Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tiba di kerajaan Kai


__ADS_3

Mereka membahas beberapa hal sebelum akhirnya Ze memutuskan untuk masuk ke dalam batu dimensi untuk berlatih jurus penghancur segel demi segera membebaskan Jin hu dari segel penghancur di tubuhnya yang bisa tiba-tiba aktif dan membahayakan dirinya.


Ze masuk ke dalam batu dimensi tentunya diikuti oleh sang suami yang tidak bisa jauh dari sang istri menyisakan Hui tu dan Zili di kereta itu.


"Mengapa kau tidak meracik pil sayang?" tanya Jin hu yang mengira Ze ingin melatih kemampuan meracik pilnya.


"Aku sudah memiliki cukup banyak persediaan pil dan kemampuan membuat pil milikku sudah tidak perlu lagi untuk diasah. Yang terpenting sekarang yang menjadi fokus utama bagiku adalah jurus penghancur segel yang harus segera aku kuasai agar aku tidak lagi waspada dengan segel di dalam tubuhmu yang sewaktu-waktu dapat aktif dan mengancam jiwamu." jawab Ze.


"Terima kasih karena telah perduli dan khawatir padaku. Tapi, jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau mengabaikan dirimu hanya demi aku." ucap Jin hu sambil memeluk tubuh Ze dari belakang.


"Kau tenang saja, aku tahu batas kemampuan tubuhku untuk bertahan. Aku tidak akan membahayakan diriku sendiri mengingat bahwa kau juga akan ikut terancam jika sesuatu terjadi padaku." ucap Ze setelah membalik tubuhnya agar saling berhadapan dengan Jin hu lalu memeluk tubuh suaminya itu.


"Mengapa mulutmu ini bisa semanis ini?" tanya Jin hu memberi sedikit jarak antara mereka lalu mencium bibir Ze.


"Cukup, jangan ganggu waktuku untuk berlatih. sebaiknya kau berlatih ilmu ilusi dari kitab yang sebelumnya aku berikan padamu. Ilmu itu cukup membantu selain untuk menyerang lawan juga untuk membuat dirimu selamat dari serangan ilusi dari lawan dan itu harus kau lebih kuat dari lawanmu. Makanya berlatih segera karena dari yang aku lihat, mereka orang kerajaan Kai memiliki kemampuan ilusi juga sihir." ucap Ze.


"Kemampuan ilusi dan sihir?" tanya Jin hu.


"Ya, walaupun tidak terlalu kuat, mereka dapat mempengaruhi dirimu jika kau tidak menguasai dasar dari ilmu ilusi itu sendiri." jawab Ze.


"Jadi, demi menghindari hal yang tidak diinginkan, kau harus melatih ilmu ilusi itu." tambah Ze.


"Baiklah istriku sayang. Tapi, aku minta tambahan energi dulu sebelum berlatih." ucap Jin hu sambil tersenyum jahil.


"Apa..... mmm mmm." Jin hu mencium bibir Ze lalu melu*atnya sebelum Ze sempat protes.

__ADS_1


"Cukup, sekarang berlatihlah." ucap Ze setelah ciuman itu berakhir.


Setelahnya Ze dan Jin hu sibuk dengan kegiatan berlatih mereka masing-masing. Mereka selalu berlatih selama perjalanan itu dan hanya akan berhenti saat waktunya makan atau tidur telah tiba.


Setelah cukup lama melakukan perjalanan, mereka akhirnya tiba di kawasan kerajaan Kai dan disambut meriah oleh Raja Kai beserta bawahan dan penduduk kerajaan Kai tentunya putri Rou ruan tidak akan ketinggalan.


Mengabaikan keberadaan Ze yang selalu berada di dalam rengkuhan posesif Jin hu, putri Rou ruan menyapa Jin hu dengan gaya yang sangat anggun.


"Selamat datang kak Jin hu, semoga kak Jin hu betah berada di kerajaan Kai ini." ucap putri Rou ruan lemah lembut.


