
Banyak orang yang bingung dengan nama pil yang tidak pernah mereka dengar. Tapi, beberapa orang yang tahu pil itu, mereka sangat takjub dan sangat bersemangat untuk melihatnya langsung.
"Mengapa aku tidak pernah tahu bahwa jenis pil ini ada?" tanya tuan Lei.
"Pil ini memang sangat langka dan sanggat jarang bahkan hampir tidak ada lagi alkemis yang mampu membuatnya. Pil Chongseng adalah 1 dari 5 jenis pil langka yang sangat berharga. Dari 1000 orang alkemis yang ada, sangat beruntung jika ada 1 saja orang dari mereka yang mampu membuatnya." jelas master Ni.
"Wah, aku baru tahu tentang ini. Lalu, apa fungsi dari pil ini?" tanya tuan Lei.
"Pil Chongseng sesuai dengan namanya yaitu lahir kembali. Jika seorang kultivator yang meridiannya rusak dan tidak lagi dapat berkultivasi menelan pil ini, maka tubuhnya akan terbentuk kembali membuat titik meridiannya kembali terhubung dan terbuka. Dia akan kembali dapat berkultivasi bahkan kultivasi miliknya akan lebih cepat meningkat dari sebelumnya." jelas master Ni.
"Apakah sehebat itu?" tanya tuan Lei langsung menatap takjub pil Chongseng yang dimaksud.
"Tidak hanya itu, bahkan seorang yang lahir tanpa bakat kultivasi dapat mulai berkultivasi dengan menelan pil ini." ucap maha guru.
Semua orang menatap kagum pada Ze. Beberapa orang mulai sibuk berbicara tentang kemampuan Ze yang luar biasa. Di saat semua sibuk mengagumi Ze, sosok Raja Kai dan putri Rou ruan wajahnya kini menggelap karena marah. Mereka tidak menyangka bahwa Ze adalah seorang alkemis yang hebat.
"Rencana kita hancur sudah ayah." ucap putri Rou ruan.
"Awalnya aku ingin menggunakan cara yang paling mudah untuk mereka. Tapi, tampaknya kita harus menggunakan cara keras untuk mereka." ucap Raja Kai.
"Maksud ayah?" tanya putri Rou ruan.
"Kita akan membuat wanita itu menjadi milik ayah. Dengan begitu, suaminya akan dengan mudah kau miliki." jawab Raja Kai.
"Caranya?" tanya putri Rou ruan.
"Membuat mereka tidur dengan kita sehingga terpaksa hidup dengan patuh sebagai pasangan kita masing-masing." jawab Raja Kai.
__ADS_1
"Apakah itu mudah?" tanya putri Rou ruan.
"Tenang saja, biar itu menjadi urusan ayah. Kita tidak akan menjadi orang terpenting kerajaan ini jika ayahmu ini tidak mampu melakukan hal kotor seperti itu sebelumnya dengan mudah bukan?" jawab Raja Kai.
"Baik, terserah ayah saja. Aku hanya ingin kak Jin hu menjadi milikku. Tidak perduli dengan cara apapun." ucap putri Rou ruan.
"Karena pil yang dua peserta buat dalam tingkat dan kualitas yang sama, mengesampingkan jenis pil istimewa milik Ratu istana atas awan, bagaimana cara memilih pemenang antara mereka?" tanya tuan Lei memecahkan suasana hening di atas panggung.
"Aku sudah tidak lagi tertarik dengan kompetisi ini. Aku berpikir akan memiliki lawan yang pantas namun nihil. Kalian tidak memiliki sesuatu yang membuat aku tertarik lagi untuk maju bersaing dengan kalian." sela Ze.
"Apakah maksud ucapanmu itu?" tanya Raja Kai geram.
"Tidak ada yang pantas menjadi lawan untukku di tempat ini." jawab Ze.
"Kau baru membuat pil dengan tingkat tinggi level istimewa kualitas rendah dan sudah se-angkuh itu?" tanya maha guru geram.
