
Zhong siu mendengus kesal mendengar cibiran Ze. Dihembuskan napas panjang berusaha untuk menahan rasa jijik juga takutnya.
"Baiklah aku siap." ucap Zhong siu.
Zhong siu mengernyit bingung karena tidak merasakan sakit juga tidak merasakan adanya rembesan darah dari kepalanya yang sedang dibedah Ze.
"Sudah selesai." ucap Ze.
"Apakah kau menanam ulat itu atau hanya menempelkan saja pada kulit kepalaku?" tanya Zhong siu.
"Tentu menanamnya. Dengan merobek kulit kepalamu dan memasukkan ulat itu di dalamnya. Juga menjahit kembali lukamu." ucap Ze.
"Mengapa bisa..... "
"Aku seorang tabib dan sudah tentu aku memiliki cara agar orang tidak merasakan sakit walaupun aku mengiris kulit mereka." ucap Ze.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi." ucap Zhong siu.
"Kini giliran kamu Chu fuo." ucap Ze.
Saat Ze melakukan hal yang sama pada Chu fuo, Zhong siu yang masih tidak percaya bahwa kepalanya dibedah sebelumnya memperhatikan secara seksama apa yang Ze kerjakan.
"Ternyata dia sungguh menyayat kulit kepala kami." gumamnya.
"Kembali ke tempat sebelumnya bawa mereka berdua dan ikat seperti yang lainnya." ucap Ze pada Cheng duan.
"Baik nyonya Jin." jawab Cheng duan.
"Untuk kalian berdua, ingat untuk tidak berekspresi sama sekali saat bersama yang lainnya. Ikuti apa yang dilakukan dua orang yang lainnya nanti. Tidak perlu bereaksi walau apapun yang mereka lakukan. Kami akan mengawasi kalian jadi tidak perlu khawatir juga jangan berkhianat."ucap Ze menjelaskan pada Zhong siu dan Chu fuo.
"Selain ulat itu aku juga menanamkan racun pada tubuh kalian berdua untuk berjaga-jaga. Saat semua sudah selesai maka aku akan memberikan penawarnya pada kalian. Jika kalian berkhianat, bersiap untuk menderita hingga kalian mati perlahan." tambahnya sambil menyunggingkan senyum misterius yang membuat orang bergidik ngeri.
"Ba baik nyo nyonya." jawab gugup keduanya.
Cheng duan memberi kode pada rekannya untuk membawa dua orang itu dan mereka segera membawa dua orang itu mengikuti Cheng duan yang melangkah menuju tempat mereka di tahan sebelumnya.
__ADS_1
Beruntung sekali karena bertepatan dua orang itu selesai di ikat dan ditinggalkan dengan dua orang lainnya, dua orang itu mulai sadarkan diri.
"Kalian berjaga dulu, aku harus melapor pada putra mahkota dulu." ucap Cheng duan dengan suara yang sedikit lebih besar sesuai perintah Ze sebelum dia meninggalkan ruangan sebelumya.
"Baik ketua." saut dua orang yang bertugas menjaga pintu tahanan.
"Akh aku sangat lelah. Sebaiknya istirahat sejenak sebelum ketua kembali." ucap satu dari mereka yang bertugas jaga.
"Kalau ketahuan tamat riwayatmu." ucap satunya.
"Kalau melapor pada putra mahkota ketua selalu tidak pernah sebentar saja. Lagi pula siapa yang akan masuk ke dalam sini."
"Kau benar juga. Ya sudah aku juga ingin istirahat."
Mereka berdua akhirnya tertidur dengan pulas dengan duduk di lantai bersandar di dinding.
"Keberuntungan berada di pihak kita. Sang Ratu pasti akan sangat senang mendapatkan 4 inti kehidupan baru dan kita tidak harus bersusah-payah untuk mengambil mereka karena penjaganya tertidur sangat pulas." ucap salah satu dari dua orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Ayo, kita harus segera agar kita mendapatkan keabadian setelah ratu bangkit." ucap rekannya.
