Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tujuh


__ADS_3

Huo nan sedang panik karena kondisi ayahandanya sudah semakin parah. Disaat Huo nan dan beberapa orang lain tengah sedih, ada beberapa orang yang diam-diam tersenyum merasa menang. Mereka adalah selir wu dan Rui wu jin anaknya.


"Segeralah ma*i kaisar si*lan. Dengan kau ma*i lebih awal, kami akan lebih mudah menyingkirkan anak si*lanmu itu dari singgasana Kekaisaran." batin selir wu.


"Maafkan aku ayahanda tersayang, kau harus segera ma*i menyusul istri si*lanmu yang kau cintai. Kau hanya memandang anak si*lanmu itu dan tidak memberikan aku kesempatan untuk menduduki tahta. Maka jangan salahkan aku jika berbuat curang untuk mendapatkan tahta itu." batin Rui wu jin.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Sebelumnya ayahanda baik-baik saja mengapa kondisinya bisa memburuk?" tanya Huo nan dengan emosi.


"Ampuni tabib ini putra mahkota, tubuh Yang mulia sudah tidak mampu untuk menanggung penyakitnya ini. Yang mulia sudah hampir pada batas kemampuan untuk bertahan." ucap sang tabib.


"Plak." Huo nan yang geram menampar tabib.


"Aku ingin kalian berusaha untuk mempertahankan kondisi ayahanda ku bukan untuk mengatakan kata-kata omong kosong." bentaknya.


Tubuh Kaisar Rui bergetar hebat membuat Semua terutama Huo nan panik. Huo nan berkali-kali berdo'a dalam hati berharap sang ayah bertahan dan Ze segera muncul.


"Ada apa?" tanya Huo nan saat melihat Cheng duan masuk keruangan tanpa izin.


"Di luar ada Yang mulia tuan Jin hu dan nyonya Jin." jawab Cheng duan langsung.


"Persilahkan mereka segera masuk ke dalam sini." ucap Huo nan senang.


"Baik yang mulia putra mahkota." ucap Cheng duan lalu segera pergi ke tempat Ze dan yang lain sedang menunggu.


"Kalian di persilahkan untuk masuk dan putra mahkota menunggu kalian di tempat yang mulia kaisar." ucap Cheng duan.


Mereka segera berjalan mengikuti langkah Cheng duan yang membawa mereka ke tempat Huo nan berada.


Ze dan yang lain masuk ke dalam ruangan tanpa ada yang memeriksa karena dia bersama Cheng duan orang kepercayaan sang kaisar dan putra mahkota.


"Kakak ipar, kakak kedua oh syukurlah kalian segera datang. Kakak ipar tolong selamatkan ayahanda ku." ucap Huo nan penuh syukur dan harap.

__ADS_1


Ze akan segera memeriksa kaisar Rui namun seseorang angkat bicara dengan menganggap remeh dirinya yang hanya terlihat sebagai seorang gadis kecil yang lemah.


"Tunggu dulu, beberapa orang tabib senior yang berpengalaman saja tidak mampu menangani yang mulia kaisar. Bagaimana bisa seorang gadis kecil diperbolehkan menyentuh kaisar dengan modal kepercayaan diri yang terlalu tinggi." ucap selir wu.


"Jaga ucapan mu itu. Kau hanya seorang selir rendahan tidak pantas untuk mulutmu itu menghina seorang master alkemis yang diakui oleh ketua perkumpulan alkemis." ucap Huo nan dingin.


"Kau tidak boleh menghina ibuku seperti ini didepan orang lain. kau..... "


"Aku berhak melakukan apapun dan mengatakan apapun yang aku mau. Berhenti menghalangi pengobatan ayahanda atau kalian memang sengaja tidak menginginkan ayahanda selamat." ucap Huo nan dingin memotong ucapan Rui wu jin.


"Lakukan saja kakak ipar." ucap Huo nan lebih lembut dan sopan.


Ze segera memeriksa denyut nadi kaisar Rui dan seketika itu juga keningnya berkerut. Melihat perubahan raut wajah Ze, Huo nan semakin tidak tenang saja.


