
Ze pura-pura tidak menyadari keberadaan Mei yin di dekatnya.
"Siapa wanita yang kau katakan bersama ayahmu Ze?" tanya Luo yin yang penasaran karena mendengar ucapan Ze.
"Gayung bersambut." gumam Ze.
"Ah nenek ada di sini? Mana yang lainnya?" tanya Ze pura-pura terkejut.
"Kakek dan para gurumu memilih memancing di danau." jawab Luo yin.
"Apakah nenek melihat Hui tu kemana soalnya dia tidak ada tugas tapi menghilang?" tanya Ze.
"Dia pergi bersama dengan ayahmu dan Xiao wang tadi. Katanya bosan karena tugasnya telah selesai jadi dia memilih membantu mereka." jawab Luo yin.
"Bukankah kau sebelumnya melihat ayahmu, mengapa kau tidak melihat Hui tu bersamanya?" tanya Luo yin.
"Aku hanya melihat ayah berbicara dengan seorang wanita cantik yang sepertinya ingin menggoda ayah." jawab Ze.
"Mengapa kau bisa berpikir bahwa wanita itu ingin menggoda ayahmu?" tanya Luo yin.
"Nenek tidak melihat saja bagaimana wanita itu mempamerkan lekuk tubuhnya dan berusaha untuk lebih dekat kalau bisa bersentuhan dengan ayah. Dia sesekali melirik ke arah ayah sambil tersenyum dan dari matanya jelas dia sangat tertarik pada ayah." jawab Ze.
"Bagaimana dengan ayahmu? Apakah dia tertarik atau menerima perlakuan wanita itu?" tanya Luo yin sangat penasaran dan tanpa dia sadari, pertanyaan dia yang dijawab oleh Ze tengah membuat hati putrinya meradang.
"Ayah sepertinya tidak menolak kehadiran wanita itu karena dia terus menanggapi ucapan wanita itu saat wanita itu berbicara. Ayah bahkan menatap wajahnya saat berbicara tidak seperti biasanya saat bicara dengan wanita yang bukan keluarga ayah biasanya tidak menatap wajah lawan bicaranya itu." jawab Ze.
"Hal yang bagus. Itu artinya ayahmu sudah mencoba untuk membuka hatinya. Walaupun dia belum terlalu tertarik dengan wanita itu, jika ayahmu tidak menolak kehadirannya maka nenek akan bantu untuk mendekatkan mereka ber......"
"Uhuk uhuk uhuk." Mei yin tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan ibunya. Membuat percakapan Luo yin dan Ze terhenti.
"Ibu juga di sini?" tanya Ze pura-pura terkejut lagi.
"Nenek tidak bilang kalau datang bersama ibu. Aku terlalu asik berbincang dengan nenek sehingga tidak menyadari bahwa ibu ada di sini juga." ucap Ze.
"Ayo kita melihat wanita yang ingin dijodohkan dengan ayahmu itu." ucap Mei yin ketus.
__ADS_1
"Ada apa dengan ibumu? Mengapa tiba-tiba saja seperti orang yang kesal?" tanya Luo yin berjalan mengikuti langkah Mei yin.
"Jika tidak kesal maka tidak baik dan tidak akan seru." gumam Ze.
"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Luo yin.
"Bukan apa-apa, aku juga tidak tahu ada apa dengan ibu. Bukankah sejak tadi ibu bersama nenek? Mungkin ibu kesal karena kita abaikan untuk bergosip tentang ayah." jawab Ze.
"Aduh...! Mengapa kau tiba-tiba berhenti?" pekik Luo yin yang menabrak tubuh Mei yin yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Seharusnya Ze dan Cece yang menunjukkan jalan. Aku mana tahu dimana mereka melihat Liu ku berbincang dengan wanita itu." ucap Mei yin masih dengan nada ketus.
"Ibu sendiri yang menerobos jalan dan memilih jalan di depan." ucap Ze.
"Ada apa dengan ibu, mengapa kesal dan terlalu bersemangat dengan wajah garang seperti seorang istri yang akan memergoki suaminya selingkuh?" tanya Ze menggoda Mei yin.
