
Mereka langsung menuju ke tempat ketua akademi tangga langit mengundang mereka. Tempat itu adalah kediaman milik ketua itu sendiri yang ada di dalam ibukota negeri Nansi.
"Kami datang untuk bertemu dengan ketua akademi tangga langit." ucap Ze pada penjaga gerbang kediaman itu.
"Apakah anda putri dari grand master Ji?" tanya penjaga itu.
"Silahkan masuk ke dalam, tuan telah menantikan kedatangan anda sekalian." ucap penjaga gerbang itu sambil membuka gerbang setelah Ze mengangguk.
Kereta mereka memasuki gerbang lalu berhenti tepat di depan di mana beberapa orang pelayan tengah menantikan mereka.
"Silahkan ikuti kami tuan dan nyonya. Tuan ada di dalam menunggu anda." ucap seorang pelayan sebelum Ze sempat mengatakan apapun.
Mereka berjalan mengikuti arah yang pelayan itu tunjukkan. Ze langsung berhenti setelah merasa tidak nyaman.
"Ada apa nyonya?" tanya pelayan itu.
"Kalian jalan di depan dan tunjukkan jalan yang benar. Mana ada penunjuk jalan hanya mengarahkan dari belakang." ucap Ze.
"Tapi itu tidak pan....."
"Tidak ada kata tapi. Kau jalan di depan atau aku akan diam di tempat." ucap Ze menyela ucapan pelayan akhirnya pelayan itu pasrah mengikuti keinginan Ze.
Seorang dari para pelayan itu berjalan di depan mereka membuat Ze dan yang lainnya mengikuti langkahnya. Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu lalu mengetuknya.
"Tamu tuan sudah tiba." ucap pelayan itu.
Pintu terbuka dan terlihat seorang pria dengan tubuh besar dan tegap. Ze melihat tubuh pria itu dan melihat pencapaian kultivasi milik pria itu sudah hampir mencapai tingkat misteri.
"Selamat datang, apakah kau putri dari Liu ku?" sapa pria itu dengan wajah tersenyum.
"Iya, mmm."
__ADS_1
"Panggil aku paman Wu jin saja." ucap tuan Wu jin yang paham kalau Ze bingung memanggilnya dengan sebutan apa.
"Baik paman Wu jin." ucap Ze.
"Ayo masuk." ajak tuan Wu jin.
Mereka masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar dengan beberapa hidangan tersedia di atasnya.
"Paman tidak tahu apa yang menjadi seleramu jadi paman hanya memerintahkan kepada koki dapur untuk menyiapkan makanan khas negeri Doucheng." ucap tuan Wu jin.
"Aku tidak memilih dalam hal makanan jadi paman tidak perlu khawatir." ucap Ze.
"Siapa orang-orang yang ikut dengan dirimu ini dan mengapa aku tidak bisa melihat pencapaian dirimu juga mereka?" tanya tuan Wu jin yang sudah tidak sabar ingin tahu apa yang menjadi tanda tanya dalam hatinya sejak pertama melihat Ze dan yang lainnya.
"Oh, perkenalkan orang di sampingku adalah Raja istana atas awan namanya Jin hu (Tuan Wu menatap penuh penilaian kepada Jin hu setelah mendengar identitas Jin hu dari Ze) dan dia adalah suamiku." jelas Ze membuat tuan Wu jin mengernyit tampak agak tidak suka mendengar status Jin hu yang adalah suami dari Ze.
"Setelahnya adalah putra mahkota kerajaan Beicheng namanya Rui huo nan. Di sebelahnya lagi adalah Hui tu dan Zili mereka adalah kerabat dekatku." jelas Ze lagi.
"Mengapa pemuda dengan kualitas terbaik seperti Jin hu itu malah lebih dulu dimiliki oleh putri Liu ku ini?" keluh tuan Wu jin dalam hati.
"Aku tebak sahabat ayahmu itu menginginkan suamimu untuk hal lainnya." ucap Hui tu melalui telepati.
