Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Menemukan binatang ajaib


__ADS_3

He he he he." Huo nan terkekeh kaku sambil menggaruk tengkuknya.


"Beruntung dia hanya mendengar kata terakhir itu saja." gumam pelan Huo nan.


"Apakah kau lebih menyukai wujud asli ini atau wujud manusia mu itu ular api?" tanya Huo nan.


"Sebenarnya lebih nyaman dengan wujud manusia karena tidak akan ada berlari ketakutan hanya dengan melihat aku. Tapi, seperti hewan roh yang lainnya, kekuatan asliku juga terbatas jika menggunakan wujud manusia. Jadi, setiap wujud itu memiliki kekurangan yang berbeda. Aku cukup menggunakan wujud sesuai situasi saja." jawab ular api.


Setelah mengantarkan Huo nan ke kerajaan Beicheng, Ular api segera kembali ke istana atas awan sesuai perintah Ze. Sedangkan Ze dan Jin hu memilih menggunakan kuda naga terbang tanpa kereta agar lebih cepat sampai di tempat Hui tu yang kemungkinan membutuhkan mereka segera menyusul.


"Sekarang kita harus kemana sayang?" tanya Jin hu.


"Aku akan menanyakan keberadaan kakek tua itu dulu." jawab Ze.


"Kakek tua kau ada di mana?" tanya Ze dengan telepati saat mereka memasuki kawasan negri Matahari.


"Aku berada di kediaman keluarga Ouyang sedang memantau apa yang mereka lakukan. Segeralah ke sini kau akan melihat hal yang sangat aneh di sini." jawab Hui tu.


"Kami akan segera kesana. Terus saja memantau dan apakah kau sudah menemukan tempat binatang ajaib itu berada?" tanya Ze.


"Aku masih mencari tempat persembunyian dari bintang ajaib itu tapi aku masih belum menemukan tempat itu. Tapi, ada satu tempat yang aku curigai namun aku belum memiliki kesempatan untuk memeriksa tempat itu." jawab Hui tu.


"Jangan gegabah kakek tua, kau harus menunggu kami tiba untuk membantu kau menyelidiki tempat itu." ucap Ze.


"Baiklah, aku hanya akan mengawasi mereka hingga kalian tiba di sini." ucap Hui tu.


"Bagaimana sayang?" tanya Jin hu setelah Ze menatap ke arahnya.


"Kita ke kediaman keluarga Ouyang dulu." jawab Ze.


"Lalu, dimana letak kediaman keluarga Ouyang itu sayangku?" tanya Jin hu lagi.


"He he he, aku lupa menanyakannya pada Hui tu." jawab Ze sambil memamerkan giginya.


"Mengapa kau sangat menggemaskan?" tanya Jin hu sambil mengacak ujung kepala Ze dengan gemas.


"Akan aku tanya lagi." ucap Ze.


"Apakah kau tidak dapat melacak keberadaan Hui tu?" tanya Jin hu.


"Ah, aku lupa lagi kalau aku dapat menemukan keberadaan Hui tu dengan melacak pil yang aku berikan untuknya." ucap Ze.

__ADS_1


Mereka segera menuju ke arah yang ditunjuk Ze setelah dia berhasil menemukan keberadaan Hui tu.


"Kalian cepat juga sampai ke kerajaan ini." ucap Hui tu.


Ze sudah memasukkan kuda naga terbang ke dalam batu dimensi sebelum menaiki tembok belakang kediaman itu.


"Kami hanya berdua jadi tidak menggunakan kereta sehingga sangat mudah untuk kuda naga terbang untuk bergerak dengan cepat." ucap Ze.


"Apa yang sudah kau temukan Hui tu?" tanya Jin hu.


"Ikuti aku maka kalian akan mendapatkan kejutan yang cukup aneh." jawab Hui tu lalu segera melompat ke atas atap sebuah bangunan diikuti oleh Ze dan Jin hu.


Hui tu sedikit menggeser atap dari sebuah bangunan membuat Ze dan Jin hu menunggu apa yang ingin dia tunjukkan pada mereka.


"Lihat apa yang ada di bawah sana." ucap Hui tu.


"Bagaimana bisa ke 2 bayi dan pengasuhnya ada di kamar itu?" tanya Jin hu.


"Apakah semua penghuni kediaman ini kembali utuh tanpa berkurang seorang pun?" tanya Ze.


"Ya, bahkan mereka menutupi kejadian malam keluarga Ouyang diserang dari seluruh penduduk kerajaan ini dan menutup rapat pintu gerbang lalu memperbaiki seluruh bangunan yang sempat rusak akibat kejadian malam itu." jawab Hui tu.


"Ini artinya mereka ingin hidup sebagai keluarga Ouyang tapi kita belum tahu apa yang menjadi tujuan mereka." ucap Ze.


