Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Cerita tentang nyonya besar keluarga Ouyang


__ADS_3

Sebaiknya kalian ikut dengan kami ke istana atas awan. Tidak baik untuk bayi-bayi kecil itu tinggal di luar dan terus menerus dikejar." ucap Ze.


"Berarti kita langsung ke istana atas awan?" tanya Huo nan.


"Ya, hanya di sana mereka bisa aman sebelum kita berhasil mengatasi para pengikut iblis itu." jawab Ze.


"Apakah kalian berasal dari istana atas awan?" tanya Sian.


"Ya dan dua orang di depan kalian itu adalah Raja dan ratu Jin pemimpin istana atas awan." jawab Huo nan.


Mereka semua terkejut lalu serempak menunduk hormat ke arah Ze dan Jin hu.


"Salam kami yang mulia raja dan ratu Jin. Mohon maaf karena tidak bersikap hormat sebelumnya." ucap mereka.


"Bangunlah, kalian tidak perlu sungkan dan meminta maaf. Kita tidak saling kenal jadi wajar jika kalian tidak mengenali kami." ucap Ze.


"Apa yang istriku katakan memang benar." ucap Jin hu.


"Sebenarnya tujuan utama kami adalah istana atas awan mengingat tuan Jin terdahulu dan besan dari tetua keluarga Ouyang adalah saudara." ucap salah satu dari pengasuh itu.


"Apakah yang kalian maksud adalah mendiang kakekku?" tanya Jin hu.


"Benar yang mulia." jawab pengasuh bayi itu.


"Dari mana kalian tahu masalah yang bahkan aku tidak tahu?" tanya Jin hu.


"Maaf yang mulia, kami juga tidak tahu detailnya seperti apa. Kami hanya diberitahu oleh nyonya soal itu dan nyonya besar juga mengirimkan surat untuk disampaikan kepada raja Jin." jawab pengasuh bayi itu sambil menyerahkan selembar surat.


"Kita kesampingkan dulu masalah itu hingga sampai di tempat tujuan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya bisa membawa mereka ikut serta dalam perjalanan ini sedangkan kuda naga terbang tidak akan mau menerima mereka untuk naik ke kereta dan terlebih kereta tidak akan muat untuk kita semua." ucap Ze.


"Iya, aku baru kepikiran. Ada banyak orang yang ikut dalam perjalanan. Akan sangat lambat untuk berjalan kaki keluar dari hutan ini hingga kita menemukan sebuah perkampungan tapi, tidak mungkin juga semua orang naik ke dalam kereta selain karena kereta tidak akan muat, juga kuda naga terbang tidak akan mau menerima sembarangan orang." ucap Huo nan.


"Bagaimana kalau salah satu dari kita keluar hutan mencari kendaraan untuk membawa mereka mengikuti perjalanan menuju istana atas awan?" saran Hui tu.


"Ide bagus kakek tua, sekarang silahkan kakek tua pergi mencari kereta." ucap Ze.

__ADS_1


"Mengapa harus aku?" tanya Hui tu tidak terima.


"Ide itu berasal dari dirimu dan antara kau dan Huo nan hanya kau yang memiliki kemampuan bergerak lebih cepat di udara." jawab Ze.


Hui tu yang sudah tidak ingin lagi berdebat dengan Ze yang ujung-ujungnya dia akan tetap kalah, akhirnya pergi tanpa membantah lagi.


Ze naik ke atas kereta lalu mengambil beberapa roti lalu memberikan itu pada mereka yang terlihat lemas.


"Terima kasih yang mulia ratu Jin." ucap mereka lalu memakan dengan lahap roti pemberian Ze.


"Sebenarnya apa yang musuh kalian incar dari keluarga Ouyang itu sehingga membinasakan satu keluarga besar yang terkenal sangat kuat?" tanya Huo nan.


"Harta warisan keluarga Ouyang yang sangat berharga dan dirahasiakan entah bagaimana caranya mereka dapat mengetahui tentang itu dan cara menemukannya. Mereka menginginkan warisan itu." jawab Sian setelah beberapa saat diam seolah berpikir apakah akan menjawab atau tidak.


"Kalau memang itu dirahasiakan dan bukankah itu sudah sejak lama menjadi rahasia?" tanya Ze dijawab anggukan oleh Sian dan rekannya.


"Itu berarti ada orang dalam yang berkhianat pada keluarga Ouyang dan membocorkan masalah itu untuk keuntungan pribadi." tebak Ze.


Jin hu membuka surat pemberian wanita yang Sian sebut nyonya besar karena penasaran ingin tahu hubungan keluarga yang disebutkan oleh penjaga keluarga Ouyang itu.


"Salam kenal cucu keponakan. Karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan apapun, tolong demi hubungan keluarga antara kita, lindungi dan rawatlah dua cucuku." hanya itu isi dari surat nyonya besar keluarga Ouyang yang tertulis tidak terlalu rapi.