"Aku hanya menekan kemampuan pembuatan pil milikku untuk merendah sedikit saja. Tapi, aku pikir lagi, untuk apa merendahkan diri untuk orang yang tidak sepadan untuk aku?" jawab Ze santai.
"Tidakkah kau terlalu tidak sopan dengan meminta orang yang lebih tua meminta maaf kepada dirimu?" tanya maha guru.
"Apakah itu artinya kau ingin melanggar ucapanmu?" tanya Ze balik.
"Karena dirimu yang dituakan dan memiliki kemampuan lebih sedikit dari mereka, kau merendahkan orang lain dan berlaku semena-mena. Apakah itu dikatakan sopan?" ucap Ze.
"KAU MEMAKSA AKU MELAKUKAN HAL YANG BURUK YANG AKAN BERAKHIR BURUK UNTUK DIRIMU." ucap lantang maha guru.
Semua orang menghindar takut terkena dampak kemurkaan maha guru. Mereka sangat menyayangkan seorang jenius seperti Ze akan berakhir di tangan orang tua yang mereka anggap kuat itu. Orang tua itu mengeluarkan sebuah cambuk dengan permukaan yang dipenuhi duri tajam.
__ADS_1
"Aku berikan kau satu kesempatan untuk meminta maaf atas perlakuan yang tidak sopan dirimu sebelum aku putuskan untuk mengakhiri hidupmu." ucap maha guru.
"Pasti kau memiliki syarat untuk kesempatan itu bukan?" tanya Ze.
"Pil Chongseng dan biarkan aku menyerap kemampuan alkemis milikmu." jawab maha guru langsung pada intinya.
"Kau tidak pantas untuk itu. Hanya orang rendahan seperti dirimu dan sudah se-angkuh ini heh." ucap Ze.
"KURANG AJAR...... CTAK." ucap maha guru lalu mencambuk ke arah Ze.
Semua orang terbelalak melihat cambuk yang berhenti di udara dengan sendirinya sebelum berhasil menyentuh kulit wajah Ze. Bahkan maha guru tidak dapat menarik kembali cambuk itu.
"Orang di dunia bawah ini yang mampu membunuh diriku, masih belum lahir. Karena kau memilih untuk berlutut dengan paksaan, maka akan aku kabulkan." ucap Ze.
Seketika maha guru berlutut. Ze memberikan tekanan pada orang tua itu membuat tubuhnya tidak lagi dapat berdiri tegak. Ze mengarahkan telapak tangannya ke arah kepala maha guru lalu cahaya samar berwarna merah keluar dari pucuk kepala orang tua itu.
Ze mengarahkan telapak tangannya ke arah Hui tu dan cahaya merah samar yang dia serap dari maha guru masuk ke dalam tubuh Hui tu melalui matanya yang tiba-tiba berwarna merah seperti warna cahaya itu.
"Orang yang tidak menghargai orang lain dan terlalu meremehkan orang lain karena kemampuan yang tidak seberapa sangat tidak pantas memiliki kemampuan itu." ucap Ze.
"Sekarang untuk kalian ayah dan anak harus menyetujui 2 permintaan dariku atau siap untuk bernasib sama dengan orang tua itu dan hidup sebagai sampah." ancam Ze.
"Kau tidak seharusnya berlaku seperti itu terhadap tuan rumah yang menjamu dirimu dengan baik." ucap paman Hong.
"Tidak perlu menggunakan sihir padaku karena itu tidak berguna." ucap Ze lalu menatap mata paman Hong.
Seketika paman Hong terdiam dengan tatapan kosong. Ze menatap ke arah Raja Kai lalu menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban dari pria itu.
__ADS_1
Para penonton hanya bisa menonton dalam diam keadaan yang tidak terduga itu. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Maha guru yang dianggap kuat seketika menjadi tidak berguna, Raja Kai dan puterinya yang dianggap hebat didesak untuk memenuhi ucapannya. Para tamu kerajaan hanya menyimak di tempat mereka.
Jin hu, Hui tu dan Zili hanya menonton santai membiarkan Ze bersenang-senang seorang diri sambil mengawasi sekitar takut hal yang tidak terduga akan terjadi di saat lengah.