
Liu ku mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Luo yin.
"Aku harap ibu tidak mengungkit lagi masalah tadi siang di depan Mei yin. Karena, dia bisa saja menggunakan itu sebagai alasan untuk menunda pernikahan kami." ucap Liu ku.
"Memangnya kapan kalian akan menikah?" tanya Luo yin.
"Mengingat besok kami harus melakukan perjalanan jauh dan tentunya akan memakan waktu cukup lama, sedangkan Mei yin bisa saja merubah keputusannya setiap saat dengan sifat kekanakannya itu, aku memutuskan untuk melangsungkan pernikahan malam ini juga." jawab Liu ku.
"Mei yin yang sudah setua itu kau bilang kekanakan? Kau ingin aku mengetuk kepalamu itu hm?" tanya Luo yin.
"Ibu bisa pikirkan saja, bagaimana bisa seorang yang telah dewasa dapat dengan mudah mengambil keputusan dan marah tidak jelas hanya karena sedikit provokasi dari puterinya?" jelas Liu ku.
"Tunggu dulu, provokasi dari Ze? Bukankah artinya Ze tahu mengenai hubungan kalian sebelum ini?" tanya Luo yin.
"Kalau dari kelakuan Ze, aku pikir dia pasti tahu.Tapi, aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu." jawab Liu ku.
"Ze adalah orang yang cukup peka. Dia pasti dapat menebak dengan melihat tingkah kau dan Mei yin." ucap Jeong nam.
"Apakah tingkah kami terlalu mencolok? Sedangkan aku sendiri baru saja menyadari perasaanku yang sebenarnya pada Mei yin." tanya Liu ku.
"Untuk orang-orang yang cukup peka seperti aku dan Ze, kami dapat menebak perasaan kalian dengan melihat tingkah kalian saat bersama. Tapi, jika di depan orang seperti ibumu ini (menarik kepala Mei yin lalu mengecup keningnya singkat) dia tidak akan menyadari hal itu." jelas Jeong nam.
"Ada apa istriku sayang?" tanya Jeong nam karena Luo yin memukul lengannya cukup keras.
"Kau orang tua tidak tahu malu." ucap Luo yin.
"Apa salahnya, aku hanya mengecup kening istriku saja sebagai wujud rasa sayang padamu." bela Jeong nam.
"Tapi setidaknya jangan di depan Liu ku atau yang lainnya. Memalukan sekali mengingat usia kita yang tidak lagi muda." ucap Luo yin.
"Tumben kau mengaku tua. Biasanya kau akan kesal jika di katakan tua." ledek Jeong nam sambil tersenyum melihat istrinya yang kesal.
"Berhenti berdebat denganku. Aku bilang kau salah ya salah." ucap Luo yin.
"Baiklah sayang, aku memang bersalah. Maafkan suamimu ini." pasrah Jeong nam akhirnya yang tidak ingin istrinya benar-benar marah.
__ADS_1
"Semoga hubungan aku dan Mei yin akan berlangsung lama dan terus hangat hingga akhir seperti mereka berdua." batin Liu ku yang terus menyaksikan perdebatan kedua mertuanya itu.
"Khem khem khem." dehem Liu ku untuk menghentikan perdebatan yang membuat dirinya seolah-olah transparan itu.
"Jadi, apakah ayah dan ibu setuju dengan rencana pernikahan kami?" tanya Liu ku setelah perhatian keduanya kembali padanya.
"Ibu setuju dan akan segera membantu Mei yin bersiap. Bagaimana suamiku?" ucap Luo yin.
"Apapun demi kebahagiaan kalian aku setuju saja. Bagiku kau atau Mei yin sama dihatiku sebagai anak yang aku pedulikan." jawab Jeong nam.
"Terima kasih ayah, ibu." ucap Liu ku sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Karena aku masih harus meminta ijin putriku dulu. Walaupun aku tahu dia akan setuju mengingat ulahnya yang ingin membantu hubungan kami agar lebih jelas. Yah, walau karena itu Mei yin jadi merajuk." ucap Liu ku.
