
Mendengar ucapan penjaga perbatasan yang seolah tidak menghargai tuannya para dayang geram.
"Berani-beraninya kau yang hanya seorang prajurit rendahan berkata dengan tidak sopan kepada tuan putri kami." ucap geram seorang dayang bernama Siau.
"Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan. Tidak ada yang salah dengan ucapanku." ucap penjaga itu santai.
"Kau...."
"Cukup Siau." ucap si putri bernama putri Lin lin.
"Tapi tuan putri,....."
"Tidak ada gunanya membuang energi untuk berbicara dengan orang seperti dia." ucap putri Lin lin sebelum Siau sempat protes.
"Baik putri." saut Siau dan akhirnya mereka memilih menunggu dalam diam.
"Mengapa ada banyak putri dari kerajaan lain di sini?" tanya seorang putri pada pelayannya.
"Hamba tidak tahu tuan putri, biar hamba mencari tahu lebih dulu." saut pelayannya.
"Apakah aku melewatkan berita besar mengenai istana atas awan atau mengenai Jin hu yang akan menjadi suamiku itu?" gumam putri itu.
Putri itu adalah Kai rou ruan yang berasal dari kerajaan Kai. Tetua Fu tidak mengundangnya karena tidak memiliki akses dan tidak berani untuk berurusan dengan kerajaan Kai yang besar yang rajanya terkenal kuat dan sadis itu.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pelayannya yang mencari informasi itu datang. Putri Rou ruan menatap penuh tanya pada pelayannya itu.
"Seorang tetua yang dihormati setelah sang raja dari istana atas awan bernama tetua Fu mengundang beberapa putri dari beberapa kerajaan sekitar untuk dipilih menjadi calon istri sang raja." jelas pelayan itu tanpa menunggu tuannya bertanya.
"Kurang ajar, bagaimana bisa aku yang seorang putri dari kerajaan yang lebih berkuasa tidak menerima undangan itu?" tanya putri Rou ruan geram.
"Hanya aku yang pantas memiliki pria sesempurna Jin hu itu." ucapnya lagi.
"Beritahu mereka semua untuk mundur. Bagi yang menolak maka kerajaan mereka akan berhadapan dengan peperangan antara kerajaan dengan kerajaan Kai kita." ucap putri Rou ruan.
__ADS_1
"Ini bukan jalan yang baik tuan putri." saran seorang wanita tua di sebelah sang putri.
"Apa maksud bibi Cuan?" tanya Rou ruan yang memang selalu mendengar kata-kata dari wanita tua itu.
"Jika putri mengusir mereka semua, maka orang di dalam negeri atas awan akan berpikir bahwa putri tidak percaya diri bersaing dengan mereka yang hanya berasal dari kerajaan kecil itu." jelas Cuan.
"Bukankah putri jauh lebih hebat dan menawan dari mereka semua? Maka biarkan mereka sadar sendiri bahwa mereka tidak pantas bersaing dengan putri saat putri yang terpilih." tambahnya.
"Wah kau memang paling cerdas bibi Cuan. Memang benar apa yang bibi katakan. Aku jauh lebih pantas dari mereka jadi, aku bisa menyingkirkan mereka tanpa cara yang membuat aku terlihat buruk." ucap putri Rou ruan percaya diri.
Selama ini ada banyak lamaran untuk menikahi putri Rou ruan dari para raja dan Pangeran dari berbagai kerajaan besar namun dia tolak. Memikirkan itu, putri Rou ruan yakin bahwa Jin hu akan langsung memilihnya saat melihat pesonanya secara langsung.
Putri Rou ruan memang memiliki wajah yang cantik dengan penampilan anggun dan kemampuan kultivasi yang cukup tinggi tentunya statusnya sebagai putri dari kerajaan besar membuat banyak yang menginginkan dirinya untuk menjadi pendamping.
,"Mengapa mereka hanya menunggu di luar perbatasan jika mereka memang diundang?" tanya putri Rou ruan.
"Itu karena tabir dari negeri atas awan menolak menerima mereka semua tuan putri." jawab pelayan tadi.
"Tabir menolak mereka?" tanya Putri Rou ruan.
"Jangan memanggil pemimpin atas awan dengan sebutan raja, kaisar atau pangeran karena dia tidak menyukai itu. Dari kabar yang sering aku dengar tentang dia, orang-orang hanya akan memanggilnya yang mulia tuan Jin hu." jelas bibi Cuan.
