
Ze dan Jin hu telah selesai dengan makan siang mereka lalu berbincang-bincang sebentar.
"Bagaimana perkembangan dari kasus yang sedang kalian selidiki?" tanya Ze.
"Sudah jauh lebih baik. Kami telah menemukan titik terang karena menemukan beberapa bukti juga informasi baru. Salah satunya adalah orang-orang yang ayah dan Hui tu temui hari ini." jawab Jin hu.
"Apakah aku bisa ikut menyelidiki mereka?" tanya Ze.
"Tidak perlu sayang, kau harus beristirahat lebih baik mengingat sebentar lagi kita akan menghadapi masalah baru di negeri orang yang jauh. Kau hanya perlu fokus melatih diri dan menjaga kesehatan dirimu. Masalah sekecil ini cukup serahkan pada suamimu ini." jawab Jin hu.
"Baiklah, kau ada benarnya juga. Aku akan berlatih di dalam batu dimensi saja kalau seperti itu. Aku juga memang butuh beberapa pil yang hampir habis di penyimpanan ku." putus Ze.
"Sayang..." panggil Jin hu.
"Ya?" sahut Ze.
"Sebenarnya ada masalah apa antara ibu dengan ayah?" tanya Jin hu yang sedari tadi penasaran.
"Aku tidak bisa menceritakan tentang masalah mereka padamu mengingat ini adalah urusan pribadi mereka. Tapi, intinya kau jangan sampai kau menjawab dengan salah pertanyaan ibu mengenai tugas ayah nanti kalau kau tidak ingin mendapatkan masalah." jawab Ze.
"Baiklah sayang, aku tidak akan melakukan kesalahan." ucap Jin hu.
"Aku harus masuk ke dalam batu dimensi sekarang karena harus segera membuat beberapa pil dan mencoba meracik pil jenis baru." ucap Ze.
"Kenapa harus terburu-buru? Aku masih ingin berdua denganmu." tanya Jin hu.
"Waktu kita tidak cukup banyak sebelum melakukan perjalanan ke negeri Kai. Aku harus melakukan persiapan mengingat negeri itu cukup besar dan ada banyak yang akan datang juga. Kekuatan mereka kita belum tahu dan siapa kawan ataupun lawan kita juga tidak tahu. Bukankah kau juga harus segera mengatasi beberapa masalah sebelum kita berangkat?" jawab Ze.
"Kau benar sayang. Tapi, kau beri dulu suamimu ini tambahan semangat." ucap Jin hu.
"Tambahan semangat?" beo Ze.
"Ya, di sini." jawab Jin hu sambil menunjuk bibirnya yang sudah dia majukan.
"Ha ha ha ha ha, kau selalu saja ada alasan untuk hal seperti ini." ucap Ze lalu mengecup singkat bibir Jin hu.
Bukan Jin hu lagi namanya kalau akan puas hanya dengan kecupan singkat. Dia menahan tengkuk Ze dan membuat ciuman panas selama beberapa saat lalu melepaskan bibir Ze setelah dia merasakan Ze hampir kehabisan napas.
"Kau selalu seperti itu." keluh Ze.
"Kau tahu sendiri kalau suamimu ini tidak pernah puas terhadap apapun tentang dirimu sayang." ucap Jin hu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke ruang persidangan. Mereka pasti telah menunggu aku dari tadi. Cup." ucap Jin hu lalu mengecup kening Ze.
Jin hu keluar dari kediaman mereka sedangkan Ze segera masuk ke dalam batu dimensi miliknya.
...----------------...
Liu ku segera mencari keberadaan Shi Jeong nam dan Mu Luo yin berada. Dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan maksudnya untuk memperistri adik dari mendiang istrinya itu.
"Ayah, ibu." panggil Liu ku melihat keduanya sedang duduk santai di sebuah gazebo.
"Liu ku, kau dari mana?" tanya Jeong nam.
"Aku dari tempat Mei yin, ayah." jawab Liu ku.
"Tempat Mei yin, apakah ada masalah dengan Mei yin?" tanya Jeong nam.
"Tidak ada masalah apapun. Tapi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada ayah dan ibu." jawab Liu ku.