"Di bangunan besar di depan sana." jawab Hui tu sambil menunjuk ke arah bangunan yang mereka maksud.


"Mengapa kau mencurigai tempat itu?" tanya Jin hu.


"Aku melihat mereka membawa gadis kecil ke dalam sana lalu tidak lama mereka keluar membawa gadis kecil itu keluar dalam keadaan tubuh terkoyak." jawab Hui tu.


"Bangunan itu juga dijaga ketat melebihi tempat lain di kediaman ini." tambah Hui tu.


"Sebaiknya kalian menahan napas hingga aku mengatakan kalian bisa kembali bernapas." ucap Ze diangguki oleh Jin hu dan Hui tu.


Ze membakar sebuah benda berbentuk silinder seukuran ibu jari berwarna hitam lalu melemparkan benda itu ke bawah sana. Seketika semua orang di bawah sana tidak sadarkan diri padahal benda itu tidak mengeluarkan asap berlebihan.


"Sekarang kalian bisa bernapas kembali." ucap Ze.


"Benda apa yang kau bakar tadi? Mengapa aku tidak pernah melihat kau membuatnya?" tanya Hui tu.


"Itu hanya dupa penenang yang membuat siapapun yang berada dalam jarak jangkauan asap tipis yang menyebar luas dalam waktu singkat dari dupa itu tertidur dengan lelap seketika." jawab Ze.

__ADS_1


"Aku baru membuatnya dan ini pertama kalinya aku menggunakan dupa itu." tambah Ze.


"Lumayan juga." ucap Hui tu membuat Ze mendengus tidak suka.


"Ayo kita pergi memeriksa tempat itu. Aku tidak tahu berapa lama dupa penenang itu akan mempengaruhi mereka." ajak Ze.


"Ayo." saut Jin hu dan Hui tu bersamaan.


Mereka segera memasuki bangunan besar itu dan di dalam sana mereka dapat mencium bau amis darah yang sangat kuat.


"Roar... roar..." Mereka mendengar suara binatang yang sangat besar menggelegar dari dalam bangunan itu.


"Sepertinya binatang ajaib kali ini memiliki ukuran besar dan kekuatan yang cukup merepotkan untuk dihadapi." ucap Ze.


Mereka memasuki sebuah ruangan dan di dalam sana mereka melihat seekor macan dengan ukuran besar. Macan itu memiliki mata berwarna merah menyala dan memiliki taring panjang.


Binatang itu menerjang ke arah Ze dan dengan cepat Ze menghindari serangan binatang ajaib itu. Hui tu dan Jin hu mengeluarkan pedang lalu menyerang binatang itu. Bintang besar itu berhasil menghindari serangan mereka bahkan masih bisa menyerang balik dengan cakar tajamnya beruntung Jin hu dan Hui tu masih dapat menangkis serangan itu menggunakan senjata mereka.


"Huh merepotkan saja." keluh Ze.


"Gunakan api sejati saat binatang ajaib itu membuka mulutnya. Hanya itu kelemahan binatang ajaib itu." ucap roh pedang tiba-tiba.


"Terima kasih petunjuknya." ucap Ze.


"Kalian berdua menyingkir saja. Biarkan aku yang menangani binatang ajaib itu." ucap Ze.


"Tidak ada protes karena aku tahu apa yang harus dilakukan." ucap Ze lagi lalu segera Jin hu dan Hui tu menyingkir.


Ze mengeluarkan dua belati kesayangannya lalu menyerang mahluk itu dari depan. Sayatan belati Ze berhasil membuat luka gores pada wajah dan paha depan binatang ajaib itu membuat binatang ajaib itu murka.


Bintang besar itu menyerang Ze dengan mengharamkan kedua kaki depan ke arah Ze yang langsung di tahan oleh Ze. Binatang itu membuka lebar mulutnya ingin menggigit Ze membuat Ze tersenyum lebar.


Ze melepaskan api sejati dari cincin yang dia kenakan dan dengan kekuatan tenaga dalam mengarahkan api itu ke arah mulut binatang ajaib itu.


"Roar.....roar...." suara kesakitan binatang itu yang sudah berguling di tanah.


Jin hu langsung melompat ke arah Ze dan segera memeriksa keadaannya. Dia bernapas lega melihat tidak ada luka sedikitpun pada tubuh istrinya.


Ze segera memasukkan cahaya ungu terang yang keluar dari tubuh binatang ajaib yang sudah habis terbakar api sejati. Di luar sana tanpa mereka sadari beberapa orang yang telah merubah wujud menjadi anggota keluarga Ouyang telah berubah menjadi wujud aslinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dan beri dukungan kepada author berupa vote, like dan komen.


Selamat membaca 😊


__ADS_2