"Kaisar Rui diracuni." ucap Ze.


Ze segera mengambil kantung yang terikat di pinggangnya dan mengeluarkan sebutir pil juga mengeluarkan sebuah kantung air dari cincin penyimpanannya.


Dia dengan sigap mengambil mangkuk di atas meja dan memberikan pada Ze. Melihat putra mahkota yang belakangan terlihat tegas dan kejam menjadi sosok yang penurut di dekat Ze beberapa orang hanya mampu melongo saja.


"Haluskan pil ini (memberikan pil pada Huo nan) lalu basahi dengan air pada kantung ini (memberikan kantung air pada Huo nan) Setelah itu usahakan agar campuran bubuk pil dan air itu dapat tertelan oleh Kaisar Rui." ucap Ze.


Huo nan dengan cekatan melakukan setiap arahan Ze. Ze sendiri tengah sibuk meracik ramuan lain untuk kaisar Rui.


"Kau sebaiknya menyingkir dari sana sebelum aku membuat kau menyesal." ucap Ze kepada seorang tabib yang mendekat ke arah kaisar Rui.


"Apa yang kau lakukan? Segera menyingkir dari sini!" bentak Huo nan.


Tabib itu segera ingin keluar dari tempat itu namun langkahnya terhenti oleh Cheng duan atas perintah Ze.


"Jangan biarkan dia pergi dari sini. Tahan dan jaga dia sampai aku selesai dengan pengobatan kaisar Rui." ucap Ze.

__ADS_1


"Huek huek huek uhuk uhuk uhuk." setelah beberapa saat Huo nan berhasil membuat sang ayah menelan larutan pil, kaisar Rui segera memuntahkan cairan hitam pekat yang sangat bau.


Semua yang ada di dalam kamar terkejut dan segera menutup hidung mereka. Selir Wu dan putranya saling tatap dengan wajah panik melihat kaisar memuntahkan racun dari tubuhnya.


"Bagus, racunnya sudah berhasil dikeluarkan." ucap Ze membuat Huo nan menghela napas lega.


Jin hu dan yang lain hanya menonton dan membantu mengawasi sekitar agar tidak ada yang mengganggu proses pengobatan kaisar Rui.


"Suruh yang lain keluar saja, aku butuh konsentrasi setelah ini." ucap Ze.


"Kalian semua keluar saja." ucap Huo nan.


"Cheng duan, jaga baik-baik tabib itu. Aku menginginkan dia tetap hidup." ucap Huo nan lagi.


"Laksanakan yang mulia putra mahkota." ucap Cheng duan lalu menyeret tabib itu keluar.


"Apa yang kalian tunggu sehingga belum keluar dari tempat ini? Menunggu diseret keluar hm?" tanya Huo nan saat melihat selir Wu dan putranya masih berdiri di tempatnya.


"Kau jangan keterlaluan kakak putra mahkota. Biar bagaimana pun ibuku adalah selir ayahanda dan aku tetaplah seorang pangeran. Kami berhak melihat pengobatan ayahanda." ucap Rui Wu jin dengan nada tinggi tersulut emosi.


"Aku adalah hukum untuk saat ini. Jika kalian tidak keluar, aku akan memberikan tuduhan kalian sengaja menghambat pengobatan ayahanda dan berhak memenjarakan kalian." ucap Huo nan sambil menatap tajam ke arah dua orang yang sangat dia benci itu.


"Kau...... "


"Sudahlah, tidak ada untungnya kita melawan dia disini. Kita tangani dulu tabib itu agar kita aman." bisik selir Wu.


Mereka akhirnya keluar dari tempat itu dengan wajah kesal bercampur cemas.


"Buka pakaian ayahmu dan balur sekujur tubuhnya dengan ramuan ini. Racun yang bersarang pada tubuh beliau sudah menyebar ke seluruh tubuhnya karena sudah sangat lama di tubuhnya. Kita harus mengeluarkan racunnya dari setiap pori-pori kulitnya." ucap Ze.


Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa vote, like dan komen agar menjadi penambah semangat untuk author menulis ✌

__ADS_1


__ADS_2