
Jin hu sedang memeriksa beberapa laporan yang diterimanya dari orang kepercayaannya di istana atas awan itu. Dia berada di ruang baca miliknya saat itu. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintunya.
"Tok tok tok."
"Siapa?" tanya Jin hu sambil menutup buku laporan yang sedang dia baca.
"Ampun yang mulia, seorang prajurit yang bertugas di perbatasan datang ingin melapor." jawab orang yang mengetuk pintu.
Jin hu mengernyit heran mendengar bahwa seorang prajurit dari perbatasan datang melapor.
"Apakah terjadi penyerangan lagi di perbatasan?" gumamnya sambil melangkah ke arah pintu.
"Katakan." ucap Jin hu pada prajurit itu setelah dia membuka pintu dan berdiri di depan prajurit itu.
"Raja dari kerajaan Kai datang berkunjung dan tidak bisa melewati tabir yang mulia." ucap perajurit itu.
"Apa tujuannya datang ke negeri ini? Kami tidak cukup akrab jika hanya untuk kunjungan biasa." tanya Jin hu.
"Lapor yang mulia, mereka mengatakan untuk berterima kasih atas pertolongan anda pada puterinya dan untuk mengundang anda sebagai tamu kehormatan dalam kompetisi alkemis di kerajaannya." jelas prajurit itu.
"Kompetisi alkemis yang diadakan di kerajaan Kai?" sela seseorang yang tidak sengaja mendengar penjelasan prajurit itu.
"Apakah kakek tahu sesuatu tentang itu?" tanya Jin hu.
Ya orang itu adalah Shi Jeong nam, kakek dari Ze. Orang tua itu sedang melintas dan tidak sengaja mendengar tentang kerajaan Kai dan kompetisi alkemis di kerajaan itu.
"Tentu saja aku tahu. Kompetisi alkemis di kerajaan itu adalah kompetisi alkemis terbesar. Bahkan kerajaan-kerajaan asing yang jauh juga mengikuti kompetisi itu." jawab Jeong nam.
"Mengapa aku tidak pernah mendengar tentang itu?" tanya Jin hu.
"Itu karena kerajaan-kerajaan daerah kita ini tidak pernah masuk sebagai peserta dalam kompetisi itu. Aku juga baru tahu itu kala ayah mertuamu mendapatkan undangan untuk menjadi peserta namun dia menolaknya karena dia tengah fokus pada kultivasi untuk membalas dendam saat itu." jelas Jeong nam.
"Mengapa kerajaan-kerajaan di kawasan ini tidak pernah menjadi peserta?" tanya Jin hu.
__ADS_1
"Karena standar yang ditetapkan untuk mengikuti kompetisi itu sangat tinggi. Setidaknya harus alkemis tingkat 4 yang bisa mengikuti kompetisi itu." bukan Jeong nam tapi Liu ku yang datang dari arah Jeong nam sebelumnya datang yang menjawab pertanyaan Jin hu itu.
"Ayah dari mana?" tanya Jin hu.
"Aku dan kakek mu baru selesai bermain catur di taman belakang. Kami sebenarnya bersama-sama kembali tapi aku berhenti sebentar untuk berbicara dengan Liu yu." jawab Liu ku.
"Apakah saat ini kita memiliki alkemis tingkat 4?" tanya Jin hu.
"Kalau tingkat 4 tidak ada. Bahkan Tang hui bi masih di tingkat 3." jawab Liu ku membuat Jin hu terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Liu ku.
"Raja kerajaan Kai berada di perbatasan ingin masuk ke dalam negeri ini tapi terhalang tabir. Katanya dia datang untuk berterima kasih karena putrinya selamat dari serangan yang terjadi di perbatasan sebelumnya." jelas Jin hu.
"Penyerangan di perbatasan? Bagaimana aku tidak tahu?" tanya Jeong nam.
"Ceritanya cukup panjang tapi intinya aku dan Ze berhasil mengatasi masalah itu." jawab Jin hu.
"Kalau seperti itu kau berhutang cerita lengkapnya padaku." ucap Jeong nam dijawab anggukan kepala oleh Jin hu.
