
"Apakah 9 butir dapat di sebut jumlah yang banyak mengingat bahan dan waktu yang aku gunakan sangat banyak?" tanya Ze.
"Selama aku hidup dalam semesta ini hingga menjadi roh, orang yang berhasil membuat pil roh murni dapat dihitung dengan jari. Kualitas dari pil yang dibuat bahkan tidak mencapai setengah dari Kualitas pil itu dan jumlahnya paling hanya 2 sampai 3 butir saja dengan waktu hampir 4 kali lebih lama dari yang kau gunakan. Bagian mana yang masih kau tidak puas?" jelas roh pedang.
"Oh, aku pikir itu jumlah yang sangat sedikit." ucap Ze santai.
"Andai aku masih hidup saat ini, mungkin aku akan mati seketika mendengar kesombongan wanita ini." keluh roh pedang.
"Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan saja. Bagian mana yang terdengar sangat sombong?" tanya Ze santai.
"Jumlah yang sudah 3 kali lebih banyak dari yang berhasil orang lain buat masih kau sebut sedikit apakah itu tidak sombong?" ucap roh pedang.
"Aku tidak pernah ingin menggunakan orang yang tingkat pencapaian nya dibawah aku sebagai patokan. Karena hanya akan menurunkan semangat diriku untuk lebih berkembang." ucap Ze.
"Terserah kamu. Sekarang lebih baik kau telan pil itu lalu bermeditasi di atas batu di depanmu itu. Aku akan membantu pembentukan kultivasi roh dan tubuh milikmu agar kau dapat melatih tubuh dan roh milikmu menjadi tingkat yang paling tinggi sehingga bahkan Dewa sekalipun tidak dapat menekan rohmu." ucap roh pedang dan segera Ze turuti.
Ze menelan pil roh murni dan segera duduk dalam posisi tapa. Roh pedang tiba-tiba keluar dari pedang itu dan membentuk kumpulan asap ungu berbentuk seekor naga dengan mahkota di kepalanya. Naga itu membuka mulutnya mengeluarkan cahaya ungu mengarah ke tubuh Ze.
"Proses ini akan cukup menyakitkan tapi kau harus bertahan. Itu karena pondasi tubuh juga roh milikmu akan di bentuk kembali." ucap naga itu.
"Akh....!" pekik Ze dengan tangan yang mengepal kuat menahan sakit.
Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya namun Ze tetap bertahan dalam posisi duduk di atas batu. Sesekali akan terdengar suara pekikan dari mulutnya namun dia tetap bertahan dalam posisi itu. Ze cukup lama merasakan kesakitan hingga tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna putih.
"Kau sudah berhasil." ucap roh pedang.
Ze membuka matanya lalu berdiri. Ze melihat tubuhnya sangat kotor seperti di lumuri lumpur hitam.
"Itu adalah kotoran yang masih tersisa dari dalam tubuhmu. Jika bukan karena kau telah menerima berkah dari pohon jiwa mungkin kotoran yang keluar dari tubuhmu akan berkali lipat lebih banyak." ucap roh pedang yang sudah kembali masuk ke dalam pedang.
"Saat ini kau memiliki tubuh prajurit level satu dan roh pendekar tidak buruk." puji roh pedang.
"Ada berapa tingkat kultivasi tubuh dan roh itu?" tanya Ze.
__ADS_1
"Tingkat kultivasi tubuh dan roh ada 7 yaitu, tingkat murid, tingkat prajurit, tingkat pendekar, tingkat panglima, tingkat guru, tingkat master dan terakhir tingkat suci dan masing-masing tingkat memiliki 3 level." jawab roh pedang.
"Berarti tingkat kultivasi tubuh dan roh milikku masih sangat rendah." ucap Ze.
"Untuk orang yang baru membentuk kultivasi tubuh dan roh itu sudah suatu pencapaian yang sangat bagus." jelas roh pedang.
"Apakah keistimewaan dari kultivasi tubuh dan roh itu? " tanya Ze.
