Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Enam puluh satu


__ADS_3

Masih tentang kisah hidup Jin hu ya 😊


Merasa kalau kaisar dari Xin xia, ayah dari permaisuri yang baru sudah terlalu menekan dirinya dan sudah merasa berkuasa atas dirinya, kaisar Lian mencari dukungan dari pihak lain yang dapat membantunya untuk menekan ayah dari permaisuri Xin wan er.


Keluarga Duo dari Beicheng utara adalah keluarga yang cukup terpandang dan kuat. Putri mereka yang kebetulan adik seperguruan Jin hu yang merupakan murid perempuan satu-satunya raja Ruo, gadis itu menyukai Jin hu dan keluarga gadis itu juga menginginkan Jin hu yang merupakan seorang jenius kultivasi untuk menjadi menantu mereka.


Merasa kalau itu adalah kesempatan yang bagus untuk menjalin hubungan dengan orang dari api penyucian dan Beicheng Utara, kaisar Lian menyetujui perjodohan itu tanpa meminta pendapat Jin hu.


Siang itu setelah memutuskan untuk menyetujui perjodohan Jin hu dan Liu sia, kaisar Lian memanggil Jin hu untuk menghadap di tempatnya.


"Ada apa ayah kaisar memanggil saya?" tanya Jin hu tanpa embel-embel hormat atau apapun itu.


"Aku sudah memutuskan untuk menikahkan dirimu dengan Liu sia." ucap kaisar Lian langsung.


"Apakah ada yang salah dengan pendengaranku? Pernikahan aku dengan Liu sia?" tanya Jin hu dengan kening berkerut.


"Tidak salah, kau akan menikahi putri Liu sia dalam waktu dekat ini." jawab kaisar Lian.


"Aku menolaknya." ucap tegas Jin hu.


"Aku tidak memanggil dirimu untuk meminta pendapat. Aku hanya memberi tahu kepadamu dan agar kau bersiap untuk itu. Apa ruginya jika kau bersamanya? Dia gadis yang cantik, pandai dan tentunya keturunan keluarga terpandang lagi pula kalian sudah cukup lama saling kenal karena kalian saudara seperguruan bukan." jelas kaisar Lian.


"Aku tetap tidak akan setuju. Ini hidupku dan jika menikah dengan keluarga terpandang adalah suatu keharusan, anda saja yang menikahi dia bukankah menambah satu selir lagi bukan hal sulit bagi kaisar Lian?" ucap Jin hu.


"Jaga ucapanmu.....!" bentak kaisar Lian geram.


"Apa yang salah dengan yang aku ucapkan?" tanya Jin hu.


"Aku tidak mau tahu, kau harus bersiap untuk Pernikahan ini." putus kaisar Lian.


"Apakah anda masih belum cukup mengorbankan ibuku demi kekuasaan dan masih ingin aku ikut berkorban?" tanya Jin hu dengan nada sinis dan tatapan kebencian.


Mendengar Jin hu mengungkit kembali kematian ibunya dan menyalahkan dirinya atas peristiwa itu, Kaisar Lian emosi dan menghantam wajah Jin hu dengan tinjunya membuat sudut bibir Jin hu robek dan berdarah.


"Terima perjodohan itu maka posisi putra mahkota akan kembali menjadi milikmu. Jika tidak, maka gelar pangeran akan dicopot darimu dan silahkan keluar dari istana ini." ucap kaisar Lian tegas.


"Aku tidak seperti anda yang rela mempermainkan dan menghancurkan pernikahan demi ambisi. Aku hanya akan menikah dengan seorang wanita saja dan dia harus orang yang aku cintai. Sudah pasti orang itu bukan gadis pilihan anda. Aku akan keluar dari istana ini dan mencopot gelar pangeran ketiga kekaisaran Duocheng ini." putus Jin hu.

__ADS_1


"Tidakkah kau tahu aku melakukan ini agar dapat menyingkirkan mereka yang menyebabkan kematian ibumu?" tanya Kaisar Lian dengan nada lirih.


"Jangan bawa-bawa nama ibuku dalam hal ini. Ibuku meninggal karena kesalahan anda dan aku tidak akan pernah memaafkan anda atas apa yang terjadi. Nikmati kekuasaan yang anda miliki dengan mengorbankan ibuku ini." ucap Jin hu lalu melangkah pergi.


