Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Enam puluh enam


__ADS_3

"Api dari bunga itu lebih kuat dari api sejati yang putri miliki." ucap Zili.


"Oh benarkah?" tanya Ze.


"Ya, jika api sejati dapat membakar habis tubuh hewan ajaib dan dapat digunakan untuk pembakaran pada tungku obat, api dari bunga api neraka itu bahkan bisa membakar habis hewan roh, monster dan bahkan melelehkan besi baja dalam waktu sekejap saja." jelas Zili.


"Wah ajaib. Andai ada cara untuk memiliki api itu seperti aku memiliki api sejati." ucap Ze.


"Sejauh yang saya tahu, tidak ada yang pernah memiliki api bunga api neraka itu. Jangankan mengambil apinya, bahkan umbinya itu jika kita dapat memperolehnya dengan tanpa terluka hari ini, maka kita termasuk orang-orang yang beruntung." jelas Zili.


"Bunga yang mana yang akan kita ambil umbinya putri?" tanya Suho yang sudah merubah wujudnya menjadi seekor burung berukuran kecil dengan cakar yang besar.


"Wah Suho, kau tampak menggemaskan dengan wujud itu." ucap Ze takjub.


"Sebaiknya putri pilih segera tanah bagian mana yang harus aku gali, seberapa dalam dan kearah mana." ucap Suho yang sedikit kesal disebut menggemaskan.


Ze tampak serius mengamati tanah di sekitar beberapa tanaman api neraka itu tumbuh. Sesekali dia akan menyentuh tanahnya dan setelah cukup yakin dia memberitahu pada Suho apa yang harus Suho lakukan.


"Dari beberapa tanaman itu, ada dua yang bisa kita gali lubang di sekitar tanahnya. Yang lainnya tidak bisa karena tekstur tanahnya berpasir sehingga tidak akan aman untuk membuat gua karena kemungkinan besar akan longsor." jelas Ze sambil menunjuk letak tanah yang dia maksud.


"Dari dua itu, mana yang akan kita gali?" tanya Suho.


"Apakah cakar milikmu itu tidak bermasalah dengan jenis tanah yang keras bahkan batu?" tanya Ze.


"Jika putri bertanya seperti itu, aku merasa putri terlalu meremehkan kemampuan aku." ucap Suho.


"Baiklah, aku artikan bahwa itu bukan masalah untukmu. Maka, menggalilah di tanah sebelah sana (menunjukkan tanah yang dia maksud) menggali miring ke arah tanaman itu (menunjuk tanaman yang dia maksud) kedalamannya sekitar 9 kaki maka kau harus menggali sekitar 12 kaki." jelas Ze.


"Jika menggunakan rumus phitagoras maka akan seperti itu." tambah Ze namun hanya berupa gumaman kecil.


"Baiklah putri." ucap Suho lalu bersiap akan menggali dengan cakarnya.


"Pangeran tidak perlu ikut mengerjakan ini juga. Aku lebih dari mampu untuk mengerjakan tugas ini sendiri." ucap Suho lagi setelah melihat Zili ikut merubah wujudnya juga seperti dirinya.

__ADS_1


"Biar aku membantu agar tugas ini selesai lebih cepat." ucap Zili.


"Tapi...."


"Cepatlah menggali jangan hanya berdebat saja." ucap Zili langsung menggali tanah sesuai arahan Ze.


Akhirnya Suho pasrah membiarkan pangeran negri nya ikut melakukan pekerjaan yang kasar menurutnya.


"Apakah mereka berdua baik-baik saja di dalam sana?" gumam Ze agak khawatir karena Zili dan Suho sudah cukup lama menggali tanah dan belum juga muncul.


"Semoga mereka bisa mendapatkan umbi itu dan tidak terluka sedikitpun." ucap Ze lagi penuh harap.


Setelah lama menunggu Ze dapat melihat tanaman api di depannya itu perlahan memudar warnanya. Dari merah cerah dan bersinar, menjadi merah pudar tanpa sinar.


"Apinya melemah?" gumam Ze melihat api di bunga api neraka itu perlahan mengecil dan bahkan sebagian sudah padam.


