Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tetua Fu bertekuk lutut


__ADS_3

Ze berjalan dengan santai ke arah Jin hu namun tatapannya sangat tajam seolah akan mengupas semua rahasia yang Jin hu simpan.


"Mohon maaf Nyonya Jin ini......"


"Lancang sekali kau tetua Fu.....!" ucap Jin hu geram karena tidak suka jika di dalam istana Ze hanya di panggil nyonya Jin saja.


ucapan jin-hu membuat tetua Fu tercekat. Nyali orang tua itu sudah menciut karena melihat tatapan tajam jin-hu kearahnya.


"Yang mulia nyonya Jin adalah ratu di istana ini bagaimana anda hanya memanggilnya nyonya saja di dalam istana seolah dia hanya seorang nyonya dalam satu keluarga biasa saja." tegur penasehat istana yang paham maksud kata lancang yang Jin hu ucapkan.


"Maafkan orang tua ini karena telah bersalah yang mulia Nyonya Jin." ucap tetua Fu.


"Hm bukan masalah." ucap Ze.


"Cukup ingat untuk tidak mengulanginya lagi karena suamiku itu tidak suka ada yang salah dengan panggilan orang-orang saat menyebutkan namaku." tambahnya.


"Baik yang mulia Nyonya Jin. Orang tua ini akan ingat itu." saut tetua Fu.


"Mengapa kami tidak sekalian memanggil anda dengan gelar ratu atau permaisuri saja yang mulia nyonya Jin?" tanya seorang Kasim yang ikut dalam pertemuan itu.


"Suamiku yang merupakan pemimpin dan pendiri dari kerajaan ini saja tidak ingin menyandang gelar Raja, kaisar bahkan pangeran. Bagaimana mungkin aku sebagai istrinya menyandang gelar Ratu atau permaisuri. Bagaimana mungkin ada seorang permaisuri tanpa adanya Raja atau kaisar?" jawab Ze.


Mendengar Ze menyebutkan dirinya sebagai alasan enggannya dia dipanggil Ratu membuat Jin hu senang.


"Tadi tetua Fu ingin menyampaikan apa padaku sebelum suamiku menyela ucapan anda tetua Fu?" tanya Ze yang menangkap raut kurang nyaman dari orang tua itu.


"Ini adalah ruang persidangan resmi istana." jawab orang tua itu.


"Hm aku tahu itu. Lalu?" tanya Ze yang masih belum paham maksud ucapan tetua Fu.


"Perempuan tidak di ijinkan memasuki ruang persidangan resmi terlebih saat ada pertemuan di dalamnya." jawab tetua Fu.


Jin hu ingin memaki dan menghajar orang tua itu saat itu juga karena bagi Jin hu larangan itu seolah meremehkan istrinya. Tapi, karena melihat Ze hanya tersenyum dia urungkan niatnya untuk menghantam orang dan memilih untuk menonton ulah istrinya. Jin hu sangat paham akan maksud dari senyuman dari istrinya itu. Yang artinya akan ada orang yang akan terluka, kesal ataupun malu nantinya.


"Siapa yang melarang aku memasuki ruangan ini?" tanya Ze.


"Ini sudah merupakan aturan Yang mulia nyonya Jin." jawab tetua Fu.

__ADS_1


"Siapa yang membuat aturan itu?" tanya Ze.


"Ini.....!"


"Lalu untuk apa kursi di sebelah kursi suamiku itu jika aku tidak bisa memasuki ruangan ini?" tanya Ze.


"Itu a....."


"Apakah maksud kalian itu adalah kalian hendak mencari pasangan baru yang menurut kalian layak untuk tempat itu?" tanya Ze yang sebenarnya Ze tahu mereka tidak memiliki jawaban yang tepat untuk itu.


Terlebih Ze terus saja mengutarakan beberapa pertanyaan sebelum ada jawaban penuh dari orang tua itu.


"Bukan seperti i......."


"Jika itu adalah aturan turun temurun, apakah aku tidak salah ingat bahwa istana ini baru berbentuk istana setelah suamiku yang membangunnya?" tanya Ze lagi.


"Iya. Tapi,......"


