
Dapat dia lihat ada sekitar 5 orang anak kecil, 3 pemuda, 2 pria dewasa dan 2 orang lansia yang tampak lemah.
"Mereka ada di sini." ucap Hui tu dan segera dua wanita itu berlari ke arah suara.
Dengan air mata yang semakin deras mengalir mereka berlari ke arah orang-orang itu. Mereka masing-masing masuk ke dalam pelukan pria dewasa yang sepertinya suami mereka masing-masing.
"Beri minum mereka air ini agar tubuh mereka lebih baik. Kami harus segera pergi karena ada hal penting yang harus kami lakukan." ucap Ze lalu mereka pergi sebelum orang-orang itu sempat mengucapkan terima kasih.
Mereka bergegas menuju hutan tempat gua itu dan segera memasuki gua tempat tumpukan mayat yang Hui tu maksud.
"Sepertinya buah dari tanaman pelahap jiwa itu sudah matang sempurna." ucap Hui tu karena cahaya ungu yang terlihat sangat terang bahkan saat mereka baru berdiri di depan gua itu.
"Bawa tanaman itu ke dalam batu dimensi ini agar lebih aman lagi. Batu dimensi milikmu yang lainnya masih bisa dimasuki oleh orang lain asal mereka seorang alkemish yang memenuhi syarat. Sedangkan batu dimensi ini tidak akan bisa dimasuki oleh orang yang memiliki niat buruk terlebih memiliki keserakahan." ucap roh pedang.
"Ya, hal yang sangat berbahaya jika ditangani seorang dengan niat buruk harus dijaga dengan baik." ucap Ze.
Ze mencabut tanaman itu lalu segera memasuki batu dimensi membawa tanaman itu. Dia menanam tanaman itu di dalamnya lalu segera keluar dari batu dimensi.
"Kau membawa ke batu dimensi yang mana tanaman pelahap jiwa itu?" tanya Hui tu.
"Kita keluar dulu dari tempat ini. Di sini sangat tidak nyaman untuk berbicara." ucap Ze.
"Karena di batu dimensi alkemish ada jiwa istrimu yang bisa saja berisiko terlahap oleh tanaman itu aku membawanya ke tempat Silla. Selain demi keamanan jiwa istrimu, batu dimensi tempat Silla jauh lebih aman jadi aku memilih tempat itu." jawab Ze setelah mereka berada di luar gua.
"Pilihan yang tepat. Aku bahkan lupa dengan resiko yang kemungkinan terjadi pada jiwa Wei guo jika berada di tempat yang sama dengan tanaman pelahap jiwa itu." ucap Hui tu.
"Bagaimana dengan penyerapan energi dari bintang ajaib itu?" tanya Ze.
"Sangat baik, Wei guo sedang berkonsentrasi untuk menguasai energi itu." jawab Hui tu.
"Berarti kita hanya perlu mencari tubuh yang sesuai sebagai wadah dari jiwa istrimu." ucap Jin hu.
"Aku sebenarnya memilih tubuh Sia wu demi kebaikan ayah." ucap Ze.
"Tubuh gadis itu memang cocok tapi, dia itu manusia yang masih hidup." ucap Hui tu.
"Bukankah hanya tinggal membuat jiwanya meninggalkan tubuhnya saja? Itu bukan hal yang sulit bagiku selama tubuhnya cocok." ucap Ze.
__ADS_1
"Apa hubungannya antara tubuh wanita bernama Sia wu dengan kebaikan ayah, sayang?" tanya Jin hu.
"Sia wu menginginkan dirimu untuk menjadikan dirinya selir. Ayah tentu tidak setuju dan memutuskan hubungan dengan saudara seperguruan yang telah dia anggap saudara kandung. Walaupun ayah tidak mengatakan apapun, aku yakin ayah pasti sedih akan hal itu. Dengan membiarkan Sia wu menjadi istri Hui tu, selain menghilangkan pengganggu dari jalan kita, kita juga bisa mengamankan hubungan baik antara ayah dengan saudara seperguruan nya itu." jelas Ze.
"Kau memang jenius sayang." puji Jin hu.
"Tapi, siapa Sia wu itu dan dari mana kau tahu kalau gadis itu menginginkan suamimu ini?" tanya Jin hu.
"Apakah kau tidak ingat dengan putri dari tuan Wu jin ketua dari akademi tangga langit?" tanya Ze balik hanya di jawab gelengan kepala oleh Jin hu.
"Kita baru beberapa hari lalu bertemu dengan dia suamiku. Apakah kau sudah tertular pikunnya si kakek tua hingga kau sudah lupa dengan orang yang baru saja kita temui?" tanya Ze.