Tidak lama setelah itu Suho dan Zili muncul dari lubang yang mereka gali membawa beberapa buah umbi yang ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa.


"Kami telah mengambil umbinya putri." ucap Zili sembari menyerahkan umbi yang mereka bawa.


"Maaf putri, karena terlalu bersemangat kami lupa untuk menyisakan umbi pada tanaman itu." ucap Zili seraya meringis melihat ulahnya dan Suho yang membuat tanaman yang tadinya tumbuh sangat subur menjadi layu seketika.


"Sudahlah, sudah terlanjur terjadi juga. Lagi pula masih ada beberapa tanaman lainnya yang masih tumbuh subur. Aku akan mengambil sebagian dari jumlah umbi yang kalian dapatkan dan kalian dapat menyimpan sisanya untuk simpanan siapa tahu suatu saat kalian akan membutuhkan itu." ucap Ze sembari mengambil beberapa buah umbi yang diberikan oleh Zili dan Suho.


"Masih tersisa berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan master Tang?" tanya Suho.


"Sekitar 5 hari." jawab Ze.


"Ada apa? Mengapa kau seperti menyembunyikan sesuatu dan ragu untuk mengatakannya?" tanya Ze melihat wajah gusar Suho.


"Sebenarnya keadaan Doju tiba-tiba memburuk dan untuk apa penyebabnya kami tidak ada yang tahu." jawab Suho ragu.


"Mengapa tidak kau katakan sejak awal?" tanya Ze kesal.

__ADS_1


"Putri sedang memikirkan masalah penyembuhan master Tang dan bahan untuk menyelamatkan mereka belum terkumpul sebenarnya jadi...."


"Kalau seperti itu, kita sebaiknya kembali ke istana dulu." putus Ze.


"Terima kasih putri." ucap tulus Suho.


Mereka bertiga kembali berjalan menuruni gunung dan setelah sampai di kaki gunung itu, mereka pergi menggunakan kekuatan berpindah tempat dari Zili.


Zili memasuki ruangan tempat Doju bersama yang lain tanpa menunggu sapaan dari penjaga pintu.


"Mengapa Doju dapat seperti ini?" tanya Zili melihat keadaan pengawal yang seperti sahabat baginya itu dalam keadaan lemah.


"Kami juga tidak tahu. Bahkan kaisar memanggil tabib terhebat negeri ini dan tabib itu juga tidak tahu apa yang terjadi padanya." jawab Suho.


"Biar aku lihat." ucap Ze mulai maju.


Sebenarnya beberapa yang ada di dalam sana mencemooh Ze dalam hati karena menganggap Ze sok bisa.


"Bagaimana bisa penghuni dunia bawah yang biasa saja itu dapat mensejajarkan diri dengan tabib terhebat dunia atas ini." batin salah satu dari mereka sambil sesekali melirik tidak suka pada Ze namun karena takut pada Zili dia dan yang lainnya hanya diam menonton saja.


"Sedangkan tabib terhebat negeri ini saja tidak tahu bagaimana bisa dia begitu percaya diri untuk mencari tahu keadaan Doju?" batin yang lainnya.


Ze mulai menutup mata dan merapal sebuah mantra. Saat matanya terbuka, beberapa yang ada di tempat itu heran melihat iris mata Ze yang berbentuk berbeda dengan warna emas.


"Ada apa dengan mata gadis itu?" bisik salah satu dari mereka bertanya pada orang di dekatnya.


"Entahlah, kita lihat saja dulu apa yang sebenarnya akan dia lakukan." jawab rekannya.


"Apakah menurutmu gadis itu sungguh mampu mengetahui apa yang terjadi pada Doju?" tanya seorang lainnya.


"Siapa yang tahu? Kita lihat saja dengan tenang." jawab yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Makasih banyak buat yang telah mendo'akan yang terbaik buat author dan terima kasih untuk semua yang telah memberikan tips, vote, like dan komen nya.


Selamat membaca dan semoga selalu dalam lindungan yang di atas.


__ADS_2