
Ze dan rombongan kembali ke penginapan untuk membereskan barang mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju desa Taoxi menyusul keluarga Si yang sudah berangkat lebih dulu.
"Lagi-lagi pesona kakak ke 2 akan menimbulkan masalah." celetuk Huo nan.
"Masalah apa?" tanya Jin hu.
"Gadis yang terpikat oleh pesona kakak ke 2 kali ini adalah putri dari saudara seperguruan ayah mertua kakak ke 2. Dari reaksi gadis itu, dia tidak terima dengan status kakak ke 2 yang telah menikah. Apakah itu akan berdampak pada hubungan saudara mereka jika putri dari saudara seperguruan grand master Ji bersikeras bertahan untuk menjadi pendampingmu." jelas Huo nan.
"Dari yang aku lihat dari sifat grand master Ji, dia akan langsung memutuskan hubungan persaudaraan dengan tuan Wu jin itu jika yang jadi taruhan adalah kebahagiaan putrinya. " ucap Zili.
"Hm, aku setuju." ucap Hui tu.
"Aku tidak perduli dengan apapun itu. Untuk kemarin, hari ini, esok dan selamanya, wanita satu-satunya yang akan berada di sisiku hanya ada istriku seorang. Jika ada yang ingin merubah itu, maka kematian adalah hukuman mutlak untuk siapapun itu." ucap Jin hu sambil mengelus sayang kepala Ze yang bersandar pada dada bidangnya.
"Ayah tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginanku. Jadi, tidak perduli siapapun itu, jika dia ingin mengusik hidupku yang tenang, maka dia akan hadapi." ucap Ze.
"Berhenti....!" seru Ze membuat kuda naga terbang berhenti mendadak.
"Duk... Aduh.....! Kakak ipar, kenapa kau menghentikan kereta tiba-tiba?" protes Huo nan karena kepalanya terbentur dinding kereta.
"Di luar ada seekor rusa. Aku ingin kalian menangkapnya dan membuat sup dari daging rusa itu." jawab Ze.
"Tidak bisa kakak ipar. Hutan ini adalah hunian raja binatang yang tidak mengijinkan siapapun ras manusia menangkap binatang bahkan seekor semut." ucap Huo nan.
"Aku tidak perduli....! Tangkap sekarang juga. " ucap Ze bersikeras.
"Baik yang mulia." ucap Zili yang memang tidak bisa menentang keinginan Ze apapun itu.
"Mengapa kau berulah terus wanita bodoh?" tanya kesal Hui tu.
Walaupun kesal Hui tu tetap turun dari kereta untuk menangkap rusa yang dimaksud Ze. Mereka berhasil menangkap seekor rusa dan membawanya pada Ze. Tiba-tiba angin kencang tertiup ke arah mereka dan suara yang menggelegar terdengar dari arah datang angin itu.
__ADS_1
"MANUSIA RENDAHAN SEPERTI KALIAN KENAPA BERANI MENANGKAP HEWAN YANG BERADA DALAM WILAYAH PERLINDUNGAN RAJA BINATANG?" ucap suara lantang itu.
"Kalian semua olah rusa itu menjadi sup dan daging bakar. Biar aku yang mengurus burung kecil itu." ucap Ze.
"Bagaimana kau bisa tahu aku seekor burung?" tanya pemilik suara keras itu.
"Bukan urusan mu. Kau hanya perlu menyingkir dan membiarkan aku makan dengan tenang rusa yang berhasil rekanku tangkap atau aku terpaksa membuat kau juga menjadi santapan kami." ucap Ze.
"Kurang ajar.....!" seru suara itu lalu energi kuat berbentuk bilah bilah pedang menyerbu ke arah Ze.
Ze mengibaskan tangannya dan bilah bilah pedang itu hancur. Ze terbang ke arah burung yang mengaku raja binatang itu. Terjadi pertarungan antara mereka. Burung itu berbentuk seekor elang dengan ukuran yang sangat besar.
Burung itu menyerang Ze dengan paruh juga serangan energi yang berbentuk bilah pedang. Ze berhasil menghindari semua serangan dengan sangat mudah.
