
Ze melepaskan api sejati dari cincin yang dia kenakan dan dengan kekuatan tenaga dalam mengarahkan api itu ke arah mulut binatang ajaib itu.
"Roar.....roar...." suara kesakitan binatang itu yang sudah berguling di tanah.
Jin hu langsung melompat ke arah Ze dan segera memeriksa keadaannya. Dia bernapas lega melihat tidak ada luka sedikitpun pada tubuh istrinya.
Ze segera memasukkan cahaya ungu terang yang keluar dari tubuh binatang ajaib yang sudah habis terbakar api sejati. Di luar sana tanpa mereka sadari beberapa orang yang telah merubah wujud menjadi anggota keluarga Ouyang telah berubah menjadi wujud aslinya.
Ze memberikan cincin tempat dia menaruh cahaya ungu itu kepada Hui tu.
"Ambil dan serahkan inti kehidupan binatang ajaib ini pada istrimu sebelum energi itu pupus karena dari yang aku lihat energi dari bintang ajaib itu sangat kuat." ucap Ze.
"Iya, pergilah segera. Biarkan masalah di kediaman ini menjadi urusan kami." ucap Jin hu.
"Terima kasih." hanya itu yang mampu Hui tu ucapkan lalu segera memasuki batu dimensi.
"Sepertinya mereka sudah kembali sadar." ucap Ze setelah mendengar keributan di luar bangunan itu.
"Apa yang harus kita lakukan pada mereka?" tanya Ze.
"Kita lihat saja dulu lalu lakukan apapun yang diperlukan." jawab Jin hu.
Mereka berdua keluar dari bangunan itu dan melihat banyak orang berkerumun. Mereka semua berjalan menuju bangunan tempat Ze dan Jin hu berada.
"Mengapa kita kembali ke wajah asli kita tetua?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, aku tidak melakukan apapun yang dilarang tapi aku kembali ke wujud asli." saut yang lainnya.
"Sepertinya terjadi sesuatu pada Junjungan kita di dalam bangunan utama. Aku merasakan kekuatan dalam tubuhku menjadi melemah." ucap seorang pria yang disebut ketua itu.
Mereka menghentikan langkah saat melihat Ze dan Jin hu keluar dari bangunan tempat binatang ajaib yang mereka sebut sebagai junjungan itu tinggal.
"Siapa kalian?" tanya salah satu dari mereka.
"Malaikat maut bagi kalian pengikut iblis yang tega mengorbankan kehidupan orang lain hanya demi keserakahan." jawab Ze.
"Kurang ajar.....! Habisi mereka berdua." ucap ketua klan Merak api itu.
Mereka semua menyerang ke arah Ze dan Jin hu menggunakan senjata mereka. Ze dan Jin hu dengan sigap menangkis dan menghindari serangan dari mereka semua.
"Tring trang tring trang. " suara senjata mereka saling beradu membuat malam yang seharusnya tenang menjadi sangat berisik.
Ze dan Jin hu mulai melancarkan serangan dan dalam sekejap mereka semua terkapar dengan luka sayatan belati dan pedang pada tubuh dan leher mereka.
__ADS_1
Melihat itu dua orang pemuda dan sang ketua menjadi murka. Mereka mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dengan guratan berwarna hitam. Mereka segera menelan pil itu dan seketika tubuh mereka berubah menjadi lebih besar dengan otot yang terlihat sangat kuat.
Wajah dan seluruh tubuh mereka terlihat guratan urat yang menonjol dengan mata yang seluruhnya menghitam.
"Mengapa mereka jadi tambah jelek?" tanya Ze.
"Aku juga tidak tahu sayang." jawab Jin hu.
"Pil apa yang mereka telan itu? Kekuatan mereka tampak menjadi berkali lipat lebih kuat setelah menelan pil itu." tanya Jin hu.
"Itu pil iblis. Pil yang akan meningkatkan kekuatan orang yang menelannya menjadi 10 kali lebih kuat. Tapi, pil itu akan merusak tubuh mereka setelahnya." jawab Ze.
Mahluk jelmaan ketua klan Merak api dan dua anggotanya mulai menyerang dengan kekuatan penuh. Dengan sigap Ze menangkis serangan mereka menggunakan perisai yang dia bentuk dari energi miliknya.
"Sepertinya kita harus serius melawan mereka." ucap Ze.
"Baiklah istriku sayang." ucap Jin hu.
Jin hu dan Ze mengalirkan energi pada senjata yang mereka pegang. Ze mulai menyerang dengan gesit satu mahluk yang paling besar sedangkan Jin hu melawan dua mahluk lainnya.
Suara benturan pedang dan belati mereka yang mengenai lengan mahluk itu mengeluarkan suara seperti senjata tajam yang berbenturan.