"Mengapa demikian?" tanya putri Rou ruan.
"Hamba juga tidak tahu alasannya tuan putri." jawab bibi Cuan.
"Sebaiknya kita cari penginapan di dekat sini saja. Karena ini mungkin akan memakan waktu lama untuk menunggu pemimpin atas awan membuka tabir." saran bibi Cuan.
"Itu akan sulit untuk kita mencari penginapan di sekitar sini bibi Cuan." ucap pelayan tadi.
"Mengapa bisa susah Nian?" tanya bibi Cuan.
"Belum lama ini ada kejadian besar yang menyebabkan kematian seluruh penduduk pria di desa perbatasan ini. Para penduduk wanita dan anak kecil yang selamat memilih pergi ke tempat lain di mana kerabat mereka berada atau mencari peruntungan di tempat lain. Bahkan aku dan tuan putri hampir menjadi korban dari kejadian itu." jelas Nian si pelayan.
__ADS_1
"Itulah pertama kali aku melihat langsung wajah tampan Jin hu itu dan membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama." ucap putri Rou ruan sambil tersenyum membayangkan wajah tampan Jin hu.
Para putri yang lain juga semuanya yakin akan mampu menaklukkan hati Jin hu mengingat mereka juga berasal dari kerajaan yang cukup besar. Mereka tidak tahu saja akibat yang akan mereka hadapi jika pada saatnya mereka diberi jalan untuk kembali dan mereka tetap memilih untuk tetap maju.
...----------------...
"Sayang, bukankah kita akan menuju ke perbatasan pagi ini?" tanya Ze yang masih berbaring di dalam pelukan sang suami yang masih setia menahannya di atas tempat tidur.
"Iya, tapi tidak sepagi ini sayang." jawab Jin hu.
"Aku lapar." ucap Ze.
"Kalau ini kasus lain. Kita harus segera bangun karena aku tidak ingin istriku yang kecil ini semakin kecil jika tidak makan tepat waktu. Kau juga butuh asupan makanan bergizi agar dapat segera mengandung calon anak kita." ucap Jin hu yang langsung bangkit dari tidurnya.
Dia bahkan membantu Ze dengan menggendong istrinya menuju tempat mandi dan membantu membersihkan tubuh Ze tanpa melakukan aktivitas kesukaannya lagi mengingat sang istri akan kelelahan dan tidak akan bisa menemani dirinya ke perbatasan.
Jin hu juga membantu Ze mengenakan pakaiannya tanpa memanggil pelayan mengingat dia memang anti jika ada wanita lain yang memasuki kediamannya.
"Mengapa aku tidak melihat nenek, ibu, kakek dan ayah?" tanya Ze saat di ruang perjamuan.
"Mereka pergi ke bukit pelangi saat anda masih tertidur Nyonya." jawab ular api.
"Mengapa tiba-tiba dan tidak mengajak aku?" tanya Ze.
"Katanya mereka bosan terus berada di dalam istana. Mereka tahu nyonya dan tuan akan menuju perbatasan makanya tidak mengajak Nyonya." jawab Liu yu.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ayo sarapan saja." ajak Ze.
"Kami sudah sarapan bersama kakek Jeong nam." ucap Liu yu.
Selesai sarapan Jin hu, Ze, Ular api, Liu yu beserta rombongan tetua Fu dan para petinggi istana berangkat menuju perbatasan. Sedangkan untuk Wen yuan, Ze melarang dia untuk meninggalkan istrinya selama Sie li mengandung mengingat kandungan Sie li yang lemah menurut Ze.
Selama perjalanan mereka semua rombongan tetua Fu dan para menteri cukup jengah melihat Jin hu yang terlalu menjaga istrinya. Jin hu bahkan tidak menunggang kuda karena Ze memutuskan naik kereta. Ze masih ingin puas menyambung tidurnya dan Jin hu tentunya tidak akan keberatan dengan itu.
__ADS_1
Jin hu memang sering menggunakan kereta tapi itu untuk perjalanan yang cukup jauh namun untuk hanya menuju ke perbatasan dia lebih memilih menunggang kuda biasanya. Dengan itu juga mereka semakin menganggap Ze sebagai istri yang manja dan menganggap cerita kekuatan Ze sebagai cerita palsu.