"Ya, kau harus memberitahu langsung pada putrimu karena dia juga penting bagi kalian." saut Luo yin.
"Ze selalu memiliki cara untuk membantu orang di sekitarnya." ucap Jeong nam.
"Itulah yang membuat aku bangga padanya." tambahnya membuat Luo yin dan Liu ku mengangguk menyetujui ucapan Jeong nam.
...----------------...
Mei yin sedang berjalan menuju kediaman Ze dan Jin hu sambil bergumam sendiri. Di jalan dia bertemu dengan Jin hu yang kebetulan ingin pergi ke ruang sidang istana.
"Aku ingin mencari tahu kebenaran ucapan Liu ku dari Jin hu. Tapi, bagaimana caranya aku bertanya agar dia tidak bertanya alasan aku ingin tahu? Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku curiga dengan hubungan Liu ku dengan wanita lain bukan? Sama saja aku mempermalukan diri sendiri dengan mengaku cemburu." gumam Mei yin berjalan sambil menundukkan kepala.
"Apa aku tanya pada Ze saja? Biar dia yang menanyakan kepada Jin hu?" gumamnya lagi.
"Sebaiknya seperti itu saja." putus Mei yin lalu memutar langkahnya.
"Ibu." panggil Jin hu membuat langkah Mei yin yang hendak kembali ke kediamannya terhenti.
"Ibu hendak kemana?" tanya Jin hu.
"Ah ibu sebenarnya ingin mencari Ze." jawab Mei yin.
__ADS_1
"Tapi, ibu lupa sesuatu jadi ingin kembali dulu baru mencari Ze setelahnya." tambahnya setelah menyadari dia telah berputar arah dan melihat wajah Jin hu seperti seorang yang bingung mendengar jawaban pertamanya.
"Oh, Ze sekarang memang ada di kamar tapi dia sedang berlatih agar lebih mahir lagi meracik pil. Dia juga sedang mencoba membuat pil jenis baru jadi mungkin sekitar 3 atau 4 jam lagi baru bisa ditemui." ucap Jin hu.
"Kalau seperti itu sebaiknya ibu menemuinya sore nanti saja." putus Mei yin.
"Kau hendak kemana?" tanya Mei yin.
"Aku ada sedikit urusan di ruang persidangan istana jadi ingin ke sana." jawab Jin hu.
"Sepertinya lebih baik bertanya langsung pada Jin hu karena dia telah menyinggung masalah istana." batin Mei yin.
"Apakah masih banyak masalah istana yang belum selesai? Aku dengar bahkan kau meminta ayah mertuamu untuk membantu mencari informasi." tanya Mei yin.
"Cukup banyak dan ya aku terpaksa meminta ayah dan yang lainnya karena tidak banyak yang bisa aku percaya penuh di dalam istana ini." jawab Jin hu.
"Oh seperti itu. Sebaiknya kau segera menuju ruang sidang takutnya sudah banyak yang tidak sabar menunggu kau di sana." ucap Mei yin.
"Baik ibu." Saut Jin hu lalu pergi dari sana.
"Jin hu." panggil Liu ku saat Jin hu berjalan menuju ke ruang persidangan dan Mei yin sudah tidak terlihat lagi.
"Ya ayah?" sahut Jin hu.
"Di mana Ze?" tanya Liu ku.
"Dia sedang membuat pil di tempat biasa." jawab Jin hu.
Tempat biasa mereka gunakan untuk menyebut batu dimensi karena itu tempat biasanya Ze membuat pil. Menghindari jika ada yang mendengar percakapan mereka.
"Oh, kalau begitu nanti saja ayah mencari Ze. Kau mau kemana?" tanya Liu ku.
"Ke ruang persidangan, ayah." jawab Jin hu.
"Aku ikut saja sambil kita membahas apa informasi yang aku dapatkan dari wanita bermarga Gong itu." putus Liu ku.
__ADS_1