Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Rencana Jin hu


__ADS_3

Jin hu semakin kesal mendengar cerita dari prajurit itu tentang putri Rou ruan.


"Dasar gadis tidak tahu malu. Dia bahkan sudah menargetkan dirimu dan istana ini sejak awal." geram Jeong nam.


"Lalu, apa rencana mu untuk masalah ini?" tanya Liu ku.


"Aku akan menyetujui undangan untuk menjadi tamu kehormatan dalam kompetisi alkemis itu. Tapi, aku tidak akan menyebutkan tentang Ze yang akan menjadi peserta nantinya." jawab Jin hu.


"Kenapa harus seperti itu?" tanya Jeong nam.


"Aku ingin mereka merasa kalau rencana mereka sudah pasti akan berhasil. Bukankah lebih menjengkelkan saat seseorang gagal dalam rencana yang sudah dipastikan akan berhasil?" jawab Jin hu.


"Sangat cerdik. Aku setuju dengan rencana mu itu. Aku pikir Ze juga akan setuju dan akan sangat senang membuat seseorang yang tidak tahu tempatnya sadar dari mimpinya itu." ucap Jeong nam.


"Kalau seperti itu aku akan memberikan ijin pada setidaknya 4 orang dari mereka untuk memasuki tabir." ucap Jin hu.


Jin hu masuk ke dalam ruang bacanya diikuti oleh ayah dan kakek mertuanya itu. Dia lalu mengambil 4 lembar kertas dari dalam laci mejanya. Dia menutup matanya sambil mengarahkan tangannya kedepan dengan telapak tangan menghadap ke atas.


Tiba-tiba sebuah benda berukuran genggaman tangan orang dewasa berbentuk seperti seekor rubah putih muncul di tangannya. Ternyata benda itu adalah stempel. Jin hu membubuhkan tanda stempel pada masing-masing 4 kertas itu lalu stempel itu kembali hilang entah kemana.


"Apakah itu stempel istana?" tanya Jeong nam.


"Itu adalah stempel turun temurun yang hanya keturunan langsung keluarga Jin yang dapat memilikinya. Dengan stempel itu seseorang yang tidak diterima oleh tabir pelindung negeri ini akan dapat melewati tabir itu tanpa hambatan." jawab Jin hu.


"Apakah tidak berbahaya jika mereka memiliki sebuah benda yang membebaskan mereka keluar masuk negeri atas awan ini?" tanya Jeong nam.


"Tentu tidak kakek. Karena, kertas berstempel ini hanya bisa digunakan satu kali saja dan setelah itu jejak stempelnya akan hilang dari kertas ini." jawab Jin hu.


Jin hu keluar bersama dengan mereka berdua lalu memanggil kembali prajurit penjaga perbatasan tadi yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Bawa dan serahkan kertas berstempel ini pada Raja Kai dan katakan hanya 4 orang dari mereka yang dapat memasuki tabir pelindung dan bertemu denganku di dalam istana atas awan ini. Masing-masing dari mereka harus membawa satu kertas berstempel ini agar dapat melewati tabir pelindung dan memasuki kawasan negeri atas awan." ucap Jin hu.


"Baik yang mulia." ucap prajurit itu lalu pergi setelah mendapatkan kibasan tangan yang artinya pergi dari Jin hu.


...----------------...

__ADS_1


Ze sudah melanjutkan perjalanan menuju gunung Jiuli pagi harinya dan singgah di sebuah desa untuk makan siang karena sudah bosan dengan bekal makanan yang dia bawa.


"Sebaiknya aku makan di kedai itu saja." gumam Ze saat melihat sebuah kedai yang cukup ramai pengunjungnya.


Ze memesan makanan lalu duduk di tempat yang pelayan tunjukkan. Saat sedang duduk menunggu makanan tiba, dia melihat dua orang pria memukul seorang wanita sambil teriak tidak jelas.


Ze hanya diam saja pura-pura tidak melihat apa yang terjadi. Ze bukannya tidak kasihan tapi, menurutnya ada yang aneh dengan wanita itu.


