Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Peringatan untuk tetua Fu


__ADS_3

Jin hu dan Ze berjalan keluar dari kediamannya, karena pinggang Ze yang terasa sakit membuat Jin hu memilih mengangkat Ze keluar dari kediamannya. Di depan sudah ada tetua Fu yang sedari tadi menunggu Jin hu untuk keluar dari kediamannya.


"Yang mulia." sapa tetua Fu dan pengawalnya.


"Mengapa kalian berada di depan kediaman Kami, ini masih pagi?" tanya Jin hu.


"Di...."


"Nanti saja bicarakan apa yang ingin kalian sampaikan. Istriku sudah lapar dan tidak butuh kalian untuk menunda waktu sarapan kami." ucap Jin hu kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka tanpa menunggu tanggapan dari mereka.


"Dasar anak muda kurang ajar. Aku sudah lama menunggu dia untuk keluar dari kediamannya agar dapat meminta dia memberikan ijin pada para calon permaisuri masa depan negeri ini untuk dapat memasuki tabir. Dia hanya berlalu pergi tanpa rasa bersalah membuat orang yang lebih tua menunggu lama." batin tetua Fu.


"Tidak perlu ikuti kami ke ruang perjamuan. Istriku nanti kurang berselera makan jika ada orang lain yang menunggu kami di dalam. Tunggu aku di ruang persidangan saja." ucap Jin hu saat menyadari dua orang itu mengikuti langkahnya.


Ze hanya diam dalam gendongan Jin hu dengan wajah cemberut. Dia masih kesal dengan suaminya yang tidak mengontrol dirinya sehingga membuat dia susah untuk berjalan.


"Apakah kita sebaiknya sarapan di kediaman kita saja? Aku akan menyuruh pelayan membawa sarapan kita ke sana." saran Jin hu.


"Kita sudah di luar kenapa harus kembali ke dalam kediaman lagi?" tanya Ze dengan nada kesal.


"Apakah kau bisa duduk dengan nyaman sayang?" tanya Jin hu.


"Ini salahmu." kesal Ze.


"Iya sayang ini salahku karena terlalu bersemangat. Lain kali aku akan jauh lebih lembut." ucap Jin hu membalik badannya dan melangkah kembali ke kediamannya.


"Perintahkan pada pelayan untuk membawa sarapan kami ke dalam kediaman kami." ucap Jin hu pada penjaga pintu kediamannya.


"Baik yang mulia." penjaga itu segera pergi setelahnya.


Ze kembali di baringkan oleh Jin hu di atas tempat tidur mereka. Jin hu memijat pelan pinggang Ze sembari menunggu sarapan mereka tiba.


...----------------...

__ADS_1


"Keterlaluan sekali dia membuat aku menunggu selama ini." kesal tetua Fu yang sudah sangat bosan menunggu Jin hu.


"Dia pasti sengaja membuat aku menunggu lama. Ingin aku menghajarnya saja dan mendepak dia dari tahtanya jika aku mampu." ucapnya lagi.


"Sebaiknya anda tidak mengucapkan kata-kata itu tuan. Tidak akan baik bagi tuan jika ada yang mendengar ucapan tuan." tegur si pengawal.


"Huft, kau benar. Aku bisa kehilangan segalanya jika ada yang mendengar apa yang aku ucapkan." ucap tetua Fu yang berusaha meredam emosinya.


Pintu terbuka Jin hu masuk ke dalam ruangan dengan Liu yu dan ular api berjalan di belakangnya. Jin hu duduk di kursinya dan menyuruh semua orang yang ada di dalam ruangan untuk duduk.


"Ada apa mencari aku?" tanya Jin hu langsung


"Di perbatasan sudah datang para putri dari negeri tetangga dan mereka tidak dapat melewati tabir." jawab tetua Fu.


"Lalu?" tanya Jin hu.


"Ijinkan mereka memasuki tabir karena mereka adalah tamu penting." jawab tetua Fu.


"Kurang ajar, kau membuat perintah untuk yang mulia hah?" ucap ular api dengan nada tinggi.


"Mereka tamu penting dari siapa?" tanya Jin hu memotong ucapan tetua Fu.


