
Hui tu dan ular api terus membakar api sejati dan memasukkan batu yang sudah membara ke dalam masing-masing bak rendaman setiap beberapa saat atas perintah Ze.
"Akh......ah.....akh...." Perlahan master Tang yang hanya diam dengan tubuh bergetar mulai mengeluarkan suara rintihan hingga memekik pilu.
Tubuh Ze bergetar menyaksikan penderitaan gurunya. Dia sangat sedih melihat gurunya menderita juga khawatir akan keberhasilan pengobatan mereka.
"Jangan dilihat agar hatimu tidak semakin sakit." bisik Jin hu sambil menyembunyikan wajah Ze dalam pelukannya.
Jin hu menutup telinga Ze agar tidak mendengar teriakan pilu sang guru yang sangat dia sayangi itu. Ze hanya meneteskan air mata tanpa bersuara dalam pelukan hangat suaminya. Tubuhnya bergetar menahan rasa pilu di dalam hatinya.
"Aku harus bisa lebih kuat lagi agar dapat melindungi mereka yang menyayangi aku." batin Ze.
Master Tang terus menerus berteriak kesakitan dalam rendaman itu. Hui tu dan ular api terus melakukan tugasnya memasukkan batu sejati yang membara ke dalam air rendaman master Tang.
"Apakah mereka akan bertahan?" tanya ular api melihat betapa menderitanya master Tang di dalam air rendaman itu.
"Mereka harus mampu bertahan agar gadis bodoh itu tidak lebih menderita dalam penyesalan yang sebenarnya bukan salahnya." jawab Hui tu sambil menatap tubuh bergetar Ze dalam pelukan Jin hu.
"Setidaknya mereka harus bertahan dan menganggap ini adalah hukuman karena tidak percaya dengan kemampuan putri mereka." gumam Hui tu.
Dia menyebut kata putri karena dia sangat tahu bagi master Tang, Ze bukan sekadar murid biasa. Ze adalah putri tersayang bagi mereka seperti dirinya yang menganggap gadis menyebalkan yang selalu bisa membuat dirinya kesal adalah keluarga yang harus dia lindungi.
Setelah cukup lama berendam dalam air rendaman obat itu, teriakan master Tang perlahan mulai berkurang dan hilang. Setelah itu mereka kembali jatuh tidak sadarkan diri.
"Mereka tidak sadarkan diri." ucap Hui tu.
Ze perlahan menoleh ke arah rendaman master Tang saat Jin hu meregangkan pelukannya dan melepaskan tangannya dari telinga Ze.
"Bantu aku mengangkat tubuh guru dan letakkan keduanya kembali ke atas tempat tidur itu." ucap Ze saat melihat warna air rendaman yang telah berubah menjadi hitam pekat.
Mendengar permintaan Ze, Hui tu, ceri emas, ular api, juga Jin hu segera mengangkat tubuh kedua orang tua yang sedang tidak sadarkan diri itu dari dalam rendaman berwarna hitam pekat itu lalu meletakkan tubuh mereka ke atas tempat tidur.
"Biarkan mereka seperti ini dulu. Kau sebaiknya istirahat dan biarkan kami yang menjaga master Tang." ucap Hui tu yang melihat lingkaran hitam di mata Ze.
__ADS_1
"Tapi....."
"Kau tidak berencana membuat aku dan yang lainnya merawat tubuh kelelahan mu karena kurang istirahat saat master Tang pulih bukan?" tanya Hui tu memotong protes Ze.
"Istirahat sejenak lalu kau akan baik-baik saja dan tidak membuat kami semakin sibuk mengurus orang sakit lainnya." ucap Hui tu.
"Hui tu benar sayang. Kau hanya tidur sebentar saja dalam beberapa hari ini demi mencari bahan untuk mengobati master Tang. Sekarang mereka sudah melewati masa kritis jadi, sebaiknya kau juga harus memperhatikan kesehatan dirimu juga agar mereka tidak akan semakin merasa bersalah saat mereka bangun nanti." ucapnya Jin hu.