"Suamiku melarang para wanita masuk ke dalam ruangan ini bukan karena wanita tidak boleh sama sekali masuk. Suamiku hanya tidak suka sembarangan wanita berada di sekitarnya." ucap Ze.


"Benar sekali sayang." jawab Jin hu.


"Tapi, Yang mu....."


"Apakah kau yang ingin menetapkan semua aturan yang berlaku mulai saat ini?" tanya Ze yang arti dari ucapannya adalah menduduki jabatan atau tahta Jin hu dengan kata lain berniat untuk memberontak.


"Hamba tidak berani untuk itu yang mulia." ucap tetua Fu ketakutan.


Dia bahkan sudah berlutut memohon agar tidak ada yang mengartikan dia benar-benar ingin memberontak.


"Hm, sudahlah jika memang kau tidak ada niat untuk itu maka hentikan perdebatan tentang masalah ini." ucap Ze.


"Sekarang sebutkan apa masalah besar yang tidak boleh sampai di telingaku ini?" tanya Ze yang kembali fokus kepada Jin hu.


Ze melangkah ke arah Jin hu sambil terus menatapnya. Tatapan Ze seolah berkata "katakan sekarang" ada Jin hu.


"Huft baiklah, aku akan memberitahu apa yang kami bahas sebelumnya tapi, biarkan mereka keluar dari ruangan ini dulu. Kita juga harus menyelesaikan masalah lainnya bukan?" ucap Jin hu.

__ADS_1


"Baik jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat ! Jika kau membohongiku, maka akibatnya tidak akan bisa kau bayangkan seumur hidupmu." ancam Ze setelah itu dia duduk di sebelah Jin hu.


"Kalian semua bisa keluar dari ruangan ini." ucap Jin hu.


"Baik yang mulia." saut mereka semua.


"Liu yu...!" panggil Jin hu saat pemuda itu akan keluar dari ruangan.


"Ya yang mulia?" tanya Liu yu.


"Pastikan tidak ada yang memasuki ruangan ini selama kami berdua di sini." ucap Jin hu.


"Baik yang mulia." saut Liu yu.


Liu yu segera keluar dan menutup pintu setelah mendapat perintah dari Jin hu untuk keluar dengan kibasan tangan.


"Sekarang katakan." ucap Ze.


"Kami sebelumnya membahas berbagai hal yang terjadi selama kita meninggalkan istana hingga saat ini." jelas Jin hu.


"Lalu, apa yang harus disembunyikan dari aku?" tanya Ze.


"Hal terakhir yang mereka laporkan adalah beberapa kerajaan mengirim tawaran untuk kerjasama melalui pernikahan antara kerajaan." jawab Jin hu.


"Kau ingin merahasiakan ini dari aku apakah karena kau ingin menyetujui tawaran itu?" tanya Ze.


"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan ada wanita lain di sisiku selain kau sayang. Hanya ada kau di dalam hatiku dan hanya kau istriku selamanya. Tidak ada selir ataupun gu*dik di antara kita." jawab Jin hu cepat karena takut Ze akan salah paham.


"Semoga kau tidak akan melakukan itu karena, aku tidak akan pernah bisa menerima wanita lain di sisi suamiku. Jika itu terjadi, aku memilih untuk meninggalkan kamu dan melepaskan status istri dari diriku." ucap Ze.


"Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu sayang. Aku hanya akan terus bersamamu dan tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu hubungan kita." ucap Jin hu sambil menggenggam tangan Ze.


"Aku memutuskan untuk memberikan para putri yang telah terlanjur di perjalanan ke istana ini pada para menteri dan mereka yang tidak terima harus dipulangkan ke negeri mereka sebelum aku mengirim mayat mereka. Aku tidak ingin hal ini membuat kau merasa terganggu maka dari itu aku memutuskan untuk merahasiakan masalah ini." jelas Jin hu lagi.


Jin hu tersenyum melihat Ze tidak lagi menatap tajam ke arahnya. Dia ingin memeluk Ze namun di tahan oleh Ze.


"Kau jangan senang dulu. Masih ada satu hal yang harus kau jelaskan kepadaku." ucap Ze.

__ADS_1


__ADS_2