Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Bertemu musuh lama


__ADS_3

Mereka akhirnya berpencar untuk mencari tempat persembunyian yang sulit untuk ditemukan untuk bendera masing-masing.


"Kau harus membantuku menemukan bendera mereka roh pedang." ucap Ze.


"Mengapa kau membuat permainan konyol dan melibatkan aku untuk berbuat curang?" protes roh pedang.


"Aku sangat ingin mengerjai mereka tapi tidak memiliki cara untuk memaksa mereka melakukan hal itu jika tidak melakukan taruhan seperti ini." jawab Ze.


"Ayolah bantu aku." pinta Ze.


"Baiklah." pasrah roh pedang.


Ze segera menyembunyikan benderanya lalu kembali ke tempat berkumpul kembali dengan yang lainnya.


"Sepertinya 2 orang dari lawanmu telah melakukan kesepakatan untuk mengalahkan dirimu dan mengerjai dirimu." ucap roh pedang.


"Kesepakatan apa?" tanya Ze.


"Setiap bendera yang terkumpul akan di miliki oleh satu dari mereka sehingga jumlah bendera miliknya lebih berpeluang untuk menang dan mereka saling menunjukkan letak bendera masing-masing sehingga hanya bendera milikmu dan 2 lainnya yang akan jadi target mereka." jelas roh pedang.


"Setidaknya mereka dapat mengumpulkan 3 bendera lawan dengan cara itu karena bendera milik sendiri tidak masuk ke dalam hitungan. Karena mereka curang, kau tentu tidak akan ragu untuk membantu aku bukan?" tanya Ze dengan senyum misterius khas miliknya.


"Baiklah, aku akan membantu kau untuk menang." ucap roh pedang.


"Apakah semua telah selesai menyembunyikan bendera masing-masing?" tanya Ze.


Yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Ze dapat melihat senyum kemenangan dari Hui tu dan Huo nan yang sesekali saling lirik.


"Tersenyumlah kalian di awal. Kita lihat apa yang terjadi berikutnya. Karena kalian berani untuk menipu aku, maka aku tidak akan segan lagi." ucap Ze.


"Ayo mulai." ucap Ze lalu mereka segera bergerak.


"Tunjukkan letak bendera terjauh dari Hui tu dan Huo nan." ucap Ze.


Roh pedang memberikan petunjuk letak bendera terjauh dari mereka dan dengan kecepatan yang sangat tinggi Ze segera menuju tempat itu sebelum Hui tu dan Huo nan berhasil mendapatkan bendera itu.

__ADS_1


Setelah itu Ze mengambil bendera milik Jin hu dan Zili. Tidak satupun yang terlewat oleh Ze.


"Mengapa satu bendera milik Huo nan tidak ada di tempatnya? Apakah aku salah ingat tempatnya?" gumam Hui tu setelah tiba di tempat bendera yang berhasil diambil Ze.


"Sepertinya yang lainnya telah menemukan bendera itu. Sebaiknya aku segera mencari bendera yang lainnya sebelum wanita bodoh itu berhasil menemukan lebih dulu. Karena, aku yakin dia telah memiliki rencana untuk membuat kami menderita jika dia berhasil menjadi pemenang." gumamnya lagi lalu segera bergerak ke arah lain.


"Mengapa bendera terakhir milik Hui tu tidak ada di tempatnya. Jangan sampai kakak ipar yang berhasil menemukan lebih dulu. Aku bisa tebak kami akan menderita jika dia berhasil menang." gumam Huo nan.


"Sebaiknya aku mencari bendera lainnya sebelum berhasil kakak ipar temukan." putus Huo nan lalu segera kembali mencari bendera.


Di saat yang lainnya masih sibuk mencari bendera, Ze sedang asik duduk di tepi sungai sambil memakan buah yang berhasil dia temukan di dalam hutan.


"Sepertinya sudah cukup lama aku duduk santai di sini. Sebaiknya aku kembali dan melihat apakah yang lainnya sudah kembali." ucap Ze.


Ze kembali ke tempat berkumpul dan disana sudah ada Hui tu dan Zili. Di tangannya Zili membawa 1 bendera milik Ze sedangkan Hui tu membawa 2 bendera milik Huo nan.


Melihat Ze mendekat dengan senyum misterius di bibirnya membuat Hui tu merutuki dirinya yang menerima tantangan Ze sebelumnya.


