
Ze menguap dan menghela napas bosan.
"Ah sebaiknya kalian sajalah yang menangani mereka. Terlalu mudah untuk dikalahkan membuat bosan." ucap Ze kepada Zili dan Hui tu yang sedari tadi hanya menonton aksi Ze.
"Aku juga tidak suka menghadapi lawan yang lemah." ucap Hui tu malas.
"Kalau begitu kau saja yang menyelesaikan mereka." ucap Ze menatap Zili.
"Baik putri." saut Zili dan saat Zili hendak maju Ze kemudian menghentikannya.
"Tunggu dulu, sepertinya mereka lebih berhak untuk menghancurkan orang-orang tidak berguna ini." ucap Ze setelah melihat tatapan penuh amarah dan dendam berbalut rasa pilu dari para warga ke arah dua orang bertubuh besar itu.
Ze melemparkan dua jarum berlumuran racun saraf ke arah dua orang itu dan seketika tubuh mereka melemah dan tumbang.
"Mereka sudah tidak dapat bergerak sedikitpun. Kalian bebas melakukan apapun pada tubuh mereka. Mereka masih hidup dan masih dapat merasakan sakit pada tubuhnya tapi tidak akan ada gerakan apapun untuk menanggapi rasa sakit itu. Racun itu akan bertahan selama 3 hari maka aku sarankan sebelum 3 hari mereka sudah harus ma*i."ucap Ze.
"Baik putri, terimakasih banyak." ucap para warga.
"Kami harus melanjutkan perjalanan. Tuntaskan semua rasa sakit hati yang kalian derita pada mereka." ucap Ze.
"Apakah ada yang dapat kami lakukan untuk membalas budi putri sebelum putri pergi?" tanya seorang pria paruh baya pada Ze.
"Sebenarnya kami berkunjung ke desa ini untuk membeli sebuah kereta beserta kudanya agar perjalanan kami mudah." ucap Ze.
"Jika hanya sebuah kereta kami dapat memberikan itu tapi untuk kuda, semua hewan peliharaan kami sudah mereka semua rampas." ucap pria paruh baya itu dengan wajah kecewa karena tidak dapat memberikan apa yang penolong mereka butuhkan.
"Tidak masalah, kami akan mencarinya di desa sebelah." ucap Ze.
"Putri terimalah ini." ucap seorang wanita menyerahkan sebuah kotak pada Ze yang langsung ditolak oleh Ze.
"Aku tebak itu adalah seluruh harta yang tersisa dari kalian. Sebaiknya kalian simpan untuk membangun kembali desa kalian agar hidup kalian lebih baik kedepannya." ucap Ze.
"Tapi, kami hanya bisa memberi ini sebagai wujud syukur kami karena telah ditolong oleh putri." ucap wanita itu.
"Benar putri." ucap warga lainnya.
"Yang membutuhkan itu kalian bukan kami. Kami memiliki uang kami sendiri dan kami menolong kalian tidak dengan harapan apapun dari kalian." ucap Ze.
__ADS_1
"Terima kasih putri." ucap para warga.
"Tunggu......!" seru seorang pemuda dari kejauhan.
Ze dan yang lain yang hendak pergi menghentikan langkahnya. Pemuda itu berlari dan berhenti di dekat Ze dengan napas yang memburu karena berlari.
"Aku baru saja mengecek dan ternyata masih ada beberapa hewan ternak termasuk kuda di tempat mahluk kejam itu biasa beristirahat." ucapnya.
"Bagaimana kau bisa tahu tempat mereka beristirahat Yung?" tanya seorang gadis muda dengan wajah khawatir.
"Sebelumnya aku tidak sengaja melihat tempat itu dan tahu kalau mereka hanya memasukkan semua hewan dalam kandang. Mereka lebih suka daging manusia katanya dan untuk hewan-hewan itu, mereka akan memakannya saat tidak lagi mendapatkan manusia untuk disantap. Itu aku dengar dari percakapan mereka." ucap pemuda itu.
