
Mereka memasuki tabir dan mengamati kereta di belakang mereka. Kereta itu ikut masuk ke dalam melewati tabir tanpa hambatan membuat mereka menghembuskan napas lega. Bukan terlalu curiga tapi mereka hanya tidak ingin tertipu mengingat keluarga Ouyang adalah nama asing bagi mereka walaupun menyebut diri mereka adalah kerabat Jin hu dari kakeknya.
"Berarti mereka tidak menipu dan tidak memiliki niat buruk." ucap Huo nan.
"Bagaimana anda bisa yakin pangeran?" tanya Yang ruo yang masih tidak tahu masalah apapun tentang istana atas awan.
"Kerajaan ini memiliki beberapa tabir pelindung yang tidak dapat dilewati oleh orang dengan niat buruk. Kereta mereka berhasil melewati tabir itu artinya mereka tidak memiliki niat buruk." jawab Huo nan.
"Wah sungguh ajaib. Aku baru mendengar tentang hal seperti ini." ucap Yang ruo takjub
Setelah cukup lama menempuh perjalanan mereka akhirnya tiba di istana atas awan. Di depan istana sudah ada Ceri emas, Ular api beserta keluarga Ze menyambut kedatangan mereka.
"Kakek.... Aku rindu kakek." ucap manja Ze sambil berhambur memeluk tubuh Jeong nam saat melihat Jeong nam berdiri tersenyum menyambutnya.
"Kakek juga merindukan cucu kesayangan kakek ini." ucap Jeong nam membalas pelukan Ze.
"Apakah kami tidak dirindukan juga?" tanya Luo yin dengan wajah pura-pura kesal.
"Tentu aku juga merindukan ibu dan nenek." jawab Ze lalu memeluk keduanya.
"Kakek." sapa Jin hu yang langsung dihadiahi pelukan oleh Jeong nam.
"Kau tidak pernah berubah. Kau sekarang sudah jadi istri sekaligus ratu dari sebuah kerajaan. Masih saja bertingkah seperti anak kecil." ucap Luo yin.
"Apakah ibu lupa kalau Ze kita memang selalu menjadi Ze kecil buat kita?" tanya Mei yin sambil mengelus sayang kepala putrinya.
"Ya, kau memang benar." jawab Luo yin.
"Siapa mereka Ze sayang?" tanya Jeong nam yang baru menyadari ada beberapa wajah baru yang ikut dalam kepulangan cucunya.
"Sebaiknya kita biarkan tamu kita masuk ke dalam dulu dan meminta dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka terutama 2 bayi kecil itu." ucap Luo yin.
"Kau memang benar sayang." ucap Jeong nam.
"Apakah aku tidak disambut?" tanya Huo nan karena tidak disapa dari tadi.
"Sejak kapan kau membutuhkan sambutan? Kau adalah cucuku juga bukan?" tanya Luo yin.
__ADS_1
"Nenek memang yang terbaik." ucap Huo nan.
Mereka masuk ke dalam istana dan tanpa diperintahkan lagi Ceri emas segera menuju dapur untuk memberitahu koki agar menyiapkan makanan untuk raja dan ratu beserta tamu mereka. Tidak lupa agar mereka menyiapkan makanan yang layak untuk dikonsumsi oleh bayi.
"Jadi, mereka adalah kerabat dari Jin hu dan artinya juga kerabatmu saat ini?" tanya Luo yin.
"Iya nek." jawab Ze.
"Pemuda yang satu itu adalah Yang ruo. Dia adalah keturunan Hui tu." ucap Ze lagi.
"Hui tu sudah memiliki anak dan istri di usia semuda itu dan bahkan anaknya sudah sebesar ini?" ucap Luo yin terkejut karena memang yang dia tahu Hui tu adalah pemuda yang masih single melihat dari penampilannya.
"Ceritanya panjang nek, tunggu aku luang maka akan aku ceritakan pada kalian apa yang belum kalian ketahui mengenai Hui tu." ucap Ze.
Mereka terus berbincang selama menunggu makanan untuk mereka siap. Setelah makan bersama Ze memberikan sebuah kediaman untuk dua bayi beserta pengasuh dan penjaganya.
......................
Sementara di tempat Liu ku
Liu ku sudah tiba di tempat yang disebutkan dalam surat tuan Wu jin untuk bertemu dengannya.
"Selamat datang tuan, apakah ada yang bisa pelayan ini bantu?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Apakah ada tamu bernama Tuan Wu jin dari akademi tangga langit yang menginap di tempat ini?" tanya Liu ku.
"Oh, apakah anda adalah tuan Ji?" tanya balik pelayan itu dijawab anggukan kepala oleh Liu ku.
"Tuan Sin sudah menunggu anda di ruangannya. Mari biarkan pelayan ini menunjukkan jalannya." ucap pelayan itu sopan.
