Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Sembilan


__ADS_3

Huo nan mengerutkan keningnya mendengar Wen yuan menyebutkan tentang adanya masalah di perjalanan mereka.


"Masalah? Masalah apa?" tanya Huo nan.


"Kami mendapati kasus yang serupa dengan kasus yang pernah kita hadapi di desa shang dulu." jawab Wen yuan.


"Kali ini, kasus itu terjadi di desa Guilin dan parahnya binatang yang menjadi sumber masalahnya berhasil melarikan diri." Liu yu menambahkan.


"Lalu, bagaimana kalian dapat kembali bersama Cheng duan?" tanya Huo nan.


"Kami tidak sengaja bertemu dengan Cheng duan saat kami tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang yang mengaku bahwa diri mereka adalah perampok yang menguasai wilayah hutan Yiling. Cheng duan dan rekannya membantu kami melawan mereka." jawab Wen yuan.


Flashback on


Setelah hampir dua hari dua malam melanjutkan perjalanan mereka dari desa Guilin, rombongan Ze memasuki kawasan hutan Yiling. Setelah cukup lama di dalam kawasan hutan Yiling, ternyata ada beberapa orang yang mencegat mereka.


"Berhenti, semua yang berada di dalam kereta segera turun. Serahkan semua barang berharga milik kalian jika ingin keluar dari hutan ini hidup-hidup." seru salah satu dari mereka.


Ze, Jin hu, Wen yuan dan Liu yu segera turun dari kereta. Melihat ada perempuan yang turun dari kereta mereka menatap lapar ke arah Ze.


"Ada gadis cantik bos." ucap salah satu dari mereka pada seorang pria yang mereka sebut sebagai bos.


"Serahkan barang berharga kalian juga tinggalkan gadis cantik itu untuk memuaskan akh... " ucapan pria itu terhenti dengan suara pekikan karena Jin hu sudah menusuk mulutnya dengan pedang yang Jin hu lempar dan tepat sasaran.


"Berani kau melawan kami? Tidakkah kalian tahu bahwa kami adalah perampok yang menguasai wilayah hutan Yiling ini?" ucap geram pria yang berdiri di sebelah orang yang mereka sebut bos saat melihat rekannya menggelepar meregang nyawa.


"Lalu kenapa jika kalian adalah perampok yang berkuasa di dalam hutan ini? Aku tidak akan membiarkan orang yang berniat kotor pada istriku hidup." ucap Jin hu santai.


"KURANG AJAR....! HABISI MEREKA SEMUA...! " seru pria yang di sebut bos itu dan seketika itu pula terjadi pertarungan antara kelompok Ze dengan kelompok perampok itu.


Di sisi lain Cheng duan tengah memacu kuda bersama beberapa orang rekannya untuk mencari keberadaan Jin hu dan Ze.


Tiba-tiba Cheng duan menghentikan langkah kudanya sambil mengangkat tangan sebagai isyarat untuk rekannya ikut menghentikan langkah kuda mereka.

__ADS_1


"Ada apa kakak pertama?" tanya seorang pemuda yang juga merupakan adik seperguruan Cheng duan.


"Di depan sepertinya ada pertarungan." jawab Cheng duan.


"Klang kling Klang kling." suara benturan senjata terdengar jelas dari tempat mereka.


"Ya, memang ada pertarungan." saut salah seorang dari mereka.


"Ayo kita periksa. Aku curiga kalau ini ada kaitannya dengan kabar perampokan sekitar area ini yang cukup meresahkan rakyat." ajak Cheng duan.


Mereka segera memacu kuda-kuda mereka menuju arah suara pertarungan yang mereka dengar. Cheng duan segera turun dari kuda dan membantu rombongan Ze saat melihat Jin hu yang dia sangat kenal sebagai kakak seperguruan juga sahabat Huo nan tuannya.


"Hya.......... " seru rekan-rekan Cheng duan ikut melawan para perampok.


