikut dengan kami untuk berlatih menghadapi lawan. Aku selalu yakin perjalanan untuk mencari tahu keturunan Hui tu juga orang yang telah membuatnya menderita akan cukup menantang." ucap Ze membuat Huo nan tersenyum bahagia.
"Ah aku sangat merindukan perjalanan yang penuh tantangan bersama kalian." ucap Huo nan penuh semangat.
"Tapi, aku tidak butuh para prajurit milikmu itu untuk ikut dalam perjalanan ini. Mereka sama saja dengan mengantar nyawa mereka jika ikut serta dalam perjalanan ini." ucap Jin hu.
"Itu benar sekali." Saut Ze membenarkan.
"Ya, aku juga setuju dengan itu." ucap Hui tu sedang Zili hanya mengangguk setuju.
"Aku akan memerintahkan mereka kembali ke istana dan mengirimkan surat kepada ayahanda bahwa aku sedang berlatih bersama kalian." ucap Huo nan.
"Begitu juga bagus. Jadi, paman tidak akan khawatir padamu." ucap Ze.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Karena urusan di istana Kai selesai lebih awal, Ze memutuskan untuk menyelesaikan masalah Hui tu sebelum kembali ke istana atas awan. Awalnya para pengawal pribadi Huo nan tidak ingin meninggalkan Huo nan namun akhirnya pasrah karena Huo nan memaksa.
"Negeri mana yang akan kita tuju?" tanya Huo nan.
"Negeri Nansi, tempat asal dari mendiang istri Hui tu." jawab Ze.
"Apakah tidak masalah kita meninggalkan istana atas awan lebih lama untuk mengurus masalahku?" tanya Hui tu ragu.
"Masalah di istana sudah hampir sepenuhnya diselesaikan. Kau tidak perlu khawatir karena ayahku jauh dari mampu untuk menangani masalah disana selama kita tidak ada. Lagi pun, aku sudah berjanji akan membantumu bukan." ucap Ze.
__ADS_1
"Apa yang istriku katakan tidak salah. Kau sudah banyak membantu kami selama ini. Kini giliran kami yang membantu menyelesaikan masalahmu." ucap Jin hu.
"Terima kasih." ucap Hui tu.