
Hui tu memasuki gua perlahan, semakin berjalan ke dalam indra penciuman Hui tu menangkap bau busuk yang semakin tajam menusuk hidung.
"Apakah gua ini mereka gunakan sebagai pemakaman massal dari para korban mereka?" tanya Hui tu berupa gumaman setelah melihat ada banyak mayat dengan tubuh terkoyak saling bertumpuk di dalam gua itu.
Gua itu dipenuhi dengan tulang belulang manusia dan beberapa jasad yang sudah membusuk. Kebanyakan dari mayat itu adalah mayat seorang gadis yang masih muda dilihat dari bentuk tubuh mereka yang kecil.
Hui tu menutupi hidungnya dengan kain yang dia basuh menggunakan air suci untuk mengurangi bau busuk yang tercium olehnya.
"Tap tap tap." tiba-tiba Hui tu mendengar suara langkah kaki beberapa orang mendekat.
Dengan terpaksa Hui tu segera harus bersembunyi di balik tumpukan mayat yang menggunung itu. Dari tempatnya Hui tu dapat melihat beberapa orang membawa mayat 2 orang gadis kecil yang juga terkoyak bagian perut dan dadanya.
"Huh, semakin lama semakin sering saja mereka mengambil tumbal. Membuat kita harus lebih sering memasuki gua busuk ini." keluh salah satu dari mereka setelah melempar mayat ke tumpukan mayat yang lainnya.
"Ini masih lebih baik dari sebelumnya. Kita hanya datang membuang mayat tidak seperti sebelum ketua mengambil alih keluarga Ouyang kita harus tinggal di dekat mayat membusuk itu." ucap temannya.
"Mengapa kita harus menumpuk semua mayat itu di sini?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku juga tidak tahu pasti alasannya. Tapi, dari yang aku dengar, ketua memiliki sesuatu di tempat ini yang membutuhkan banyak jasad untuk bisa lebih berguna." jawab yang lainnya.
"Sudahlah, ayo segera pergi dari tempat busuk ini. Aku sudah ingin muntah mencium bau busuk mayat itu." ucap Yang lainnya lalu segera pergi dari tempat itu.
"Ugh, gara-gara mereka aku harus merelakan tubuhku menjadi bau." keluh Hui tu.
"Cahaya apa itu?" gumam Hui tu saat tidak sengaja melihat cahaya samar berwarna ungu di antara mayat yang berserakan.
Hui tu berjalan dengan sangat hati-hati untuk mencari tahu asal cahaya itu. Matanya membelalak melihat sebuah tumbuhan kecil yang daun, batang, bunga dan buahnya semua berwarna ungu. Sedangkan cahaya samar itu berasal dari buahnya yang berbentuk sebuah delima dengan ukuran sebesar kelereng yang menempel pada batangnya.
"Tumbuhan pelahap jiwa." gumam Hui tu.
"Dari bentuk, warna dan cahayanya yang samar, buahnya sudah hampir matang sempurna. Wanita bodoh itu sebaiknya segera datang agar tanaman ini dapat di pindahkan ke dalam batu dimensi miliknya. Setelah buahnya matang, tanaman ini tidak lagi membutuhkan esensi dari tubuh manusia yang sudah meninggal sehingga lebih baik jika di pindahkan saja agar aman dari orang-orang yang mengincar buahnya untuk tujuan buruk." gumam Hui tu.
...----------------...
__ADS_1
Liu ku segera kembali ke istana atas awan dengan wajah kesal menahan amarah. Dia tidak menyangka orang yang dia hargai dan anggap sebagai saudara selama ini dengan tanpa rasa bersalah menginginkan kehancuran kebahagiaan putrinya hanya demi obsesi dari putri kesayangan kakak seperguruan nya itu.
"Aku benar-benar ceroboh. Bisa-bisanya aku lupa bahwa Sia wu pernah menyebutkan nama Jin hu sebagai pemuda impiannya. Aku sudah lupa karena itu sudah lama berlalu. Aku pikir dia sudah melupakan obsesinya terhadap pemuda yang bahkan tidak mengenal dirinya." gumamnya menyalahkan dirinya.
Liu ku tiba di istana tepat malam hari saat semua keluarga tengah berkumpul di aula untuk sekedar berbincang.
"Ayah..." panggil Ze yang pertama melihat Liu ku memasuki aula.
"Kau sudah kembali, bagaimana dengan pertemuan kalian?" tanya Mei yin.
"Tidak ada yang terjadi, mereka hanya lama tidak bertemu hingga meminta untuk bertemu karena kebetulan mereka berada di dekat perbatasan." bohong Liu ku sambil memasang senyum agar istrinya tidak curiga.
"Sepertinya istana ini semakin ramai saja." ucap Liu ku mengalihkan pembicaraan.