"Mohon maaf yang mulia ratu Jin, ayah dari merekalah yang sepupu jauh yang mulia raja Jin." ucap Sian.


"Oh, berarti mereka keponakan suamiku." ucap Ze.


"Keponakan kita sayang." protes Jin hu.


"He he he iya aku salah." kekeh Ze sambil menunjukan giginya.


"Apakah kalian ada yang tahu markas dari para pengikut iblis itu?" tanya Ze.


"Dari yang aku dengar, sebelumnya klan Merak api adalah sekumpulan perampok yang tinggal di dalam gua di hutan Wusi masih kawasan kerajaan Matahari." jelas Sian.


"Keluarga Ouyang berasal dari kerajaan matahari? Kalian cukup jauh juga berlari hingga ke kerajaan Nansi ini." ucap Ze.

__ADS_1


"Kami sudah berada dalam pelarian selama satu minggu lebih semenjak tragedi penyerangan itu. Kami hanya bergerak tanpa melihat arah kami pergi. Yang kami pikirkan adalah bagaimana caranya bisa bersembunyi dari mereka sebelum menemukan kerajaan istana atas awan yang kami sama sekali tidak pernah dengar namanya dan mencari perlindungan di sana." jelas Sian.


"Istana atas awan dulunya hanyalah sebuah kota kecil dengan sumber daya besar. Aku yang akhirnya merubahnya menjadi suatu kerajaan. Terhitung sejak saat itu, kerajaan atas awan barulah berumur beberapa tahun jadi wajar jika kalian dan banyak orang dari kerajaan lain tidak pernah mendengar nama istana atas awan kami." jelas Jin hu.


"Ya, hamba pernah dengar dari nyonya besar cerita itu. Beliau katanya memiliki seorang kakak yang mewarisi sebuah kota kecil dengan sumber daya besar dan akhirnya cucunya yang sangat berbakat membangun kota itu menjadi sebuah kerajaan yang walaupun kecil tapi tidak bisa diremehkan oleh kerajaan besar di sekitarnya. Sayangnya beliau tidak pernah bertemu dengan cucu keponakan yang berbakat dan hebat itu hingga sekarang." ucap salah satu dari pengasuh bayi itu.


"Jika nyonya besar keluarga Ouyang adalah adik dari kakekku, mengapa dia tidak pernah kembali ke istana atas awan bahkan saat kakek meninggal?" tanya Jin hu.


"Beliau terlambat mendapatkan kabar meninggalnya tuan Jin terdahulu. Beliau pergi ke kota atas awan tapi tidak bertemu dengan anda." ucap pengasuh bayi yang lainnya.


"Mengapa kau tahu tentang itu?" tanya Jin hu.


"Hamba sudah sangat lama ikut dengan nyonya besar. Hamba adalah pengasuh sekaligus pelayan pribadi putri beliau. Nyonya besar sangat suka bercerita tentang kakak satu-satunya beliau setiap kali kami berkumpul di tempat beliau." jelas pengasuh yang memang terlihat lebih tua dari pengasuh yang satunya.


"Kau masih memiliki keluarga dari pihak ibu sekarang walaupun keluarga jauh dan tidak sedarah lagi mengingat mereka menyandang marga Ouyang, kakak ke 2." ucap Huo nan.


"Ya, aku akan menjaga mereka dan mengembalikan apa yang menjadi hak mereka." ucap Jin hu sambil melihat wajah tertidur dua bayi itu.


"Apakah kakek tua itu telah kehilangan kekuatan sehingga terlalu lama pergi hanya untuk mencari kereta?" ucap Ze yang mulai bosan menunggu setelah beberapa saat semua orang hanya diam.


"Untuk keluar dari hutan ini memang hanya butuh waktu sebentar kakak ipar karena Hui tu menggunakan kemampuan terbangnya tapi, dia kembali menggunakan kereta dan itupun kereta biasa. Jadi wajar jika membutuhkan waktu yang cukup lama." ucap Huo nan.


"Aku ingin makan daging kelinci bakar dan sup ikan." ucap Ze sambil menatap suaminya.


"Baiklah, aku dan Huo nan akan mencari kelinci dan ikan untuk diolah sesuai keinginan sayangku." ucap Jin hu lalu mengecup kening Ze.


"Kak Jin hu memang yang paling baik." ucap Ze tersenyum.


"Mengapa jadi aku?" keluh Huo nan.


"Jadi kau tidak mau?" tanya Ze.


"Bukan, aku mau kakak ipar." ucap Huo nan gelagapan.


"Biar aku saja yang pergi mencari yang mulia." ucap Yang ruo.

__ADS_1


"Kami bi....


"Kalian masih lelah dan butuh istirahat. Kalian sebaiknya istirahat saja sebelum kita melanjutkan perjalanan." ucap Ze.


__ADS_2