Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Kerajaan Xin


__ADS_3

Terserah, sekarang kita akan kemana? Apakah langsung kembali ke istana atas awan?" tanya Hui tu.


"Kita menemui Huo nan dulu. Aku penasaran apa yang dia lakukan pada ibu dan adik tirinya sehingga dia mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun selama dia ikut dengan kita sebelumnya." jawab Ze.


"Aku setuju, aku juga penasaran dengan ulah si pangeran konyol itu." ucap Hui tu.


"Apapun yang istriku inginkan maka akan aku ikuti." ucap Jin hu.


Mereka akhirnya memutuskan untuk segera memasuki kawasan istana kerajaan Beicheng. Di gerbang penjaga langsung menyambut kedatangan mereka tanpa memeriksa karena sangat kenal dengan kereta milik Jin hu juga mereka sudah mengenal Hui tu yang duduk di bagian kusir.


"Salam tuan." ucap penjaga menyapa Hui tu yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Hui tu.


"Tunggu dulu...." seru seseorang saat kereta yang membawa Ze dan yang lainnya hendak memasuki gerbang.


"Mengapa mereka yang baru tiba bisa masuk ke dalam istana bahkan tanpa diperiksa sedikitpun, sedangkan aku yang merupakan keponakan dari permaisuri harus menunggu ijin untuk masuk?" tanya orang itu yang sepertinya seorang gadis.


"Permaisuri dari mana yang sedang kau sebutkan?" tanya Hui tu bingung.


"Tentu permaisuri dari kerajaan ini." jawab gadis itu.


"Apakah kau sedang mengigau? Dari yang aku tahu, semenjak mendiang permaisuri meninggal, tidak pernah ada lagi wanita yang diangkat sebagai permaisuri. Kecuali, Huo nan telah naik tahta dan mengangkat permaisuri mungkin itu akan masuk akal." ucap Hui tu.


"Huo nan tidak akan berani menikah tanpa memberitahu kita. Abaikan saja lalat itu dan ayo lanjutkan perjalanan." ucap Ze dari dalam kereta.


"Wanita tidak tahu aturan dari mana yang berani mengatakan aku sebagai lalat? Apakah salah jika bibiku yang menjadi satu-satunya selir disebut permaisuri karena tidak ada permaisuri?" tanya geram gadis itu.


"Salah!" jawab tegas Ze.


"Permaisuri adalah gelar yang hanya dapat didapat setelah menerima pengakuan dari raja dan rakyat. Gelar itu tidak dibeli di pasar bebas sehingga jika kau ingin sebut maka tinggal kau sebutkan saja." ucap Hui tu.


"Tahan gadis tidak tahu aturan itu di luar. Aku tidak ingin selama kami bertemu putra mahkota dia ikut masuk ke dalam istana." ucap Jin hu.


Mereka segera masuk ke dalam istana sedangkan gadis itu berteriak memaki agar diijinkan untuk masuk dan bahkan mengancam. Tapi, para penjaga lebih takut menentang perintah dari Jin hu sehingga mereka tetap melarang gadis itu masuk.


"Dimana putra mahkota kalian?" tanya Ze setelah turun dari kereta sebelum pelayan sempat meyapanya.

__ADS_1


"Putra mahkota berada di ruang kerjanya yang mulia." jawab pelayan itu sopan.


"Kalau begitu kami akan menemui dia di sana." ucap Ze.


"Baik yang mulia ratu Jin, pelayan ini akan mengantar.....


"Tidak perlu mengantar kami. Kau kerjakan saja kembali apa yang hendak kau kerjakan sebelumnya. Kami tahu letak ruang kerja Huo nan dan hampir semua pelayan dan penjaga mengenal kami jadi tidak akan ada yang terjadi walaupun kami tidak diantar ke sana." Sela Ze.


Ze, Jin hu dan Hui tu berjalan bersama menuju tempat Huo nan. Di saat sedang santai berjalan mereka tanpa sengaja melihat selir Wu sedang duduk di sebuah taman dengan mata panda yang sangat pekat menandakan pemiliknya tidak memiliki tidur malam yang cukup bahkan mungkin tidak tidur sama sekali. Tatapannya kosong seolah yang duduk di sana hanya tubuhnya namun jiwanya entah berada di mana.


"Apakah yang si konyol maksud dengan menggunakan apa yang aku berikan padanya untuk membuat ibu tiri dan saudara tirinya tidak berdaya adalah salep halusinasi?" tanya Ze.


"Sepertinya memang itu yang dia gunakan. Lihat saja wanita yang biasanya sangat angkuh itu kini bagai tubuh tanpa jiwa." jawab Hui tu.


"Aku sependapat dengan itu." ucap Jin hu.


"Aku tidak keberatan dengan apapun yang dia lakukan pada orang selicik itu tapi, dia sepertinya menggunakan salep itu terlalu berlebihan. Apakah dia pikir bahan untuk membuat salep itu mudah untuk didapatkan huh." ucap Ze dengan kesal.