Liu ku tiba di depan pintu tempat tuan Wu jin menunggunya. Pelayan itu meninggalkan dia setelah membantu mengetuk dan membukakan pintu untuk Liu ku.
"Salam hormat paman Ji." sapa Sia wu dengan sopan.
"Kau tidak perlu melakukan penghormatan seperti itu untuk aku Sia wu. Tidak akan baik jika orang lain yang melihatnya." ucap Liu ku.
"Tidak masalah Liu ku, bukankah dia sudah seperti putrimu juga? Jadi, tidak salah dia melakukan penghormatan saat menyambut dirimu." ucap tuan Wu jin.
__ADS_1
"Adat istiadat dan aturan leluhur bukanlah hal yang bisa dikatakan tidak masalah maka tidak masalah untuk di ubah kakak ke 3, walaupun aku dan kau sudah seperti keluarga tapi aturan leluhur kita tetap berbeda jadi tetap saling menghargai kakak ke 3." ucap Liu ku.
"Baiklah, kau tidak berubah. Tetap saja kaku pada aturan leluhur yang mengekang seperti itu." ucap tuan Wu jin.
"Aku memang selalu seperti ini bukan? Lalu apa salahnya selagi tidak merugikan siapapun. Oh ya, ada apa kakak ke 3 dan Sia wu sehingga sangat ingin menemui aku?" tanya Liu ku.
"Tidak mungkin kalian hanya sekedar mampir ke tempat ini karena ini bukan area yang biasa kalian kunjungi. Pasti ada yang mendesak bukan?" tebak Liu ku.
"Sebaiknya kita duduk dan makan siang bersama dulu ayah, paman Ji." ucap Sia wu.
"Sia wu benar, kita makan siang bersama dulu sebelum kami menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan." ucap tuan Wu jin.
Mereka makan siang bersama lalu melanjutkan minum teh sambil berbincang mengenai berbagai macam hingga tuan Wu jin mulai berbicara tentang tujuannya memanggil Liu ku.
"Bagaimana bisa putrimu menikah dengan seorang raja dan kau tidak mengundang kami?" tanya tuan Wu jin.
"Pernikahan mereka memang tidak dibesar-besarkan karena ada banyak pertimbangan dan itu merupakan keinginan putriku sendiri juga. Kami tidak mengundang siapapun kecuali keluarga dalam yang sudah terlanjur berada di dalam kerajaan atas awan." jawab Liu ku.
"Bagaimana bisa seorang raja menikah sederhana?" tanya Sia wu.
"Mereka memang berencana mengadakan acara pernikahan meriah namun tidak dalam waktu dekat mengingat banyak hal yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu." ucap Liu ku.
"Apakah menantu keluarga mu sudah mengangkat seorang selir atau gu*dik?" tanya tuan Wu jin.
"Tidak." jawab Liu ku dengan wajah berkerut dan tatapan penuh selidik ke arah saudara seperguruannya yang sedang bernapas lega mendengar jawaban darinya.
"Mengapa kakak ke 3 bertanya seperti itu?" tanya Liu ku.
"Bukankah Sia wu sudah seperti putrimu? Berarti dia bisa rukun dengan putrimu yang lainnya seperti saudara." tanya balik tuan Wu jin.
"Maksudnya?" tanya Liu ku masih berharap kekhawatiran yang dia rasakan adalah sesuatu yang keliru.
"Bukankah dari dulu kau juga tahu bahwa Sia wu sudah menginginkan Jin hu? Karena putrimu terlanjur sudah menjadi ratu dari Jin hu, maka biarkan Sia wu mewujudkan impiannya walaupun hanya menjadi selir dari Jin hu." ucap tuan Wu jin tanpa ragu dan rasa bersalah sedikitpun.
"Tidak, aku tidak akan menyetujui hal itu." tolak Liu ku yang kini sudah memasang wajah datar.
"Ayolah, demi persaudaraan kita dan demi putrimu yang lainnya. Bukankah dia juga bukan putri kandungmu, dia lahir dari pernikahan pertama istrimu?" bujuk tuan Wu jin.
__ADS_1
"Aku tidak perduli dari mana anda mendapatkan berita tentang pernikahan aku yang baru terjadi dan mengenai status putriku. Tapi, Ze bukanlah putri angkat ataupun tiri. Dia adalah putri kandungku, darah dagingku dan akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaan dirinya termasuk mengakhiri hubungan apapun dengan siapapun di dunia ini." ucap Liu ku lalu berdiri dengan wajah menahan amarah.
"Aku masih menganggap hubungan kita sebelumnya sehingga aku menahan diri tidak menghancurkan dirimu yang berniat merusak kebahagiaan putriku. Tapi, lain kali kita bertemu dan kau masih memiliki niat itu dan mengungkapkan padaku, bersiaplah untuk berakhir di tanganku." ucap Liu ku lagi lalu pergi.