"Kau benar, ayo! Sebentar lagi kita akan mencapai tujuan kita semua."
Dua orang itu menunduk hormat dan dua orang mata-mata Ze ikut menunduk hormat.
"Ikuti kami dengan hati-hati." ucap salah satu dari yang datang mengeluarkan mereka.
Hanya dijawab anggukan dan wajah datar oleh mereka berempat. Mereka keluar dari tempat itu segera.
"Umpan termakan." ucap Ze dari atas sebuah pohon setelah melihat 6 orang keluar dari bangunan tempat tahanan itu.
Ze, dan Jin hu mengikuti mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh namun aman untuk tetap terus membuntuti mereka. Sedangkan Cheng duan dan rekannya mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh mereka mengandalkan petunjuk dari Ze dan Jin hu berupa sepotong kecil kain yang diletakkan di dahan pohon.
Ze tidak ingin menimbulkan kecurigaan yang akan membuat mereka waspada jika terlalu banyak yang mengikuti dalam jarak dekat.
"Mereka memasuki bangunan itu." ucap Ze setelah cukup lama mengikuti mereka, mereka bukannya pergi ke tempat yang tersembunyi malah memasuki keramaian.
__ADS_1
Membuat Ze harus mengikuti mereka dengan berpindah dari atap rumah dan bangunan. Jin hu mengernyit membaca papan nama bangunan yang mereka masuki.
"Mawar kebahagiaan? nama apa itu?" tanya Jin hu.
"Itu bukannya tempat wanita penghibur?" tanya Ze yang melihat beberapa gadis dengan pakaian seksi dan dandanan menor berdiri di depan pintu.
"Mengapa memilih tempat seperti ini untuk menjadi markas?" tanya Jin hu yang mulai risih.
"Tempat ini justru merupakan tempat paling strategis untuk mereka. Selain tidak akan banyak yang curiga, akan sangat mudah mendapatkan mangsa dan mereka dapat mengendalikan pemerintahan melalui tempat ini juga." jelas Ze.
"Mengapa bisa seperti itu?" tanya Jin hu.
"Bukankah sebagian besar pejabat tinggi pemerintahan kerajaan juga para bangsawan paling suka mengunjungi tempat seperti ini?" tanya Ze balij.
"Mungkin seperti itu." jawab Jin hu.
"Maka, dengan mengendalikan mereka semua, sama halnya mereka mengendalikan pemerintahan bukan." ucap Ze
"Hm masuk akal." saut Jin hu.
"Ayo kita cari jalan lain untuk dapat masuk ke dalam sana. Kita harus segera mendapatkan induk dari larva ulat menjijikkan itu sebelum mereka curiga dan kembali melarikan diri." ajak Ze.
Mereka akhirnya berpindah ke atap rumah para wanita penghibur itu dan mendapatkan jendela terbuka dari sebuah kamar di lantai dua.
"Yang mulia Ratu, kami datang kembali membawa asupan energi baru untuk yang mulia Ratu." ucap salah satu dari orang yang menjemput mereka berempat di dalam tahanan istana.
Ze mengintip dari celah pintu kamar di lantai dua. Ze menyeringai saat melihat binatang menjijikkan yang sempat lolos dari tangkapannya sebelumnya berdiri di atas sebuah altar.
"Sekarang saatnya kita beraksi." ucap Ze pada Jin hu setelah memakai cincin tempat api sejati berada.
Mereka berdua melompat turun dan Ze dengan sigap menangkap leher dari binatang berkepala **** itu agar tidak lagi kabur.
Jin hu melawan yang lainnya dan tidak lama setelah itu kelompok Cheng duan pun ikut bergabung melawan kelompok orang yang dikendalikan oleh Ratu parasit itu.
"Saatnya kau berakhir." ucap Ze hendak mengarahkan mata cincinnya pada binatang dalam genggamannya itu.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah selesai membaca✌
Salam hangat dan sayang dari author 😘