"Pada kami? Apakah itu berhubung dengan Mei yin?" tanya Jeong nam.
"Iya ayah, aku harap ayah dan ibu akan mengerti dan menyetujui ini." jawab Liu ku.
"Apa itu?" tanya Luo yin penasaran.
"Untuk apa?" tanya Luo yin geram karena Liu ku tidak meneruskan ucapannya.
"Aku ingin menikah dengan..."
"Menikah? Apakah dengan wanita yang berbincang denganmu tadi di sebuah kedai di pasar?" sela Luo yin yang mulai semangat.
Mendengar ucapan Luo yin, Liu ku dan Jeong nam mengernyit bingung.
"Wanita yang berbincang denganku?" beo Liu ku.
"Iya, wanita cantik itu." jawab Luo yin.
"Siapa yang kau maksudkan isteriku?" tanya Jeong nam.
"Tadi siang kami melihat langsung Liu ku dan wanita itu berbincang dengan santai bahkan wanita itu memanggil hanya dengan nama belakang Liu ku saja." jawab Luo yin.
Jeong nam yang memang sudah tahu perasaan Liu ku dan puterinya dengan melihat gelagat keduanya, dia menatap tajam menantu yang sudah dia anggap putra kandung itu seolah berkata "jelaskan apa maksudnya."
__ADS_1
"Ibu sudah salah paham. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. Aku hanya sedang mengumpulkan informasi dari wanita itu terkait kasus beberapa pejabat istana yang telah melakukan pelanggaran selama ini." jelas Liu ku.
"Mengapa wanita itu bisa terkait dan mengapa harus kamu yang mengurusi wanita itu?" tanya Jeong nam.
"Mendiang suami dan putranya adalah mantan pejabat yang jujur yang meninggal dengan tidak wajar karena tahu banyak pelanggaran di dalam istana ini. Selain itu, ayahnya juga mengundurkan diri dari jabatannya tanpa alasan dan keluar dari negeri atas awan beserta seluruh keluarga kecuali dia. Jadi, dia satu-satunya yang bisa ditanyai." jawab Liu ku.
"Sedangkan untuk masalah mengapa harus aku, itu karena dia hanya ingin berbicara dengan aku saja diantara aku, ular api dan Hui tu." tambahnya.
"Baiklah, aku paham." ucap Jeong nam.
"Jika bukan dengan wanita itu, lalu kau ingin menikah dengan siapa mengapa kau tidak langsung mengatakannya saja?" tanya Luo yin.
"Liu ku sudah akan memberitahu kita sebelumnya tapi kau menyelanya sayang." ucap Jeong nam sambil menggelengkan kepalanya.
"Habis aku penasaran karena dia terlalu lama men-jeda ucapnya." ucap Luo yin membenarkan apa yang dia lakukan.
"Siapa wanita yang ingin kau nikahi?" tanya Luo yin lagi pada Liu ku.
"Mei yin." jawab Liu ku sambil melirik pada mertuanya itu.
Menunggu reaksi mereka namun cukup lama mereka hanya terdiam. Jeong nam terlihat santai sedangkan Luo yin terdiam seolah mencerna maksud Liu ku.
"Apa?" pekik Luo yin setelah beberapa saat diam.
"Maksudnya kau ingin menikah dengan Mei yin, ibunya Ze, putri kami?" tanya Luo yin.
"Betul ibu." jawab Liu ku.
"Apakah kau serius dan bagaimana dengan Mei yin, apakah dia setuju?" tanya Luo yin.
"Dia setuju ibu." jawab Liu ku.
"Pantas saja Mei yin bertingkah aneh siang tadi saat melihat kau dengan wanita itu. Ternyata dia cemburu." ucap Luo yin mengingat tingkah puterinya sebelum ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf atas keterlambatan up novel ini. Beberapa hari ini author kurang fit dan mungkin masih akan terlambat mengingat ada beberapa kesibukan yang harus dilakukan author beberapa hari kedepannya.
Terima kasih atas dukungan semua
Semoga hari kalian menyenangkan
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan mari saling menghargai sesama umat manusia bagi yang tidak menjalankan.
Salam sayang dari author