Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Masuk ke dalam kerajaan Nansi.


__ADS_3

Ze dan Zili dapat dengan mudah menyingkirkan mahluk yang mereka lawan dalam waktu yang hampir bersamaan. Jin hu diluar perkiraan yang lainnya kecuali Ze yang tahu tingkat kultivasi Jin hu, menyingkirkan mahluk yang menjadi bagiannya lebih cepat dari Hui tu membuat mahluk bagian Hui tu menjadi semakin kuat bahkan tidak mudah untuk mereka lawan.


Saat mereka bersiap untuk melawan mahluk yang sangat kuat itu bersama-sama, tiba-tiba sebuah cahaya ungu menghantam tubuh mahluk itu dengan sangat cepat hingga tubuhnya tepotong-potong menjadi beberapa bagian.


Semua yang melihat itu terkejut kecuali Ze tentunya. Mereka diam serentak tidak tahu harus melakukan apa.


"Benda apa itu tadi yang menyerang mahluk itu? " tanya Hui tu setelah cukup lama diam.


"Aku tidak tahu apakah itu benda atau mahluk hidup karena terlalu cepat datang menyerang dan menghilang secepat dia datang." ucap Huo nan.


"Aku hanya melihat kilatan cahaya berwarna ungu yang membantu kita menyerang mahluk itu dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menghilang sangat cepat tidak tahu ke arah mana." ucap Zili.


"Setidaknya benda atau mahluk itu tidak menargetkan kita. Ayo lanjutkan perjalanan kita." ucap Jin hu.


"Iya benar, setidaknya kita aman karena bantuan dari benda misterius itu." saut Hui tu.


"Apa yang akan kau lakukan sayang?" tanya Jin hu saat melihat Ze menghampiri tubuh mahluk yang sudah tidak utuh lagi itu.


"Iya kakak ipar, apa yang ingin kau lakukan? Tidakkah kau jijik mendekati tubuh hancur mahluk itu?" tanya Huo nan.


"Tidakkah kalian ingat apa yang sang penjaga lakukan sebelumnya pada mahluk menjijikkan yang dia bu*uh di negeri istana atas awan?" tanya Ze balik.


"Anda ingin mengambil inti kehidupan dari mahluk itu?" tebak Zili.


"Benar sekali." jawab Ze lalu memotong kepala mahluk itu kemudian mengambil inti kehidupan berwarna merah pekat seukuran kepalan tangan orang dewasa.


"Tampaknya inti kehidupan mahluk itu memiliki tingkat yang lebih tinggi dari mahluk sebelumnya." ucap Zili.


"Ya, warnanya lebih pekat dan aura yang keluar dari batu ini terasa lebih kuat." saut Ze.


Ze menyimpan batu itu lalu segera naik ke atas kereta diikuti yang lainnya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Kita sudah hampir memasuki kawasan negri Nansi." ucap Hui tu.

__ADS_1


"Bukan hampir, desa ini adalah bagian dari negri Nansi sekarang." ucap Huo nan.


"Karena yang menjadi tujuan kita adalah desa Taoxi, kita tidak perlu memasuki kawasan istana. Kita cukup mengambil jalan ke utara melewati desa Yang dan desa Yuling saja maka kita sudah sampai." ucap Huo nan.


"Kau sepertinya sangat mengenal daerah sini." ucap Ze.


"Mendiang ibu dari Huo nan adalah putri dari kerajaan ini." ucap Jin hu.


"Oh, maaf." ucap Ze yang melihat wajah sendu Huo nan.


"Tidak perlu meminta maaf kakak ipar. Itu sudah lama berlalu." ucap Huo nan.


"Kita cari makan sekitar sini dulu." ucap Ze.


"Ya, aku juga butuh istirahat sejenak." ucap Huo nan.


"Kalau begitu kita cari penginapan saja. Hari sudah mulai gelap sebaiknya kita istirahat di penginapan untuk malam ini mengingat kita semua sudah kelelahan menghadapi beberapa pertarungan selama perjalanan." saran Jin hu.


"Setuju." seru Huo nan.


"Kau tidak perlu heran. Bukankah memang kekonyolan adalah bagian dari dirinya? Justru kalau dia bersikap normal, kita harus segera memeriksa keadaannya." ucap Hui tu.


"Berhenti mengolok kakek tua." ucap kesal Huo nan.


"Jangan panggil aku kakek tua." ucap Hui tu.


