
Mereka tiba di keluarga Si lebih awal dari waktu yang mereka sebutkan karena Hui tu memutuskan untuk segera menyelesaikan masalah keturunan yang berhubungan darah dengan kehidupannya yang sebelumnya.
Mereka tiba bertepatan dengan kedatangan keluarga Si yang baru kembali dari makam leluhur.
Tuan Yok ji yang melihat Hui tu yang masih di atas kereta segera turun dari kereta dan menghampirinya.
"Kakek buyut, maaf kami tidak datang lebih awal sehingga tidak menyambut kedatangan kakek buyut di kediaman ini." ucap tuan Yok ji dengan wajah cemas.
"Bukan salahmu, aku yang datang lebih awal dari waktu yang aku sebutkan. Kami datang lebih awal karena setelah ini harus segera mengurus beberapa masalah penting yang tidak bisa di tunda lagi untuk diurus." ucap Hui tu.
"Mengurus masalah? Apakah kakek buyut akan segera pergi lagi?" tanya tuan Yok ji.
"Kakek, tidak baik berbicara di depan gerbang. Sebaiknya kita masuk ke dalam untuk berbincang lebih nyaman." saran seorang pria.
"Apa yang ayah katakan memang benar kakek buyut." saut seorang pemuda.
"Ah, salahkan diriku yang terlalu tua sehingga lupa untuk mempersilahkan kakek buyut dan yang lainnya masuk ke dalam." ucap tuan Yok ji.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kedamaian dan berkumpul di aula utama kediaman itu. Seluruh keluarga Si yang ada di kediaman itu berkumpul di ruangan itu.
"Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku memanggil kalian semua untuk berkumpul dan siapa para tamu yang ikut dalam pertemuan ini." ucap tuan Yok ji.
Seluruh anggota keluarga hanya saling pandang lalu mengangguk. Mereka dari awal terutama yang ikut dalam perjalanan menuju makam leluhur sangat penasaran dengan kehadiran Ze dan yang lainnya.
"Iya ayah, kami sebenarnya sangat penasaran dengan sebutan kakek buyut yang ayah sandangkan untuk memanggil salah satu dari mereka." ucap seorang pria tua.
"Iya kami sangat penasaran." saut salah satu dari mereka.
Yang lain hanya mengangguk tanda mereka juga penasaran dengan panggilan tuan Yok ji pada Hui tu yang mereka tidak kenal sedikitpun.
__ADS_1
"Beliau adalah leluhur keluarga Si kita ini. Suami dari mendiang leluhur Yun wei guo dan ayah kandung dari leluhur pertama yang memiliki kejeniusan dan kemudian mewariskan bakat-bakat luar biasa yang membuat keluarga kita yang awalnya hanya fokus pada bidang bisnis menjadi keluarga kultivator dan alkemish yang sangat dihargai." jelas tuan Yok ji.
"Leluhur?" beo beberapa orang masih tidak mengerti.
"Bukankah artinya dia adalah Si hui tu?" tanya seorang pemuda.
"Tapi, bagaimana bisa leluhur kita datang dengan penampilan pria muda dan bersama sekumpulan orang yang masih muda pula?" tanya seorang pria.
"Apakah kalian lupa dengan cerita yang mengisahkan bagaimana leluhur kita bisa berpisah? Kakek buyut Hui tu dijebak hingga tubuhnya mati sehingga nenek moyang kita Yun wei guo harus menyegel jiwanya dalam benda ajaib sehingga suatu saat dia dapat hidup kembali dalam tubuh baru." jelas tuan Yok ji.
"Bagaimana kakek buyut bisa yakin bahwa dia memang benar adalah leluhur keluarga Si kita?" tanya seorang wanita.
"Kami para tetua memiliki sesuatu yang akan diwariskan kepada tetua selanjutnya dari keluarga Si kita ini untuk mengetahui jiwa leluhur Si hui tu kita hingga tetua terakhir yang berhasil menemukan jiwa leluhur kita ini." jawab tuan Yok ji.