"Dia juga mengundang aku sebagai tamu kehormatan dalam acara itu. Tapi, alangkah memalukannya jika tamu kehormatan tidak menyertakan peserta yang kompeten untuk ikut dalam kompetisi ini." jawab Jin hu.
"Apakah otakmu itu sudah tidak mampu untuk berpikir lagi? Apakah kau sudah menjadi bodoh bahkan sangat bodoh sekarang?" tanya Liu ku membuat Jin hu mengernyit bingung.
"Apa maksud ayah mengatai aku bodoh?" tanya Jin hu kesal.
"Bukankah kau memiliki istri yang jenius? Mengapa kau harus mencari alkemis lain lagi untuk menjadi peserta?" tanya Liu ku lagi.
"Bukannya ayah bilang tadi..."
"Kau hanya bertanya apa ada alkemis tingkat 4? Kau tidak bertanya tentang tingkat di atas tingkat 4 tadi. Sedangkan putriku telah jauh dari tingkat 4." ucap Liu ku yang tahu maksud protes dari Jin hu.
"Aku mana tahu karena aku tidak bisa melihat pencapaian baik kultivasi ataupun alkemis dari istriku. Tapi, itu adalah ide jenius ayah. Kami bisa sambil berjalan-jalan di kerajaan luar yah hitung-hitung bulan madu kedua kami." ucap Jin hu bahagia.
__ADS_1
"Aku akan mempersembahkan mereka masuk kalau begi..... Ah aku lupa satu hal." ucap Jin hu seperti seorang yang bingung.
"Apa yang kau lupakan?" tanya Jeong nam.
"Bukankah yang mereka tahu bahwa negri atas awan ini tidak memiliki alkemis yang sesuai standar kompetisi mereka karena tidak ada yang tahu tingkat dari pencapaian alkemis Ze? Lalu mengapa Raja Kai ini mengundang aku sebagai tamu kehormatan?" tanya Jin hu.
"Apakah untuk mempermalukan negri atas awan ini?" tanya Jeong nam balik.
"Mengingat Jin hu yang pernah menyelamatkan putrinya aku pikir itu bukan tujuan raja Kai itu." jawab Liu ku.
"Lantas apa tujuannya?" tanya Jeong nam.
"Jika tidak salah, puterinya adalah seorang dengan bakat ganda seperti Ze. Putri dari Raja Kai juga telah beberapa kali memenangkan kompetisi ini." jawab Liu ku.
"Apakah tujuannya adalah agar Jin hu yang tidak ingin malu, menikahi putrinya itu agar dapat mewakili negri atas awan dalam kompetisi itu?" tanya Jeong nam dengan mata terbelalak.
"Begitulah yang aku pikirkan saat ini." jawab Liu yu.
Mereka terlalu asik berbincang tanpa sadar ada dua orang yang sudah pegal menunduk sambil mendengarkan perbincangan mereka. Mendengar perbincangan mereka tentang rencana licik Raja Kai, prajurit itu ingat sesuatu.
"Ampun yang mulia." ucapnya.
"Ada apa?" tanya Jin hu.
"Sebenarnya saat selesai penyerangan di perbatasan hamba tidak sengaja mendengar seorang wanita yang mengaku sebagai putri dari negeri Kai."
Prajurit itu menceritakan perbincangan putri Rou ruan dengan pelayanan saat itu yang menginginkan Jin hu.
"Hamba tidak melaporkan itu karena merasa mereka bukan masalah besar bagi yang mulia Nyonya Jin mengingat kemampuan beliau. Hamba tidak berpikir bahwa akan sampai seperti ini." ucapnya mengakhiri ceritanya.
"Itu bukan salahmu. Kau bisa pergi sekarang." ucap Jin hu.
"Kenapa?" tanya Jin hu setelah menyadari dua orang di sampingnya tidak bergerak.
__ADS_1
"Ampun yang mulia, kami tidak bisa menggerakkan kaki karena terlalu lama dalam posisi hormat seperti ini." jawab salah satu dari mereka membuat Jeong nam menganga.
"Astaga, kalian kenapa harus berlutut selama kami berbincang?" tanya Jeong nam yang entah harus tertawa atau bersedih melihat dua orang itu. Akhirnya Jin hu memanggil pelayan yang kebetulan lewat untuk membantu mereka pergi dari sana.