"Rui, Guo dan oh ya dimana Guang?" tanya seorang pria sembari celingukan mencari orang yang dia maksud.
"Aku lupa, pemuda bernama Guang masih dalam segel." ucap Ze.
Ze segera melangkah menuju ke tempat Guang yang masih kaku oleh pengaruh segelnya. Setibanya di sana Ze segera merapal mantra.
"Segel pengurungan batalkan." ucap Ze sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah Guang.
"Lili kau baik-baik saja? Tidak terluka kan?" tanya Guang khawatir sembari melihat setiap sudut dari tubuh gadis kecil yang dia panggil Lili itu.
"Aku dan yang lainnya baik-baik saja kak Guang. Berkat bantuan dari putri itu." ucap Lili.
"Terima kasih banyak putri." ucap Guang.
"Tidak masalah." ucap Ze.
"Putri siapa nama anda?" tanya Lili.
"Iya, sangking senangnya terbebas dari para mahluk jahat itu kami lupa menanyakan nama dari penolong kami." ucap seorang pria dengan wajah kikuk.
"Kalian dapat memanggilku Ze." ucap Ze.
"Terima kasih putri Ze." ucap para warga.
"putri Ze membutuhkan kuda dan kereta untuk melanjutkan perjalanan. Pergilah bersama Rui dan Guo untuk menyiapkan apa yang putri Ze butuhkan." ucap seorang pria paruh baya pada Guang.
__ADS_1
"Baik paman Sing." ucap Guang.
Mereka telah menyiapkan kereta untuk Ze setelah beberapa saat. Ze, Hui tu dan Zili berpamitan pada para warga.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah negri Douchan menggunakan kereta kuda pemberian dari warga desa. Mereka menolak uang dari Ze yang ingin membeli kereta itu.
Karena kuda yang membawa mereka adalah kuda biasa, bukannya hewan roh yang tidak butuh pengawasan hanya perlu menunjukkan arah sekali saja, dengan terpaksa Suho dan Dujo bertugas menjadi kusir di depan atas perintah Zili setelah Ze mengeluarkan mereka dari batu dimensi setelah cukup jauh dari desa.
"Sebaiknya kalian berdua yang mengendalikan kuda di depan." ucap Zili.
"Baik pangeran." jawab Suho dan Dujo bersama.
"Jangan ganggu aku untuk beberapa saat ke depan hingga aku sendiri yang mengeluarkan suara karena aku harus melatih kemampuan segel yang aku miliki." ucap Ze.
"Gadis bodoh, selamanya tetap menjadi gadis bodoh." ejek Hui tu.
"Mengapa kau selalu mengatai aku yang jenius ini sebagai gadis bodoh?" tanya Ze tidak suka.
"Lagi pula aku bukan lagi seorang gadis jika kau lupa aku adalah seorang wanita bersuami." protes Ze.
"Kalau begitu wanita bodoh." ucap Hui tu.
"Kau..... "
"Apa gunanya batu dimensi milikmu dengan ruang dimensi yang luas itu jika kau masih harus berlatih di dalam kereta yang sempit ini?" tanya Hui tu membuat Ze terdiam.
"Kau benar, aku melupakan itu." ucap Ze.
"Tetapi tetap saja aku tidak suka kata bodoh yang kau sematkan untuk memanggilku. Aku hanya lupa tentang batu dimensi itu." ucap Ze.
"Terserah, pergilah segera ke dalam batu dimensi. Kami akan berjaga di luar sini." ucap Hui tu dijawab anggukan Zili tanda setuju dengan ucapan Hui tu.
"Baiklah." ucap Ze lalu masuk ke dalam batu dimensi.
Di dalam batu dimensi Ze dapat melihat Jin hu yang tidak sadarkan diri. Melihat keadaan suaminya Ze semakin semangat untuk segera melatih kemampuan segel miliknya hingga pada tingkat dimana dia dapat menggunakan penghancur segel pada segel di dalam tubuh Jin hu saat semua bahan yang dia butuhkan sudah terkumpul.
selamat membaca
__ADS_1