"Tidak semua orang bisa membentuk kultivasi tubuh dan roh walaupun mereka memiliki bakat kultivasi. Orang dengan kultivasi roh dapat mengalahkan orang dengan tingkat kultivasi yang lebih tinggi dari dirinya dengan mudah." jawab Silla.
"Benar, untuk setiap tingkat kau dapat mengalahkan orang dengan satu tingkat dari pencapaian dirimu. Itu artinya kau dapat mengalahkan orang dengan kultivasi 3 tingkat di atas pencapaian dirimu." ucap roh pedang.
"Sedangkan kultivasi tubuh, kau dapat menahan serangan dari kekuatan yang sangat besar dengan mudah tergantung seberapa tinggi kultivasi tubuhmu." jelas Silla lagi.
"Untuk saat ini sudah cukup. Kau keluar saja karena kalian sudah akan tiba di tujuan." ucap roh pedang.
"Baiklah." ucap Ze.
"Dia sudah cukup kuat untuk mengetahui rahasia semesta tertinggi dan dunia dewa bukan?" tanya roh pedang.
"Masih belum cukup. Dia harus lebih kuat lagi untuk mengetahui rahasia itu dan untuk membantu kita memperbaiki kesalahan kita dimasa lalu." jawab Silla.
"Aku tidak menyangka bahwa aku akan secepat ini menemukan dia. Pemilik keberuntungan besar dengan takdir ganda yang sangat luar biasa." ucap roh pedang.
"Jangan pernah menyebutkan masalah itu untuk saat ini. Kita harus menjaga rahasia itu dan dirinya hingga dia pantas untuk rahasia itu dan mampu untuk memegang takdir miliknya." ucap Silla.
"Baiklah aku tidak akan menyebutkan itu lagi." ucap roh pedang.
...----------------...
Di dalam kereta
"Apakah kita sudah dekat dengan desa Taoxi?" tanya Ze.
__ADS_1
"Ya, di depan adalah gerbang desa Taoxi. " jawab Hui tu.
"Sebuah desa dengan gerbang yang besar. Desa ini sungguh luar biasa." puji Ze saat melihat gerbang desa dari jendela kereta yang dia buka.
"Gerbang itu dulunya tidak ada." ucap Hui tu.
"Aku juga baru melihat gerbang desa Taoxi yang besar itu." ucap Huo nan.
Mereka sudah disambut oleh beberapa orang yang ternyata adalah utusan keluarga Si.
"Apakah ini rombongan dari tuan Hui tu?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya." jawab Hui tu.
"Silahkan ikuti kami tuan. Kami akan mengawal anda menuju ke kediaman keluarga Si." ucap orang itu.
Mereka semua menaiki kuda masing-masing lalu bergerak dengan kecepatan sedang diikuti kereta milik Jin hu di belakang.
"Kediaman yang sangat megah dan mewah." puji Ze.
"Tentu saja. Keluarga kami adalah keluarga bisnis dengan usaha yang menyebar luas di seluruh benua. Di desa ini keluarga Si kami sudah dihormati seperti keluarga kerajaan." ucap seorang wanita dengan nada angkuh.
"Jaga mulut mu itu Dong er. Jika orang istana mendengarnya keluarga kita bisa disebut ingin melakukan kudeta." ucap geram seorang pria yang ternyata adalah tuan Yok ji.
"Maaf kakek buyut, aku tidak bermaksud untuk..."
"Sudahlah, kau sebaiknya masuk ke dalam dan membantu anak-anak untuk menyiapkan keperluan mereka untuk memasuki akademi." sela tuan Yok ji.
"Baik kakek buyut." ucap Dong er lalu pergi dari tempat itu.
"Selamat datang ka eh tuan Hui tu, pangeran Huo nan, tuan Zili serta raja dan ratu Jin." ucap tuan Yok ji.
"Silahkan masuk ke dalam. Kami telah menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat sejenak sebelum menuju makam leluhur besok." ucap tuan Yok ji.
__ADS_1