"Sebenarnya apa rencana wanita itu? Dia memang dipukuli dan berteriak kesakitan tapi selalu melirik ke arahku dengan raut tidak seperti orang kesakitan." batin Ze.


"Aku juga merasa ada yang aneh dengan tempat ini. Apakah aku masuk dalam rencana seseorang yang ingin menjebak diriku?" batinnya lagi.


"Aku sebenarnya ingin mengikuti jalan mereka untuk tahu apa yang mereka inginkan. Tapi, aku tidak memiliki banyak waktu mengingat guru masih harus aku bawa ke tempat yang aman dan Jin hu tidak bisa terlalu lama aku tinggalkan. Sebaiknya aku pergi saja." putusnya lalu berdiri dari tempatnya.


Ze melangkah keluar dari kedai itu. Wanita yang sedari tadi dipukuli tersenyum melihat Ze melangkah ke arahnya. Perlahan senyumnya pudar melihat Ze malah masuk ke dalam kereta.


"Hei.... Mengapa kau tidak menolong aku?" tanya wanita itu dengan suara lantang.


"Kau bahkan masih banyak tenaga untuk berteriak bukan? Untuk apa aku menolong dirimu?" tanya Ze balik.


"Itu salahmu karena terlalu pintar. Andai kau bodoh kau dapat mati dengan cara mudah. Sekarang kau harus mati dengan sangat menderita." ucap wanita itu.


"Bukan aku yang terlalu pandai dalam hal ini. Hanya kalian yang terlalu bodoh berperan terutama dirimu." ucap Ze.


"Ingin menghabisi aku hanya dengan cara ini heh? Kalian terlalu baik mengantar nyawa padaku." ucap Ze menyeringai.


Ze segera mengeluarkan dua buah belati kesayangannya lalu tersenyum menatap para musuhnya.


"Saatnya meregangkan otot yang sudah kaku karena lama beristirahat." ucapnya lalu.


"Shut shut shut." Ze bergerak dengan lincah menghampiri satu persatu lawannya yang sangat banyak itu.


"Sret buk duak jleb." Ze menebas, memukul, menendang dan menikam mereka satu persatu tanpa mereka sempat menghindar karena gerakan Ze yang sangat lincah.


"Akh akh akh...." sana sini hanya suara pekikan yang terdengar memilukan membuat beberapa dari mereka mulai ketakutan dan hendak kabur.

__ADS_1


"Ingin kabur setelah menggangguku hm? Jangan mimpi." ucap Ze sambil menyeringai.


"Segel kurungan aktifkan." ucap Ze dan seketika mereka semua ditutupi oleh tabir yang tidak dapat mereka lewati.


Ze menatap tajam wanita yang memerintahkan mereka untuk menyerangnya.


"Katakan siapa yang memberikan perintah dan kau akan mati dengan mudah." ucap Ze.


"Aku tidak akan memberi tahumu." ucap wanita itu.


"Maka saatnya menerima hukuman." ucap Ze.


Wanita itu mengeluarkan pedang dan berlari ke arah Ze.


"Tring trang tring trang." suara senjata mereka yang berbenturan memenuhi tempat itu.


"Sret akh..." Ze berhasil membuat luka tebasan di punggung wanita itu.


"Sret akh...." Ze kembali membuat luka pada tubuh wanita itu di perut, lengan dan kakinya.


"Mengapa kau tidak membunuh aku?" tanya wanita yang sudah tersungkur di tanah.


"Terlalu mudah menghabisi dirimu." ucap Ze lalu memejamkan mata.


"Auuuuu auuu auuu." tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara serigala.


"Ternyata aku sudah dapat memanggil mereka tanpa peluit itu." gumam Ze.


"Mengapa ada banyak serigala di desa ini?" ucap seorang dari mereka.


Mereka semua terbelalak melihat para serigala menembus tabir yang menghalangi mereka untuk kabur lalu menunduk hormat pada Ze.


"Mereka adalah menu makan siang untuk kalian. Habisi tanpa sisa." ucap Ze membuat mereka gemetar ketakutan.


Ze pergi dari tempat itu membiarkan para serigala berpesta hingga kenyang.

__ADS_1


__ADS_2