"Pil yang mereka telan sepertinya mereka berhasil ubah. Bahkan kulit mereka menjadi sekuat besi yang bahkan walaupun senjata kita aliri dengan energi tetap tidak menembus kulit mereka." ucap Ze.
Mereka berbincang sambil menangkis serangan dari mahluk itu. Ze dengan kekuatan penuh menyerang setiap inci dari tubuh mahluk itu menggunakan belati miliknya untuk mencari titik kelemahan dari mereka tapi nihil.
"Sepertinya aku hanya memiliki satu jalan. Apakah ini saatnya aku mengandalkan dirimu pedang ungu?" tanya Ze dengan telepati pada roh pedang.
"Kau hanya perlu menyerang mulut mereka dengan senjata atau bisa juga dengan kekuatan tenaga dalam penuh." jawab roh pedang.
"Baiklah terima kasih, akan aku coba." ucap Ze.
"Coba serang mereka di bagian mulut." ucap Ze.
"Baik sayang." saut Jin hu.
Mereka kembali menghantam tubuh mahluk itu berusaha agar mahluk itu membuka mulutnya agar dapat menyerangnya namun nihil.
"Sangat sulit menyerang mulut mereka karena mereka tidak membuka mulutnya sama sekali." ucap Ze.
"Sekarang bagaimana sayang?" tanya Jin hu.
"Serang menggunakan tenaga dalam penuh." ucap Ze.
__ADS_1
Ze dan Jin hu melompat menjauhi mahluk itu lalu mengumpulkan energi diantara telapak tangan mereka. Saat energi itu berhasil terkumpul mereka segera mengarahkan energi itu untuk menyerang mahluk yang sudah bersiap menyerang mereka.
"Duar duar...." suara letusan terdengar saat energi itu menyentuh tubuh mahluk itu.
Mahluk itu kembali berubah menjadi wujud aslinya yaitu ketua klan Merak api dan dua anggotanya yang sedang terluka. Mereka memuntahkan darah lalu tidak lagi bernyawa setelahnya.
"Kita harus segera pergi ke gua tempat mereka membuang mayat dari gadis-gadis kecil itu." ucap Hui tu yang baru keluar dari batu dimensi.
"Untuk apa kita ke tumpukan mayat? Apakah kau ingin kami juga membawa bau busuk pada tubuh kami seperti dirimu?" tanya Ze.
"Di sana ada tumbuhan yang sangat berharga. Tumbuhan itu dapat menjadi sebuah hal yang luar biasa jika digunakan dengan tepat dan dapat menjadi bencana jika digunakan oleh orang dengan niat buruk." jawab Hui tu.
"Kalau begitu ayo kita kesana." ucap Ze.
Mereka menghentikan langkah saat melihat dua orang wanita menggendong bayi dengan tubuh gemetar.
"Apa hubungan kalian dengan klan Merak api?" tanya Ze sebelum mereka mengatakan sesuatu.
"Ampun tuan dan nyonya. Kami hanya rakyat biasa yang dipaksa untuk menyamar menjadi orang lain agar bayi dan keluarga kami selamat." ucap salah satu dari mereka yang sudah berlutut ketakutan.
"Iya tuan, kalau bisa tolong selamatkan keluarga kami juga." ucap yang lainnya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Dimana mereka di tahan?" tanya Ze.
"Di belakang bangunan besar itu ada sebuah gudang tua. Tolong keluarga kami tuan, nyonya, disana ada orang tua kami yang sudah sangat lemah." mohon mereka.
:Berdirilah! " ucap Ze.
Hui tu segera mencari gudang yang dimaksud setelah Ze memberikan tatapan seolah mengatakan bahwa itu adalah tugasnya sekarang.
Benar saja, di belakang sana ada sebuah gudang tua dengan pintu yang tertutup rapat. Hui tu mengintip dari celah dinding dan melihat ada beberapa orang di dalam sana.
"Tolong yang ada di dalam menyingkir dari pintu karena aku akan menghancurkan pintu itu untuk mengeluarkan kalian." ucap Hui tu.
"Baik tuan." ucap salah satu dari mereka.
"Duak... Brak..." pintu itu hancur dengan satu tendangan dari Hui tu.
Dapat dia lihat ada sekitar 5 orang anak kecil, 3 pemuda, 2 pria dewasa dan 2 orang lansia yang tampak lemah.
"Mereka ada di sini." ucap Hui tu dan segera dua wanita itu berlari ke arah suara.
Dengan air mata yang semakin deras mengalir mereka berlari ke arah orang-orang itu. Mereka masing-masing masuk ke dalam pelukan pria dewasa yang sepertinya suami mereka masing-masing.
__ADS_1
"Beri minum mereka air ini agar tubuh mereka lebih baik. Kami harus segera pergi karena ada hal penting yang harus kami lakukan." ucap Ze lalu mereka pergi sebelum orang-orang itu sempat mengucapkan terima kasih.