"Huft, baiklah aku akan beristirahat. Ingat untuk langsung membangunkan aku saat terjadi sesuatu pada guru." ucap Ze akhirnya pasrah.
"Beri mereka minum pil regenerasi ini saat mereka bangun nanti." ucap Ze lagi sambil menyerahkan pil pada Hui tu.
"Ya, aku akan lakukan sesuai ucapanmu. Istirahat saja dengan tenang karena ada kami yang akan menjaga mereka." ucap Hui tu.
Ze akhirnya memutuskan untuk kembali beristirahat di dalam batu dimensi agar dapat beristirahat cukup tapi tidak terlalu lama meninggalkan master Tang.
Hui tu dan yang lainnya hanya terdiam selama beberapa saat sambil terus memperhatikan kondisi master Tang yang masih belum sadarkan diri.
"Apakah burung itu adalah hewan roh?" tanya Hui tu.
"Bukan, burung ini adalah binatang ajaib milik penasehat istana atas awan." jawab Jin hu.
"Aku baru melihat binatang ajaib sejenis ini bahkan aku tidak bisa merasakan bahwa itu adalah bintang ajaib." ucap Hui tu.
"Ini adalah binatang ajaib yang keluarganya miliki secara turun temurun dan aku juga tidak pernah sekalipun melihat jenis yang sama dengan binatang itu di seluruh tempat yang aku datangi." saut Jin hu.
Jin hu lalu mengambil surat yang terikat pada kaki burung berwarna hitam itu dan membacanya. Jin hu mengerutkan keningnya saat membaca isi dalam surat itu.
"Aku akan pergi beberapa hari karena ada sesuatu yang harus aku urus segera. Jika Ze bangun tolong sampaikan aku harus kembali ke istana atas awan dan akan sesegera mungkin kembali." ucap Jin hu pada Hui tu setelah selesai membaca surat yang burung itu bawa.
"Apakah ada masalah yang serius?" tanya Hui tu.
"Tidak begitu serius tapi jika tidak segera di tangani maka akan menjadi masalah serius dan berdampak buruk bagi istana atas awan." jawab Jin hu.
__ADS_1
"Maka pergilah." ucap Hui tu.
Jin hu pergi setelah berpamitan pada Hui tu dan yang lainnya.
"Sebaiknya kau dan ular api memasak atau keluar mencari makanan karena sebentar lagi saatnya makan malam." ucap Hui tu pada ceri emas setelah Jin hu pergi.
"Benar, sebentar lagi nyonya Jin akan bangun mengingat dia tidur di dalam batu dimensi." ucap ular api.
"Di dalam sudah tidak ada bahan makanan, Sebaiknya kita beli saja." ucap ceri emas.
"Hm, itu lebih baik." ucap Hui tu.
Saat ular api dan ceri emas pergi, Hui tu melihat kelopak mata master Tang bergetar seperti akan terbuka. Dia dengan serius memperhatikan kedua master itu yang tampak akan sadar dari pingsannya.
"Eugh." lenguh Tang hui bi yang lebih dulu sadar sambil memegang kepalanya.
"Master Tang, anda sudah siuman?" tanya Hui tu.
"Tolong air." ucap Tang hui bi yang sudah membuka mata.
Hui tu memberikan air sekaligus membantu orang tua itu bangun agar dapat meminum airnya.
"Sebaiknya anda menelan pil ini juga agar kondisi anda lebih baik." ucap Hui tu sembari memberikan pil padanya.
"Terima kasih." ucap Tang hui bi saat merasa bahwa tubuhnya jauh lebih baik setelah meminum pil yang Hui tu berikan padanya.
"Apakah anda sudah merasa lebih baik?" tanya Hui tu.
"Jauh lebih baik." jawab Tang hui bi.
"Syukurlah." ucap Hui tu.
"Mana Ze?" tanya Tang hui bi.
__ADS_1