Setelah beberapa saat bertarung, mereka berhasil menumbangkan seluruh perampok dan Cheng duan menyekap bos mereka untuk diinterogasi.


"Terima kasih telah membantu kami." ucap Ze.


"Tunggu dulu." ucap Ze lalu melangkah cepat ke arah bos perampok itu.


Mereka hanya memperhatikan Ze dengan raut bingung juga penasaran. Ze mencengkram dagu bos perampok itu dan "sret"


"Akh...... " Ze menarik dan memotong bibir bawah orang itu membuat bos perampok itu memekik kesakitan.


Ze segera menabur bubuk penghenti pendarahan pada luka sayat itu dan seketika luka itu mengering.


"Benar dugaan ku, dia menanam racun pada daging bibir bawahnya yang mudah dia gigit saat terdesak." ucap Ze melemparkan daging bibir yang terdapat sebutir pil di dalamnya.


"Bawa dia dan pastikan dia masih hidup saat aku menemuinya nanti." ucap Cheng duan.


"Salam hormat Yang mulia tuan Jin hu." ucap Cheng duan hormat.


"Kau pengawal kaisar Beicheng bukan?" tanya Jin hu.

__ADS_1


"Betul Yang mulia, Putra mahkota Beicheng mengutus hamba beserta yang lain untuk mencari Yang mulia dan putri Ze untuk meminta kalian segera menemuinya karena beliau sedang dalam kesulitan." jawab Cheng duan.


"Kebetulan sekali aku beserta istriku akan mengunjunginya. Dia adalah putri Ze istriku yang juga sedang kalian cari." ucap Jin hu.


"Maafkan mulut hamba yang telah lancang menyebutkan langsung nama dari Yang mulia ratu istana atas awan." ucap Cheng duan.


"Tidak masalah, tidak perlu memanggilku Yang mulia ratu seperti itu. Aku masih belum nyaman dan lagi pula kita tidak sedang berada di istana atas awan." ucap Ze.


"Panggil dia nyonya Jin saja." putus Jin hu.


"Mereka tidak mungkin memanggilmu putri Ze terus sayang sedangkan kau sudah menjadi seorang istri." ucap Jin hu tanpa bantahan.


"Tapi..... "


"Nyonya Jin atau Yang mulia Permaisuri atau yang mulia ratu?" ucap Jin hu memberi pilihan.


"Baiklah nyonya Jin saja." ucap Ze pasrah.


Jin hu tersenyum hangat menatap wajah cemberut istrinya yang terlihat menggemaskan. Di acak perlahan rambut di pucuk Kepala Ze lalu menarik istrinya kedalam dekapannya.


"Istriku memang yang terbaik. Cantik dan menggemaskan saat kesal tapi lebih cantik lagi saat dia tersenyum." ucap Jin hu lalu mengecup singkat hidung dan kening Ze.


Perlakuan manis yang membuat orang meleleh, baper (author ikut baperಥ‿ಥ) juga iri.


Hal yang membuat Wen yuan dan Liu yu memutar mata jengah karena sudah bosan melihat pertunjukan kasih sayang yang tidak kenal tempat. Beda halnya dengan Cheng duan dan rekannya yang mengenal Jin hu sebagai sosok dingin dan tidak tersentuh.


Mereka semua melongo melihat sosok baru Jin hu yang saat ini sedang bersikap hangat pada seorang wanita.


"Apakah ini adalah yang mulia tuan Jin hu yang sama dengan yang saya kenal sebelumnya? Dia yang dulunya tidak mau disentuh terlebih oleh wanita justru dia mendekap hangat seorang wanita. Apakah dunia akan berakhir hingga dia yang dingin dapat berubah sehangat itu?" batin Cheng duan.


"Astaga apakah mataku sudah tidak normal sehingga dapat melihat seorang yang dingin, kejam dan tidak tersentuh dapat tersenyum hangat dan bersikap romantis pada seorang wanita?" batin yang lain.


Yuhuuu jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca✌

__ADS_1


__ADS_2