Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Melawan laba-laba api


__ADS_3

Ze memberikan pil penawar segala racun karena dia akan membawa mereka ke dalam batu dimensi alkemis miliknya. Dia takut akan berbahaya bagi mereka terutama Huo nan jika ditempatkan di batu dimensi tempat Silla.


"Aku akan membawa mereka dan segera keluar. Tolong lebih waspada dan jangan biarkan orang-orang itu mendekati kereta sebelum aku keluar dari batu dimensi." ucap Ze pada Hui tu dan Zili melalui telepati.


"Baik, kau tenang saja. Aku akan lebih waspada." Saut Hui tu.


"Baik yang mulia." Saut Zili.


Ze segera membawa Jin hu dan Huo nan ke dalam batu dimensi setelah mereka menelan pil penawar segala racun. Ze tidak lupa memperbarui jimat segel yang dia buat untuk menekan segel pada tubuh Jin hu sebelum meninggalkan batu dimensi.


"Ber-tapalah dengan tenang dan harus lebih fokus agar saat aku menjemput kalian di dalam sini, kalian sudah dapat menstabilkan energy dalam tubuh kalian." ucap Ze.


"Baik sayang/ kakak ipar." Saut mereka bersamaan.


"Aku akan keluar sekarang." ucap Ze.


"Ada apa lagi?" tanya Ze karena tangannya di tahan oleh Jin hu.


"Kau belum memberikan energi tambahan untuk suamimu ini." ucap Jin hu.


"Energi tambahan apa?" tanya Ze.


Tanpa menjawab Jin hu segera menarik tubuh Ze masuk ke dalam pelukannya. Huo nan yang melihat itu langsung membalikkan badannya agar tidak menjadi penonton gratis untuk acara mesra suami istri itu. Jin hu langsung mencium bibir istrinya yang selalu menjadi candu baginya itu.


"Sudah cukup, kalian harus segera bermeditasi dan aku juga harus kembali ke luar." ucap Ze sambil mendorong tubuh Jin hu.


"Baiklah sayang." ucap Jin hu.


"Syukurlah itu tidak berlangsung lama." gumam Huo nan.


Ze segera keluar sebelum suaminya kembali berulah dan membuat dirinya semakin lama di dalam batu dimensi.

__ADS_1


"Bak buk bak buk duar...." saat Ze keluar dari batu dimensi, hanya ada suara pertarungan yang menyambutnya.


Ze segera keluar dari kereta dan mendapati Hui tu juga Zili sedang bertarung melawan 5 orang berpakaian serba hitam komplit dengan penutup kepala yang hanya memperlihatkan dua mata mereka.


"Sepertinya mereka bukan penghuni dunia bawah ini." gumam Ze setelah melihat tingkat pencapaian ke 5 orang yang dilawan oleh Hui tu dan Zili.


"Duak......" tiba-tiba Hui tu terkena tendangan dari lawannya.


Orang yang menjadi lawan Hui tu ingin kembali menyerang Hui tu dan dengan segera Ze melompat ke arah orang itu untuk mencegah Hui tu menerima serangan yang lebih kuat. Ze berhasil mendaratkan tendangan pada punggung dua orang yang menjadi lawan Hui tu membuat mereka yang hendak menyerang Hui tu terhempas.


"Kurang ajar, kau cari mati heh ja*ang kecil?" ucap salah satu dari mereka dan ternyata adalah seorang pria.


"Kita belum tahu siapa yang sebenarnya sedang mencari mati. Kau atau aku." ucap Ze lalu segera maju untuk menyerang dua orang itu.


"Bak buk bak buk." kemudian hanya suara pertarungan mereka yang terdengar.


Hui tu segera bangkit dan membantu Zili melawan salah satu dari lawannya. Pertarungan mereka cukup lama dan sangat sengit. Zili dan Ze masing-masing melawan 2 orang sedang Hui tu melawan satu orang. Hingga akhirnya Ze, Hui tu dan Zili memenangkan pertarungan itu dengan membuat mereka tersungkur ke tanah.