"Dia hanya dapat berangan saja. Abaikan dan lihat saja apa yang akan terjadi." ucap Ze.
"Tok tok tok." tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu.
"Tuan, tuan putri Sia wu meminta ijin untuk masuk." lapor seorang pelayan.
"Suruh Sia wu masuk." ucap tuan Wu jin dengan wajah sumringah.
"Kebetulan putriku datang sekarang. Siapa tahu jika Jin hu melihat kecantikan putriku dia akan terpesona. Walaupun Ze adalah putri dari saudara seperguruanku, jika itu demi masa depan putri kesayanganku yang sejak lama menginginkan Jin hu itu, aku akan mendukung putriku." batin tuan Wu jin.
__ADS_1
"Ternyata tidak lebih dari yang lainnya. Selalu saja urusan hati anak gadis mereka." ucap Hui tu.
"Biarkan saja." ucap Ze santai.
"Kau satu-satunya istri yang tidak bereaksi disaat mendapatkan saingan dalam berebut kasih sayang suami." ucap Hui tu.
"Bagian mana yang pantas disebut berebut kasih sayang suami? Suamiku bahkan tidak akan melirik gadis lain bagaimana bisa seorang gadis tiba-tiba disebut saingan?" ucap Ze.
"Salam hormat ayah." ucap seorang gadis yang datang dengan gaya anggun yang sesekali akan melirik ke arah Jin hu.
"Pangeran impianku. Akhirnya aku dapat melihat dia langsung dan dia tidak berubah sedikitpun. Masih tetap tampan dan gagah." batin Sia wu kegirangan dalam hatinya berbanding terbalik dengan sikap anggun yang dia tampakkan di luar.
"Heh diluar tampak anggun sedangkan di dalam begitu bar-bar menginginkan suamimu. " ejek Hui tu.
"Kau terlalu berisik kakek. Aku sudah katakan untuk abaikan saja. " tegur Ze.
"Bangunlah Sia wu, kemari dan ayah akan perkenalkan tamu ayah malam ini." ucap tuan Wu jin.
Sia wu berjalan dengan anggun dan senyum manis selalu menghiasi bibirnya. Dia sebenarnya agak terganggu melihat Jin hu duduk sangat dekat dengan seorang gadis karena memang Jin hu sedikit menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Ze.
Sia wu sebenarnya sangat populer di kalangan pemuda di kerajaan Nansi. Kecantikan, sikap anggun dan bakatnya membuat para pemuda bahkan dari kalangan kerajaan terpesona olehnya. Tapi, karena seorang pemuda yang telah berhasil merebut hatinya sejak pertama dia melihat pemuda itu, dia menolak semua lamaran yang ditujukan untuk dirinya.
Pemuda itu adalah Jin hu yang sekarang adalah suami dari Ze. Dia sudah mengetahui kedatangan Jin hu dan ingin meminta ayahnya mengundang Jin hu untuk datang ke tempatnya. Tidak dia sangka pelayannya melaporkan bahwa pemuda yang dia idamkan itu sudah ada di kediamannya dan dengan segera dia pergi untuk melihatnya.
"Perkenalkan ini adalah Sia wu putri tunggal paman. Dia adalah gadis jenius yang sudah mencapai tingkat bumi akhir pada usia yang baru beranjak 17 tahun." jelas tuan Wu jin membanggakan putrinya.
"Jika dia tahu tingkat pencapaian yang kau capai saat ini, dia akan mengubur kepalanya karena malu menyebut putrinya seorang jenius." ejek Hui tu.
"Mereka adalah tamu ayah. Yang wanita adalah Ze, putri dari saudara seperguruan ayah. Di sebelahnya adalah....."
"Pangeran Liang Jin hu dari negri Doucheng. " ucap spontan Sia wu.
__ADS_1
"Mohon maaf, tapi yang putri katakan adalah salah. Aku adalah Raja istana atas awan suami dari ratu Ze. Orang-orang memanggil kami raja dan ratu Jin." jelas Jin hu.