"Aku tidak seperti itu. Aku hanya penasaran saja." bantah Mei yin.
"Cepat tunjukkan jalan sebelum kita terlambat untuk melihat wanita itu." desak Mei yin.
"Hui tu kau dimana?" tanya Ze dengan telepati.
"Sedang berbincang dengan keluarga Gong yang pernah menjabat sebagai menteri namun memilih mundur itu." jawab Hui tu.
"Ayahku di mana sekarang?" tanya Ze.
"Sedang berbicara dengan putri tertua tuan Gong bersama ular api karena wanita itu hanya ingin berbicara dengan ayahmu saja." jawab Hui tu.
"Ajak ular api untuk meninggalkan ayah dengan wanita itu dengan cara apapun sekarang juga." ucap Ze.
"Kenapa harus?" tanya Hui tu.
"Aku sedang memberikan larutan cuka pada seseorang dan akan lebih masam jika melihat orang yang ingin di selidiki hanya berdua dengan orang lain bukan?" jawab Ze.
"Kau kalau bosan jangan mengganggu orang lain yang sedang tenang. Kau lakukan hal lain saja dari pada membuat orang lain dalam masalah." ucap Hui tu.
__ADS_1
"Lakukan sekarang juga kakek tua atau kau akan aku biarkan menjaga istana saat kami berangkat ke negeri Kai." ancam Ze.
"Baik, aku lakukan tapi semua resiko kamu yang tanggung." pasrah Hui tu yang tidak ingin mati bosan menjaga istana.
Ze berpura-pura ingin melangkah lebih dekat dan menegur ayahnya yang sedang serius berbincang berdua dengan seorang wanita.
"Ay......mmm mmmm" mulut Ze dibekap oleh Mei yin lalu menariknya untuk bersembunyi.
"Apakah kau sudah kehilangan kejeniusan milikmu itu?" tanya Mei yin.
"Apa salahku ibu?" tanya Ze balik pura-pura tidak tahu maksud ibunya padahal dalam hati bersorak kegirangan karena menurutnya rencananya telah berhasil melihat reaksi Mei yin.
"Iya, mengapa kau jadi memarahi putrimu?" tanya Luo yin yang ikut bersembunyi.
"Kita ingin melihat bagaimana interaksi mereka harus diam-diam melihatnya bukan langsung menanyakan pada mereka bukan?" jawab Mei yin.
"Kata ibumu itu ada benarnya juga." Saut Luo yin.
"Ada apa Kak Liu ku?" tanya wanita itu saat Liu ku melihat sekeliling seolah mencari sesuatu.
Ze sengaja menutupi keberadaan mereka menggunakan kekuatannya agar Liu ku tidak curiga. Liu ku yang seolah mendengar suara Ze sekilas langsung mencari asal suara namun nihil.
"Bukan apa-apa, aku seperti mendengar suara putriku namun nampaknya aku salah dengar." jawab Liu ku.
Liu ku tidak mempermasalahkan panggilan akrab dari wanita di depannya agar wanita itu dapat menjawab semua pertanyaan darinya. Tanpa dia tahu Mei yin telah terbakar cemburu melihat dan mendengar percakapan mereka.
"Wanita itu bahkan memanggil ayahmu hanya dengan nama belakang saja. Sepertinya mereka memang sudah sangat akrab." ucap Luo yin.
"Mau kemana?" tanya Luo yin melihat Mei yin hendak pergi.
"Bukankah kita sudah pastikan kedekatan mereka? Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka aku lelah ingin istirahat." jawab Mei yin yang sudah tidak tahan melihat kebersamaan Liu ku dengan wanita lain.
"Ibu benar nenek, kita tidak boleh mengganggu mereka untuk saat ini." ucap Ze Dan mereka meninggalkan tempat itu.
Mei yin berusaha mati-matian agar tidak mengutuk Liu ku saat ini dan menahan emosi serta air mata yang sudah sangat ingin keluar agar tidak ada yang sadar tentang kegalauan hatinya.
__ADS_1