Setelah itu kaisar Lian mengumumkan pencopotan gelar pangeran ketiga dari Jin hu dan menyatakan bahwa Jin hu bukanlah bagian dari kekaisaran Duocheng lagi.


Tuan Jin (ayah kandung Jin Siao li) mendengar kabar itu dan menjemput Jin hu. Jin hu dia angkat menjadi pemimpin kota awan dan kemudian di bangun Jin hu menjadi sebuah kerajaan dan dijuluki istana atas awan oleh banyak orang hingga saat ini.


...****************...


Meninggalkan kisah hidup Jin hu yang menyedihkan


Mengingat semua kenangan itu hati Jin hu sangat hancur dan dipenuhi amarah. Dia selalu menyalahkan dan marah pada dirinya sendiri atas apa yang menimpa ibunya.


Jin hu mulai berteriak dan memaki serta memukul dirinya sendiri. Melihat itu Ze segera memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Tenanglah dan kembali padaku. Masih ada aku yang bersamamu dan masih ada aku yang membutuhkan dirimu." ucap Ze.


Setelah itu perlahan tubuh kaku Jin hu kembali rileks. Jin hu yang dalam alam bawah sadarnya sedang bertarung dengan kebencian, kemarahan dan kesedihan yang dia rasakan merasakan kehangatan pelukan Ze.


"Aku akan melepaskan masa itu dan merelakan kepergian ibu. Aku berharap ibu melihat aku telah bahagia dan melepaskan diri dari istana yang penuh nafsu keserakahan itu. Apakah ibu akan bahagia melihat itu?" ucap Jin hu.


Perlahan cahaya menyilaukan muncul di depannya dan wajah cantik dengan senyuman tulus muncul dari cahaya yang perlahan memudar itu.


"Ibu?" sapa Jin hu dengan senyum haru karena baru kali ini dapat melihat senyum tulus dari wajah ibunya.


"Ibu bahagia." hanya itu yang ibunya ucapkan dan kemudian menghilang.


Hanya kata itu pula yang Jin hu butuhkan agar dapat berhenti menyalahkan dirinya juga membenci dirinya. Jin hu membuka matanya perlahan dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Perasaannya semakin membaik saat dia membuka mata dan menyadari bahwa dirinya berada dalam pelukan hangat orang yang sangat penting dalam hidupnya saat ini.


Orang yang sangat dirinya sayang dan butuhkan. Siapa lagi kalau bukan istri kecilnya Ze.


"Terima kasih." ucap Jin hu sambil tersenyum tulus lalu membalas pelukan Ze.


"Kau sudah sadar? Kau sudah kembali?" ucap Ze tersenyum bahagia.


"Ya, berkat dirimu dan demi dirimu." jawab Jin hu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu istriku." tambahnya.


"Aku juga." saut Jin hu.


Jin hu ingin mendaratkan bibirnya pada bibir mungil istrinya yang menjadi candunya itu namun gagal karena seseorang berdehem.


"Khem khem." dehem Zili dan Suho membuat Ze memalingkan wajahnya agar tidak menyambut bibir suaminya dengan bibirnya.


Sedangkan Jin hu yang hanya mendapatkan pipi sang istri untuk dicium memasang wajah kesalnya.


...----------------...


Sedikit bercerita tentang yang terjadi saat Ze dan Jin hu sama-sama terjebak dalam ingatan suram hidup mereka masing-masing.


"Tidak jangan....." gumam Ze.


"Mama.......!" teriak Ze.


"Papa......!"


"Tidak jangan....."


"Bukankah ibu juga ayah dari putri masih ada dan sehat? Mengapa putri berteriak memanggil mereka bahkan dengan sebutan mama dan papa seolah mereka sudah tiada?" tanya Suho.


"Entahlah, itu adalah rahasia putri yang tidak pantas kita cari tahu kecuali putri sendiri yang bersedia untuk mengungkapkan pada kita." jawab Zili.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cuap-cuap author lagi kuy


Ada yang nanya masalah apakah novel ini akan ada audio book nya.


Masalah audio book itu bukan keputusan author ya say, itu adalah keputusan admin dari MT dan NT jadi, author tidak bisa jawab iya ataupun tidak.


Yang sediakan dan memilih pengisi suara juga bukan author ya kalau ada audio book nya nanti 😊


Selamat membaca 😗

__ADS_1


__ADS_2