"Mengapa kau harus mengikut sertakan diriku untuk mengolok suamimu yang pelupa ini wanita bodoh?" protes Hui tu.
"Di mataku dan hatiku ini hanya ada dirimu satu-satunya wanita disisi dan disekitar aku sebagai pendamping hidup. Bagaimana bisa aku ingat pada wanita yang bahkan tidak aku anggap ada sayangku?" ucap Jin hu.
"Berhentilah menggombal suamiku sayang." tegur Ze.
"Aku tidak sedang menggombal istriku." ucap Jin hu.
"Oh."
"Lalu, bagaimana dengan dua bayi itu? Apakah kalian akan membiarkan mereka kembali ke kediaman keluarga Ouyang?" tanya Hui tu.
"Sebaiknya mereka tinggal di istana atas awan untuk lebih aman. Kembali ke kediaman keluarga Ouyang juga tidak akan ada keluarga yang merawat mereka. Biarkan kakek dan nenek memiliki mereka untuk meramaikan hari mereka di dalam istana." ucap Ze.
"Kau ada benarnya juga. Mengingat darah mereka yang sangat berharga karena menjadi petunjuk harta karun berharga keluarga Ouyang, mereka akan berbahaya jika dibiarkan tinggal jauh dari jangkauan kita semua." ucap Hui tu.
"Kita akan kemana setelah ini?" tanya Hui tu.
"Kita lihat lebih dulu apakah istrimu itu sudah cukup kuat rohnya untuk berpindah ke dalam tubuh baru atau tidak setelah selesai dengan energi dari bintang ajaib yang dia serap. Jika sudah maka kita harus kembali ke negeri Nansi untuk menjemput tubuh yang telah aku pilih dengan susah payah." ucap Ze.
"Susah payah dari mana nya itu? Kau sengaja menunjuk dia untuk keuntungan dirimu juga." ucap Hui tu sambil memutar bola matanya.
"Sekarang, kita kembali ke istana Beicheng dulu karena ada yang ingin aku cari di sana." ucap Ze.
Ze kemudian mengeluarkan kuda naga terbang beserta kereta yang biasa mereka gunakan dari batu dimensi untuk melanjutkan perjalanan menuju istana Beicheng. Walaupun Jin hu dan Hui tu tidak tahu apa yang Ze ingin cari, mereka setuju saja karena berpikir mungkin Ze hanya mengkhawatirkan keadaan Huo nan dan ayahnya saja.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya melakukan perjalanan menuju kerajaan Beicheng sesuai keinginan Ze. Di tengah perjalanan Doju dan Siho menghentikan jalan mereka.
"Mengapa kereta berhenti?" tanya Ze karena kereta tiba-tiba berhenti.
"Dua pengawal dari Zili ada di luar sepertinya ingin menemuimu." jawab Hui tu.
Ze segera keluar dari kereta setelah mendengar bahwa Suho dan Doju ingin menemuinya.
"Mohon maaf karena mengganggu perjalanan anda Yang mulia ratu Jin, putra mahkota kami membutuhkan anda untuk ikut dengan kami menuju istana hewan roh suci." ucap Suho setelah Ze turun dari kereta.
"Apakah terjadi sesuatu pada Zili?" tanya Ze karena tidak biasanya Zili mengirim bawahannya untuk menemui dirinya.
"Putra mahkota baik-baik saja yang mulia." jawab Suho.
"Lalu, ada masalah apa?" tanya Ze.
"Yang mulia kaisar tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sudah seluruh tabib negeri atas yang memeriksa beliau tapi tidak ada yang tahu penyebab beliau tidak sadarkan diri." jawab Suho.
"Kalau begitu ayo kita kesana sekarang juga." ucap Ze.
Ze kembali memasukkan kuda naga terbang beserta kereta ke dalam batu dimensi lalu mereka bertiga pergi ke istana negeri hewan roh suci bersama dua pengawal Zili itu.
Mereka tiba di depan gerbang istana lalu masuk segera ke dalam tanpa ada yang menahan mereka. Selain karena mereka bersama Doju dan Suho, Ze juga sudah dikenal sebagai bagian penting dari istana sehingga dia dapat dengan bebas keluar masuk istana.
"Sudah berapa lama beliau tidak sadarkan diri?" tanya Ze sambil berjalan.
"Sekitar 10 hari yang mulia." jawab Suho.
"Mengapa kalian baru mencari aku bukannya langsung mencariku dari awal?" tanya Ze.
"Putra mahkota berpikir itu bukan masalah besar karena selain tidak sadarkan diri tidak ada masalah lain yang terlihat dari tubuh kaisar." jawab Doju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungan kepada author berupa vote, like dan komentarnya agar author tetap semangat untuk melanjutkan tulisan.
Selamat membaca
__ADS_1