"Apa itu kakek?" tanya seorang wanita.
"Itu adalah benda peninggalan leluhur Yun wei guo yang hanya dapat dibuka oleh suaminya. Di dalamnya terdapat cara untuk menyingkirkan mahluk yang selalu menjadi ancaman untuk keberlangsungan hidup keluarga Si kita ini." jawab tuan Yok ji.
"Benar." jawab tuan Yok ji.
"Sekarang lakukan penghormatan kepada leluhur kita." ucap tuan Yok ji memberi perintah.
"Salam leluhur, semoga panjang umur dan sehat selalu." ucap mereka serempak sambil bersujud di hadapan Hui tu.
"Bangun, jangan lakukan hal sepertiitu lagi kedepannya. Kalian cukup memanggil aku kakek buyut atau leluhur tapi tidak ada yang namanya bersujud di hadapanku." ucap Hui tu.
"Baik leluhur." saut mereka serempak.
"Mereka yang bersama leluhur itu siapa?" tanya seorang wanita.
__ADS_1
"Mereka adalah penyelamat hidupku terutama wanita itu. Mereka rekan yang sudah seperti keluarga bagiku. Kami sudah banyakmelewati kesulitan bersama dan saling membantu seperti bersama menyingkirkan mahluk yang menjadi momok bagi keluarga Si selama ini." jawab Hui tu.
"Mereka adalah Raja dan ratu Jin dari kerajaan atas awan, putra mahkota kerajaan Beicheng dan putra mahkota dari kerajaan yang sangat jauh." tambah Hui tu sambil menunjuk mereka satu persatu.
"Mohon ampuni kami yang mulia karena tidak menyambut dengan baik kedatangan orang penting seperti anda sekalian." ucap tuan Yok ji.
"Tidak perlu sungkan. Kami datang tidak sebagai raja, ratu ataupun pangeran yang mewakili kerajaan kami masing-masing. Kami datang sebagai keluarga Hui tu jadi perlakukan kami senyaman kalian saja." ucap Ze.
"Siapa saja keturunan keluarga Si yang akan berangkat menuju akademi tangga langit?" tanya Hui tu.
"Mereka adalah Yang ruo dan Yue jin putra dari Lu ruo dan Li jin. Lei an putri dari An yi dan Ku min. Yua li putra dari In su dan Go ju. Sin mi dan Yu nan putra putri dari Sin yu dan Nan mi." jawab tuan Yok ji sambil menunjuk mereka satu persatu.
"Kalian semua maju ke sini karena aku akan memberikan sesuatu yang mungkin dapat membantu kalian kedepannya." ucap Hui tu.
Ke enam pemuda pemudi itu perlahan maju dan berlutut di depan Hui tu. Membuat Hui tu sedikit kesal.
"Aku sudah bilang untuk tidak bersujud dan berlutut termasuk dalam hal yang tidak diperbolehkan di depanku." ucap Hui tu lalu mereka segera berdiri.
Hui tu memberikan mereka masing-masing pil roh dan batu sejati tingkat tinggi. Mereka semua senang menerima hadiah itu karena pil roh adalah pil yang sangat sulit didapatkan walaupun kau memiliki uang untuk membelinya. Batu sejati tingkat tinggi juga merupakan barang yang sulit dan mahal tentunya.
"Terima kasih leluhur." seru mereka kegirangan.
"Hm." hanya itu tanggapan Hui tu.
"Yang ruo tunggu." ucap Ze saat mereka akan kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Ya, yang mulia ratu Jin?" saut Yang ruo dengan sopan walaupun wajahnya terlihat bingung.
"Perhatikan reaksi orang tua dari para anak muda itu tidak terkecuali ayah dan ibu Yang ruo." ucap Ze melalui telepati pada Hui tu.
__ADS_1
"Baik." saut Hui tu.
Selamat membaca 😊