"Benar, sepertinya kita harus menggunakan wujud asli kita untuk mengeluarkan kekuatan terkuat kita. Hanya dengan itu kita memiliki kesempatan mengalahkan mereka." ucap yang lainnya.


"Kalau seperti itu, ayo kita lakukan." ajak salah satunya.


"Ayo." Saut yang lainnya serempak sedangkan kelompok Ze hanya diam menyimak dengan santai percakapan mereka.


Kelima orang itu konsentrasi beberapa saat dan seketika tubuh mereka berubah menjadi laba-laba dengan ukuran yang sangat besar. Tubuh mereka berwarna merah menyala dengan duri-duri halus namun tajam di sekujur tubuhnya.


"Ceh, ternyata wujud asli kalian hanya seekor serangga jelek." ejek Ze.


"Dasar manusia rendahan, kami akan membuat kalian menyesal." ucap geram salah satu dari laba-laba raksasa itu.


"Ternyata penghuni negeri hitam." ucap Zili membuat para laba-laba terkejut ternyata ada juga yang mengetahui asal mereka dari dunia bawah.

__ADS_1


Mereka tidak tahu bahwa Zili adalah penghuni dunia atas sehingga dapat dengan mudah mengetahui asal mereka dengan melihat wujud mereka.


Laba-laba itu menyemburkan sesuatu dari mulutnya yang ternyata bukan jaring seperti yang Ze bayangkan. Laba-laba itu justru mengeluarkan api yang cukup besar dari mulutnya untuk menyerang Ze dan yang lainnya.


Ze dan yang lain tidak bereaksi sedikitpun melihat serangan itu membuat para laba-laba sangat yakin dapat dengan mudah membunuh mereka dengan satu serangan itu. Mereka terkejut dan kesal setelah api itu hampir menyentuh tubuh ketiganya, api itu terhenti tepat di depan mereka bertiga seperti ada dinding yang menghalanginya agar tidak menyentuh ketiganya.


"Hanya itu saja kemampuan dari laba-laba api penghuni hutan kematian negeri hitam? Aku sangat kecewa karena menantikan pertarungan yang lebih seru." ucap Zili dengan senyum mengejek.


"Kalian jangan terlalu sombong, kami belum menggunakan kekuatan penuh. Kami baru tahu ternyata kalian cukup kuat sehingga tadi hanya menggunakan kekuatan paling lemah kami." ucap salah satu dari laba-laba itu.


"Tidak perlu terlalu banyak bicara lagi. Kalau ingin bertarung segera bertarung saja." ucap Ze.


Para laba-laba itu kembali menyerang dengan semburan api yang lebih kuat yang berasal dari gabungan kelimanya. Ze hanya duduk di akar pohon besar yang menyembul di atas tanah membiarkan Zili menghadapi serangan itu.


"Mengapa laba-laba bukannya menyemburkan jaring malah menyemburkan api lemah seperti itu?" tanya Ze.


"Karena mereka adalah laba-laba api, serangan andalan mereka adalah semburan api sesuai nama mereka." jawab Zili yang terlihat tidak kesusahan sama sekali menahan serangan gabungan dari lima ekor laba-laba itu.


"Lalu, apakah semua laba-laba api adalah penghuni negeri hitam?" tanya Hui tu yang ikut duduk santai di sebuah batang pohon tumbang di dekatnya.


"Tidak, mereka ada yang tinggal di negeri siluman juga." jawab Zili.


"Mengapa kau bisa tahu dan mengatakan dengan yakin bahwa mereka adalah laba-laba api yang berasal dari negeri hitam?" tanya Ze.


"Karena ada aura hitam yang menyelimuti tubuh mereka semua." jawab Zili.


"Aura hitam? Mengapa aku tidak bisa melihat itu?" tanya Hui tu.


"Aku juga tidak melihatnya." ucap Ze.


"Karena itu hanya dapat dilihat oleh penghuni dunia atas dengan kultivasi tingkat tertentu." jawab Zili.

__ADS_1


Percakapan ketiganya membuat para laba-laba sangat murka dan memperkuat serangan mereka. Mereka semakin kesal namun mulai ragu saat mendengar Zili mengungkapkan bahwa dirinya adalah penghuni dunia atas juga.


__ADS_2