"Maaf, tapi kita tidak se-akrab itu sehingga putri dari kerajaan Kai ini dengan bebas dapat memanggil nama dari Raja ini." protes Jin hu dengan nada datar membuat wajah putri Rou ruan memerah karena marah dan malu di perlakukan seperti itu di depan rakyatnya.


"Mohon maafkan putri ini karena tidak benar menyebut nama yang mulia Raja Jin. Putri ini..."


"Cukup dengan itu saja. Raja ini tidak butuh alasan lain." sela Jin hu.


Sedangkan para rakyat dan pejabat kerajaan Kai yang hadir menyaksikan kelakuan Jin hu merasa geram dengan kelakuan Jin hu yang terkesan meremehkan putri yang sangat mereka banggakan itu.


"LANCANG SEKALI KAU RAJA DARI KERAJAAN KECIL MEMPERLAKUKAN PUTRI KEBANGGAAN KERAJAAN KAI KAMI DENGAN TIDAK SOPAN." bentak seorang pria.


"Plak...." sebuah tamparan keras mengejutkan semua orang yang hadir di tempat itu.


"Sangat lancang seorang bawahan membentak suamiku yang notabenenya seorang Raja. Walaupun kerajaan kecil, kau tetap sebagai bawahan yang walaupun berasal dari kerajaan besar kau tetap bawahan." ucap Ze.


Ya, tamparan itu berasal dari tangan Ze pada orang yang membentak Jin hu dengan kasar. Jin hu lalu segera menggenggam tangan Ze dan menatap tangan itu dengan wajah khawatir. Sedangkan orang yang ditampar Ze saat itu tersungkur dengan pipi memerah dan mulut mengeluarkan darah karena dua giginya copot karena tamparan itu.

__ADS_1


"Mengapa kau menampar orang itu?" tanya Jin hu membuat beberapa orang berpikir bahwa Jin hu akan memarahi Ze yang lancang menampar orang dari istana mereka.


"Lain kali biarkan suamimu yang melakukannya. Jangan buat tangan berharga ini kotor dengan menyentuh sampah yang tidak berguna. Apakah sakit?" tambah Jin hu dengan suara lembut sambil mengecup telapak tangan Ze membuat semua orang memasang wajah terkejut.


"Mengapa anda tidak memerintahkan kami saja untuk melakukan pekerjaan yang menyenangkan itu?" tambah sikompor Hui tu membuat mereka semua semakin geram.


"Ap...."


Belum sempat orang lain mengucapkan kata protes lagi Jin hu mengeluarkan aura mencekam ke arah mereka. Membuat seluruh tubuh mereka bergetar ketakutan.


"Sudahlah suamiku, kita ini datang sebagai tamu. Jangan membuat tuan rumah ketakutan." tegur Ze membuat Jin hu melepaskan aura mencekam itu.


Mereka semua bernapas lega setelah itu. Raja Kai menengahi dengan mengucapkan maaf terhadap kelakuan orangnya dan mempersilahkan rombongan Jin hu yang hanya berempat termasuk dirinya dan Ze itu memasuki istana.


"Ada apa dengan dirimu kakek?" tanya Ze melalui telepati pada Hui tu setelah melihat Hui tu seolah-olah mencari sesuatu.


"Aku merasa seseorang tengah mengawasi diriku. Tapi, aku tidak melihat ada yang aneh di sekitar sini." jawab Hui tu.


Ya, setelah mereka memasuki kawasan istana, Hui tu merasakan sesuatu yang janggal. Seolah ada yang tengah mengawasi dirinya.


"Mungkin hanya perasaanmu saja." ucap Ze.


"Ya, mungkin saja." Saut Hui tu.


"Mengapa dia ada di tempat ini dan masih hidup?" batin seseorang yang masih dapat di dengar oleh Hui tu.

__ADS_1


"Apakah yang dimaksudkan orang itu adalah diriku?" batin Hui tu.


Tapi setelah itu dia memilih untuk mengabaikan dan mengikuti langkah Ze dan yang lain yang tengah mengikuti orang yang menunjukkan tempat yang akan menjadi kediaman sementara mereka sementara di istana kerajaan Kai.


__ADS_2