"Karena mereka putri kebanggaan dari negeri tetangga, tentu mereka adalah tamu penting untuk istana ini." jawab tetua Fu.


"Aku tidak mengundang mereka semua. Bagiku, jika tabir menolak mereka aku juga tidak akan mengijinkan mereka untuk memasuki tabir." ucap Jin hu.


"Tapi...."


"Apakah kau sudah terlalu tua untuk sadar posisimu? Yang mulia sudah mengatakan apa yang dia inginkan dan kau masih ingin memaksa untuk merubah keputusan yang mulia." ucap ular api yang mulai tersulut emosi.


"Bukan seperti itu hanya saja, tidak baik untuk mengundang permusuhan dengan negeri tetangga. Tidak menghargai putri kebanggaan mereka sama saja dengan menghina negeri mereka." ucap tetua Fu.


"Biarkan mereka di luar dan aku juga istriku akan melihat mereka besok pagi. Akan diputuskan apa yang harus dilakukan pada mereka setelah itu." putus Jin hu.

__ADS_1


"Tentu yang mulia Nyonya Jin akan menolak mereka jika dia ikut." ucap tetua Fu.


"Maka aku akan menolak kedatangan mereka juga. Istriku tidak se-picik itu untuk menolak kedatangan sampah yang tidak ada artinya di dalam negeri ini." ucap Jin hu.


"Mengapa harus menunggu sampai besok? Kasihan para putri menunggu terlalu lama." tanya tetua Fu.


"Istriku masih terlalu lelah dan aku tidak ingin meninggalkan istriku sendiri. Sudah diputuskan besok pagi atau usir mereka semua." ucap Jin hu lalu keluar dari ruangan itu.


"Tapi...."


"Ingat posisimu tetua Fu. Atau aku tidak akan segan lagi padamu." ucap Jin hu tanpa menoleh lagi lalu berlalu pergi.


"Jika kau terus tidak tahu posisimu, aku yang akan memberikan pelajaran untukmu agar tuanku tidak mengotori tangannya hanya untuk orang tua seperti dirimu." ucap ular api setelah Jin hu pergi.


"Kau hanya bawahan, apa kau memiliki kemampuan untuk menekan tetua Fu?" tanya pengawal tetua Fu dengan marah.


"Aku jauh dari mampu untuk menghabisi kalian." ucap ular api mulai menekan mereka dengan kekuatan dalamnya.


"Uhuk uhuk uhuk." mereka berdua terduduk di lantai sambil terbatuk memuntahkan darah saat ular api meninggalkan mereka.


"Mengapa orang-orang disekitar wanita itu begitu kuat? Bagaimana aku menyingkirkan dia jika yang melindungi dia adalah orang-orang yang kuat?" tanya tetua Fu.


"Sebelum kau berhasil menyingkirkan putriku, kau sudah akan menjadi abu di tangannya." ucap Ji liu ku yang tidak sengaja lewat dan mendengar ucapan tetua Fu.


"Kau hanya orang tua serakah yang tidak akan susah bagi putriku untuk menghapuskan kehadiranmu di dunia ini. Ingat posisimu dan terima apa yang kau miliki jika tidak ingin merugi karena keserakahan." ucap Ji liu ku lalu pergi meninggalkan mereka.


Liu ku tidak ingin membuang tenaganya untuk mengurusi orang yang lemah. Biarkan saja menjadi urusan putrinya dan membiarkan putrinya bersenang-senang dengan mempermainkan orang yang tidak berguna seperti itu.


...----------------...


Di luar tabir


"Mengapa kita harus menunggu lama untuk memasuki tabir?" tanya seorang putri.

__ADS_1


"Iya, putri adalah putri terhormat mengapa harus menunggu di luar perbatasan seperti ini?" tanya dayang putri itu pada penjaga di dalam tabir.


"Karena tabir menolak kalian, biasanya kalian harusnya sudah tidak ada harapan untuk masuk. Karena tetua Fu sedang berusaha untuk mencari cara membuat kalian masuk walaupun tidak tahu akan berhasil atau tidak maka dari itu putri kalian masih bisa menunggu." jawab santai penjaga itu.


__ADS_2