"Sudahlah, karena kau tahu daerah sini, kau tunjukkan pada kami penginapan terbaik di tempat ini." ucap Ze menatap Huo nan.


Mereka akhirnya menuju ke sebuah penginapan yang terlihat cukup mewah. Dari luar penginapan itu sudah terlihat sangat ramai.


"Apakah kerajaan ini merupakan kerajaan yang besar? Bahkan diluar ibu kotanya sudah ada penginapan yang sangat mewah bahkan mengalahkan kemewahan penginapan di ibukota negeri Doucheng." ucap Ze.


"Kerajaan ini merupakan salah satu dari 5 kerajaan terkaya di daerah timur ini dan masuk ke dalam 20 daftar kerajaan terkaya di seluruh benua ini. Sedangkan Doucheng, kerajaan itu bahkan tidak masuk ke dalam daftar 10 kerajaan terkaya di timur. Bagaimana kau bisa membandingkan dua kerajaan ini." ucap Hui tu.

__ADS_1


"Oh, aku tidak tahu mengenai itu." ucap Ze.


"Bagaimana dengan kerajaan istana atas awan? Apakah masuk ke dalam daftar?" tanya Ze.


"Kerajaan atas awan adalah kerajaan istimewa dengan kekayaan sumber daya yang berlimpah. Walaupun dalam segi luas daerah kekuasaan, kerajaan atas awan terhitung kerajaan kecil, tapi dalam segi kekayaan, kerajaan atas awan merupakan kerajaan paling kaya di daerah timur dan bahkan masuk ke dalam 10 daftar kerajaan terkaya di benua ini." jelas Huo nan.


"Aku baru tahu kalau kerajaan yang suamiku bangun begitu kaya." ucap Ze.


"Kekayaan kerajaan kita adalah harta turun temurun juga merupakan hasil yang aku peroleh dari perjalanan ke beberapa daerah yang membuka peluang untuk orang luar mengambil harta yang tersembunyi di dalamnya seperti gua Si hui tu yang sebelumnya kita masuki." ucap Jin hu.


"Tapi, kekayaan istana atas awan tidak semua orang yang tahu tentang itu. Hanya orang tertentu yang tahu daftar pertama ditempati oleh kerajaan istana atas awan. Bagi yang tidak tahu, mereka akan menyebutkan kerajaan Xing yang merupakan daftar ke 2 adalah kerajaan paling kaya di daerah timur ini." jelas Huo nan.


"Mengapa kita jadi hanya berdiri dan berbincang di luar sini? Kapan kita masuk ke dalam dan memesan kamar juga makanan?" protes Hui tu.


"He he he he. Kita terlalu asik membahas masalah kerajaan terkaya hingga lupa tujuan kita adalah memesan kamar juga makanan." ucap Huo nan.


Mereka berlima memasuki penginapan yang langsung disambut oleh seorang pelayan yang langsung menanyakan apa yang mereka butuhkan.


"Selamat datang tuan dan nona...."


"Dia istriku bukan seorang gadis jadi panggil dia nyonya." tegur Jin hu.


"Maafkan pelayan ini tuan dan nyonya selamat datang. Ada yang bisa pelayan ini bantu?" ucap pelayan itu.


"Tidak masalah, kami membutuhkan 4 buah kamar apakah ada?" tanya Ze.


"Kebetulan sekali Nyonya, saat ini hanya sisa 4 kamar yang tersisa di penginapan ini." ucap pelayan itu.


"Kalau begitu kami ambil kamar itu dan dapatkah kalian membawakan kami makan malam di kamar kami?" ucap Ze.


"Baik nyonya, biarkan pelayan ini melaporkan ke tempat pendaftaran kamar lalu mengantar tuan dan nyonya ke kamar masing-masing." ucap pelayan itu yang langsung berjalan menuju tempat pendaftaran kamar.


Mereka berjalan menuju ke kamar yang mereka pesan diantar oleh pelayan itu.

__ADS_1


"Mengapa penginapan ini bisa sampai kehabisan kamar untuk dipesan? Apakah kamar yang kalian sediakan tidak cukup banyak?" tanya Ze.


"Untuk penginapan di luar ibukota penginapan kami adalah yang terbesar dengan jumlah kamar paling banyak. Kekurangan kamar bukan karena kamarnya tapi karena jumlah pendatang yang meningkat pesat karena 2 hari lagi akan ada kompetisi." jawab pelayan itu.


__ADS_2