"Ceh, mengapa aku bisa menyanggupi tantangan konyol dari si bodoh yang licik itu? Entah apa yang sedang ada dalam pikiran konyolnya itu untuk menyiksa kami." gumam Hui tu.


"Itu mereka baru kembali yang Mulia ratu." jawab Zili menunjuk ke arah belakang Ze.


Huo nan membawa 2 buah bendera milik Hui tu dan Jin hu membawa 2 bendera milik Ze. Huo nan berjalan dengan wajah masam terlebih melihat Ze memegang banyak bendera.


"Wah, aku berhasil menang." ucap girang Ze.


"Karena perjalanan menuju makam cukup jauh, hukuman untuk kalian aku tunda hingga perjalanan usai." putus Ze membuat 4 orang itu menghela napas lega.


"Aku hanya menunda bukan membatalkan." ucap Ze lagi membuat wajah kesal Hui tu dan Huo nan kembali muncul.


"Ayo kembali melanjutkan perjalanan." ajak Ze dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Setelah cukup lama melakukan perjalanan mereka akhirnya tiba di makam leluhur keluarga Si. Hui tu melangkah dengan wajah sendu ke arah gerbang pemakaman itu.


Mereka tiba di dua buah makam berdampingan bertuliskan nama Yun wei guo dan Si guo tu. Makam istri dan putra tunggal Hui tu. Hui tu bersujud di hadapan makam itu dengan tubuh bergetar menahan pilu di hatinya.

__ADS_1


"Maaf karena terlambat menemukan kalian berdua." ucapnya di tengah tangisnya.


"Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk memberikan rasa aman padamu sehingga kau dan putra kita harus menderita." ucapnya lagi.


"Mereka tidak pernah menyalahkan dirimu. Mereka tahu itu semua salah siapa." ucap Ze menenangkan.


"Ya, aku harus lebih kuat untuk dapat membalas dendam pada binatang itu." ucap Hui tu.


"Akhirnya kau tiba juga." tiba-tiba sebuah suara yang sangat Hui tu tahu siapa pemiliknya terdengar.


"Kuasai amarahmu kakek. Jika kau dikuasai emosi kau akan menjadi lemah." bisik Ze melihat kilatan emosi dari mata Hui tu.


Huo nan dan Zili hendak maju membantu Hui tu namun Ze menahannya.


"Biarkan Hui tu sendiri menuntaskan dendam dan menyingkirkan ganjalan dalam hatinya. Kita cukup memantau dan membantu saat dia butuh bantuan saja." ucap Ze.


Hui tu melangkah maju dengan wajah yang lebih tenang. Dia fokus untuk dapat menghabisi pria di hadapannya.


"Saatnya kau menerima balasan atas perbuatanmu sebelumnya." ucap Hui tu.


"Ingin balas dendam? Jangan bermimpi." ucap pria itu dengan senyum mengejek.


Tiba-tiba beberapa mahluk bertubuh seperti kera besar dengan wajah menyeramkan dengan taring panjang dan kuku tajam muncul dari belakang pria itu.


"Para mahluk jelek itu biar menjadi bagian kami." ucap Ze lalu segera Ze, Huo nan, Jin hu dan Zili bergerak melawan mahluk itu.


Hui tu akhirnya bertarung sendiri melawan musuh bebuyutan yang sangat lama dicarinya. Pertarungan yang hampir seimbang antara keduanya membuat suasana menjadi semakin memanas.


Hui tu berhasil mendaratkan serangan tenaga dalam ke arah pria itu membuat sebuah lubang di dadanya. Anehnya pria itu tidak tumbang malah lubang itu kembali tertutup dengan cepat.


"Ingat kelemahan pria itu ada pada kalung miliknya. Hancurkan itu." tiba-tiba sebuah suara terdengar oleh telinga Hui tu membuatnya menjadi tidak fokus dan berhasil dimanfaatkan pria itu untuk melayangkan tendangan ke arah Hui tu.


Hui tu terhempas jauh hingga memuntahkan darah dari mulutnya. Dia menelan pil regenerasi pemberian Ze lalu bangkit kembali.


Hui tu dan pria itu kembali bertarung dengan sengit. Untuk Ze dan yang lainnya mereka tidak terlalu kesulitan untuk melawan mahluk itu karena tidak cukup kuat untuk menjadi lawan mereka tapi, yang menjadi masalah adalah mahluk itu terus saja bangkit kembali walaupun tubuhnya telah hancur lebur.

__ADS_1


__ADS_2