"Ayolah wanita bodoh, kau bukan orang yang kesulitan dalam memperoleh semua bahan itu. Mengapa kau harus mengomel hanya karena itu?" protes Hui tu.


"Ya ya ya, kalian memang benar. Tapi, apakah kalian pernah terpikir kalau aku tidak memiliki semua itu, bahan itu akan mudah untuk kita semua dapatkan?" tanya Ze.


"Tidak ada kata kalau ataupun jika dalam daftar kata yang kau miliki bukan? Jadi, itu tidak berlaku untuk dirimu dan kami orang-orang yang ada di sekitar dirimu." ucap Hui tu.


"Huh." Ze kehabisan kata untuk menjawab lagi.


Mereka tiba di depan pintu ruang kerja Huo nan. Ze melarang penjaga untuk mengumumkan kedatangan mereka dan dituruti oleh penjaga itu. Mereka segera memasuki ruangan setelah penjaga membukakan pintu untuk mereka.


"Bukankah putra mahkota melarang siapapun memasuki ruangan kerjanya? Mengapa kau membukakan pintu untuk mereka bahkan tanpa memberitahu kepada putra mahkota?" tanya seorang penjaga pada rekannya yang sepertinya adalah orang yang baru bekerja di istana.


"Karena kau orang baru yang bekerja di istana ini, sebaiknya kau harus ingat satu hal yang penting. Walaupun putra mahkota memberikan larangan di dalam istana ini, kau masih bisa memberlakukan aturan itu pada semua penghuni istana ini tapi, tidak pada mereka terutama pasangan suami istri itu. Putra mahkota malah akan menghukum kita jika kita berani menyinggung mereka." jelas penjaga yang membukakan pintu untuk Ze dan yang lainnya tadi.


"Kenapa....


"Kau hanya harus ingat itu saja. Tidak perlu bertanya alasan apapun." Sela rekannya.

__ADS_1


Ze, Hui tu dan Jin hu melangkah memasuki ruangan yang cukup besar yang dipenuhi banyak gulungan kertas di beberapa rak pada dindingnya. Di depan terlihat Huo nan yang sedang serius membaca sebuah kertas. Sangking serius membaca dia bahkan tidak menyadari kedatangan mereka bertiga.


"Kret...." Ze menyeret bangku sehingga menimbulkan suara yang membuat Huo nan menyadari bahwa ada orang lain di ruangannya.


"Bukankah aku sudah melarang siapapun memasuki ruangan ini?" tanya Huo nan tanpa menoleh ke arah mereka.


"Oh, apakah kami harus pergi sekarang karena putra mahkota telah mengeluarkan larangan untuk kami?" tanya Ze membuat Huo nan terkejut segera mengangkat kepalanya.


"Ah kakak ipar, aku tidak tahu itu kalian yang datang. Jangan marah dan tetaplah di sini." ucap Huo nan kelabakan karena Ze sudah kembali berdiri dan hendak melangkah keluar dari ruang itu.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau menjadi tidak fokus?" tanya Hui tu.


"Mengapa kau menjadi tidak waspada terhadap sekitarmu? Tidakkah kau sadar bahwa kapanpun kau tidak boleh kehilangan kewaspadaan terutama setelah kau diangkat sebagai putra mahkota?" omel Jin hu.


"Maaf kakak ke 2, aku hanya sedang memikirkan beberapa masalah dan.....


"Karena kau pikir lawanmu sedang tidak berdaya kau menjadi kehilangan kewaspadaan? Ingat, kenyamanan adalah ancaman yang besar untuk keselamatan seseorang. " ucap Ze.


"Baik kakak ipar, akan selalu aku ingat pesan dari kakak ipar ini." ucap Huo nan.


"Masalah apa yang kau sedang pikirkan sehingga membuat kau melamun?" tanya Jin hu.


"Kerajaan Xin mengirimkan surat yang menawarkan kerjasama antara kerajaan dengan hubungan pernikahan." jawab Huo nan.


"Apakah kau memiliki seseorang yang berhasil menaklukkan hatimu?" tanya Ze.


"Lalu kenapa kau menjadi risau tentang masalah ini?" tanya Ze lagi setelah menerima gelengan kepala dari Huo nan.


"Masalahnya pasti tidak semudah itu. Mengingat dua kerajaan itu berada dalam wilayah yang saling berdekatan, mereka pasti menginginkan dua kerajaan menjadi satu bukan?" tanya Jin hu.


"Benar kakak ke 2." jawab Huo nan.


"Apakah artinya salah satu dari kerajaan itu akan menjadi bagian dari kerajaan yang lainnya dan hanya akan ada satu raja yang berkuasa?" tanya Hui tu.


"Ya, dan karena kerajaan Xin jauh lebih besar dari kerajaan ini, mereka ingin kerajaan Beicheng hanya akan menjadi bagian dari kerajaan Xin. Masalah lainnya adalah, karena putra dari selir Wu tidak memiliki jalan untuk merebut tahta, dia membawa banyak dukungan untuk setuju dengan kerajaan Xin." jawab Huo nan.

__ADS_1


__ADS_2