"Kau hanya mampu menghindar saja hah? Kau sengaja membuat aku kesal dasar wanita pengecut." ucap kesal burung itu.
"Duak.... Bruk." Ze menendang tubuh burung itu hingga terhempas menghantam pohon membuat pohon itu tumbang.
"Kau salah karena meminta kematian dengan menyebut aku seorang pengecut." ucap Ze.
"Bagaimana bisa kau mengejar walaupun aku menggunakan kecepatan tinggi?" tanya burung itu yang terkejut melihat Ze memasuki gua miliknya.
"Gerakan selambat itu kau sebut kecepatan tinggi? Apakah kau sedang membual heh?" ejek Ze.
"Pelindung binatang heh? Kau hanya menginginkan energi kehidupan seluruh binatang dalam hutan ini untuk dirimu saja dan berani menyebutkan dirimu sebagai pelindung mereka." ucap Ze saat melihat banyak kerangka binatang di dalam gua itu.
Ze kembali akan menyerang burung itu namun burung itu bersujud meminta maaf.
"Pendekar yang baik hati. Mohon ampuni nyawa burung tua ini." ucap burung itu.
"Akh...." pekik burung itu lalu tubuhnya hancur karena Ze menyerangnya dengan serangan tenaga dalam yang sangat kuat.
__ADS_1
"Kau sudah banyak membunuh manusia karena keserakahan terhadap energi kehidupan dari binatang di hutan ini. Kau pantas untuk mati." ucap Ze setelah melihat tubuh burung itu hancur.
Ze hendak pergi dari tempat itu tapi langkahnya terhenti saat melihat sebutir telur yang sangat besar dengan warna campuran emas dan biru langit.
"Telur apa itu?" ucap Ze.
Ze menghampiri dan menyentuh telur itu. Lalu merasakan aura yang keluar dari telur itu.
"Aura kekuatan yang sangat besar. Ini bukan milik burung itu pastinya karena telur ini memiliki aura yang lebih kuat dari burung itu. " ucap Ze.
"Sebaiknya aku tanya pada Silla saja soal telur ini." ucap Ze lalu segera masuk ke dalam batu dimensi tempat Silla.
"Kau sebaiknya membawa telur itu bersama denganmu." ucap Silla sebelum Ze sempat mengatakan apapun.
"Kau mengejutkan aku." ucap Ze kesal.
"Apakah telur itu sangat berharga?" tanya Ze.
"Itu adalah telur dari binatang tingkat dewa. Tentu sangat berharga." jawab Silla.
"Binatang tingkat dewa itu seberapa berharga?" tanya Ze.
"Tingkat binatang roh itu ada 5. Binatang tingkat rendah yang sering disebut dengan siluman, tingkat atas seperti phoenix api, naga api, dan sejenisnya, tingkat raja seperti raja naga, raja merak dan raja phoenix seperti milikmu. Tingkat suci seperti naga suci, phoenix suci, dan terakhir yang paling tinggi adalah tingkat dewa. Untuk kekuatan tentu setiap tingkat jauh lebih kuat dari tingkat dibawahnya." jelas Silla.
"Baiklah aku paham. Aku akan memasukkan telur itu kedalam batu dimensi." ucap Ze.
"Keberuntungan dirimu sungguh suatu yang sangat istimewa. Kau selalu mendapatkan yang terbaik secara tidak sengaja." ucap roh pedang.
"Ya, segala hal yang terbaik secara tidak sengaja selalu berkumpul di sekitarnya. Dia berhasil mendapatkan telur itu sebelum burung itu berhasil menyerap energi kehidupan dari telur itu. Perjalanan membantu rekannya bahkan menjadi keberuntungan yang luar biasa." ucap Silla.
"Kalian berdua juga merupakan keberuntungan tidak sengaja yang aku dapatkan bukan?" tanya Ze.
__ADS_1
"Ya, aku tidak bisa mengatakan tidak." ucap roh pedang.
"Ya sudah, aku harus segera kembali untuk mengamankan telur itu dan menemui yang lainnya sebelum mereka khawatir." ucap Ze.