"Iya, sekarang istana akan semakin ramai karena kehadiran dua bayi kerabat dari Jin hu." ucap Mei yin.
Mereka akhirnya berbincang bersama dan Ze bahkan menitipkan Yang ruo pada ayahnya agar ayahnya dapat membimbing anak muda itu selama dia pergi nantinya.
Sedangkan Yang ruo hanya terdiam tidak percaya melihat Liu ku yang sudah lama menjadi idolanya berdiri di depannya. Dia semakin tidak percaya bahwa Ze meminta pria itu untuk menjadi pembimbingnya.
"Ah, maaf yang mulia ratu Jin. Aku hanya terkejut melihat grand master Ji yang sudah lama aku ingin bertemu berdiri di tepat di hadapanku." ucap Yang ruo.
"Aku harap karena ayah adalah orang yang kau kagumi, kau jadi lebih bersemangat untuk berlatih." ucap Ze.
"Itu pasti." saut Yang ruo membuat banyak dari mereka tertawa.
"Ternyata mertua dari raja Jin adalah grand master Ji yang terkenal sebagai alkemish dan kultivator terhebat itu." ucap salah satu dari pengawal keluarga Ouyang.
Mereka berbincang cukup lama lalu kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat. Liu ku sempat menemui Ze sebelum beristirahat untuk mengucapkan maaf karena dia merasa masalah Sia wu adalah salahnya.
"Sudahlah ayah, dia memang sudah mendambakan suamiku sejak lama jadi, dengan kami tidak bertemu sekarang tidak menutup kemungkinan untuk tidak bertemu selamanya mengingat obsesinya terhadap suamiku. Ayah tidak bersalah bahkan aku bangga memiliki ayah yang mengabaikan apapun demi kebahagiaan aku." ucap Ze.
"Terima kasih putriku sayang, ayah yang beruntung memiliki putri sehebat dirimu." ucap Liu ku sambil memeluk putrinya yang sangat dia sayangi itu.
__ADS_1
"Malam sudah sangat larut, pergilah istirahat karena besok kau harus melakukan perjalanan lagi." ucap Liu ku lagi.
"Baik ayah, selamat malam." ucap Ze.
"Selamat malam juga sayang." ucap Liu ku lalu kembali ke kediaman dia.
Keesokan paginya Ze dan Jin hu melanjutkan perjalanan menyusul Hui tu. Dia melarang Huo nan ikut dalam perjalanan mereka karena Huo nan harus segera kembali ke istana Beicheng.
"Kau kembali ke kerajaan Beicheng saja. Biarkan ular api membawamu agar bisa kembali lebih cepat. Kau sudah cukup lama meninggalkan kerajaan dan paman Rui." ucap Ze.
"Baik kakak ipar." pasrah Huo nan.
"Antar Huo nan ke kerajaan Beicheng dan segera kembali ke istana. Walaupun istana seharusnya aman, aku lebih tenang jika lebih banyak yang menjaga keluarga di dalam istana." ucap Ze.
"Baik yang mulia." saut Ular api.
"Yang ruo, kemampuan kultivasi milikmu saat ini tidak memungkinkan kau untuk ikut dalam perjalanan kami. Tinggallah di sini dan berlatih dengan giat. Saat kau cukup mampu untuk mengikuti kami maka kau akan menjadi bagian dari perjalanan kami kedepannya." ucap Ze.
"Baik yang mulia." saut Yang ruo.
Ze akhirnya berangkat begitu juga Huo nan dan ular api. Ular api membawa Huo nan terbang lalu berubah wujud menjadi ular besar saat sudah di atas awan.
"Sangking terbiasanya dengan wujud manusia dari ular api, aku sampai lupa kalau wujud aslinya sungguh menyeramkan." gumam Huo nan di punggung ular api.
"Apakah anda mengatakan sesuatu pangeran Huo nan?" tanya ular api membuat Huo nan terkejut.
"Ah, tidak aku tidak mengatakan apapun." jawab Huo nan sambil mengelus dadanya.
"Oh, berarti aku salah mendengar anda menyebutkan kata menyeramkan." ucap ular api.
"He he he he." Huo nan terkekeh kaku sambil menggaruk tengkuknya.
"Beruntung dia hanya mendengar kata terakhir itu saja." gumam pelan Huo nan.
__ADS_1
"Apakah kau lebih menyukai wujud asli ini atau wujud manusia mu itu ular api?" tanya Huo nan.
"Sebenarnya lebih nyaman dengan wujud manusia karena tidak akan ada berlari ketakutan hanya dengan melihat aku. Tapi, seperti hewan roh yang lainnya, kekuatan asliku juga terbatas jika menggunakan wujud manusia. Jadi, setiap wujud itu memiliki kekurangan yang berbeda. Aku cukup menggunakan wujud sesuai situasi saja." jawab ular api.