Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Pedang naga phoenix


__ADS_3

Ze dan Zili menyerang orang-orang yang bertugas menjaga api dan memasukkan jasad para pria itu dengan cepat. Karena perbedaan kekuatan yang sangat besar antara mereka, Ze dan Zili dapat dengan mudah menghabisi mereka.


Zili membebaskan semua sandera dengan menghancurkan rantai yang mengikat pintu-pintu penjara itu. Ze memerintahkan kepada mereka agar segera keluar dari gua itu.


Saat Ze akan menyusul ke luar dari gua itu, tungku yang sejak lama dijaga oleh beberapa orang yang telah dia dan Zili singkirkan itu tiba-tiba bergetar membuat Ze diam melihat apa yang akan terjadi.


Tungku itu meledakkan cahaya ungu ke atas. Cahaya itu menembus dinding atas gua bahkan menembus langit. Setelah cahaya itu padam tutup tungku terbuka lalu keluar sebuah pedang panjang dan ramping berwarna campuaran siver dan ungu dengan gagang berbentuk setengah kepala naga dan setengah kepala phoenix.


Pedang itu melayang ke arah Ze dan segera Ze tangkap. Ze merasa ada aliran energi yang terserap dari tangannya ke pedang itu.


"Berikan setetes darah anda padaku." ada suara yang terdengar oleh Ze membuat Ze mencari arah suara.


"Aku adalah pedang di tangan anda." ucap suara itu lagi.


"Mengapa aku harus memberikan darahku padamu?" tanya Ze.


"Agar kita dapat menyelesaikan proses kepemilikan diriku sebagai senjata milikmu. " jawab suara pedang itu.


"Aku bukanlah orang yang membuat dirimu." ucap Ze.


"Aku tahu itu. Tapi, walaupun itu orang yang membuat diriku, aku tidak akan takluk padanya jika aku tidak menginginkan dirinya. Kau memiliki takdir yang sangat istimewa dan hati yang baik namun tegas juga tidak serakah. Aku menyukainya dan rela takluk menjadi milikmu." ucap pedang itu.


"Kau masuklah dulu ke dalam cincin penyimpanan milikku. Masalah kepemilikan akan kita lihat nanti. Apakah kau pantas atau tidak untuk menjadi senjata milikku. Aku harus mengurus sesuatu." ucap Ze.


"Apakah kau tidak tahu bahwa semua orang didunia ini sangat menginginkan aku?" tanya pedang itu tidak terima dengan ucapan Ze.


"Aku tidak perduli karena aku bukanlah mereka." jawab Ze.


"Masuk ke dalam cincin atau aku buang kau di tumpukan mayat itu." ucap Ze.


Pedang itu akhirnya pasrah masuk ke dalam cincin penyimpanan milik Ze. Zili hanya diam melihat hal itu. Zili baru tiba setelah mengantar para tahanan sekte sesat itu keluar dari gua dan menyerahkan mereka pada Jin hu dan yang lainnya untuk dijaga saat Ze mengatakan bahwa akan memikirkan tentang akan menerima pedang itu atau tidak.

__ADS_1


"Itulah tuanku yang memiliki sifat istimewa dan keberuntungan tiada banding. Pedang yang orang rela saling bunuh untuk memilikinya memohon untuk menjadi miliķnya namun dia tetap tidak tergesa-gesa untuk menerimanya." gumam Zili.


Beberapa orang datang dengan langkah cepat dari arah luar gua. Ze dan Zili menghilang dari tempat itu karena Zili tiba-tiba membawa Ze berteleportasi menjadi di luar gua itu.


"Mengapa kau membawa aku berpindah tempat dengan tiba-tiba seperti itu?" tanya Ze.


"Walaupun mereka bukan lawan anda, sebaiknya kita tidak membiarkan siapapun orang luar tahu bahwa anda yang memegang pedang suci tingkat dewa itu. Atau jika tidak, akan banyak yang akan menargetkan kita hanya demi pedang itu." jelas Zili.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak mungkin membiarkan wanita licik bernama An wei lan itu tetap hidup dan menjadi semakin kuat. Aku tidak takut tentang keselamatan diriku. Aku hanya tidak ingin jika kelak dia menyakiti orang yang aku sayangi terutama ibu karena dia juga ibunya sangat membenci ibu dan aku." ucap Ze.


Zili tampak sedang berpikir sejenak lalu mengeluarkan dua buah topeng satu berwarna biru dan satu lagi berwarna hitam.


"Kita segera selesaikan mereka dengan menggunakan topeng ini. Samarkan suara anda agar wanita itu tidak mengenali anda." ucap Zili.


Ze segera meraih dan mengenakan topeng itu seketika pakaian yang dia gunakan juga berubah menjadi pakaian layaknya pakaian seorang pria berwarna ungu.


"Topeng ini ajaib juga." puji Ze.


Sementara di dalam gua


Seorang pria tampan berpakaian hitam datang dengan terburu-buru diikuti oleh beberapa orang wanita dibelakangnya dan salah satunya adalah orang yang sudah pasti tidak asing bagi Ze.


"Pedang naga phoenix telah berhasil terbentuk. Aku harus segera melihat dan menaklukkan Pedang itu." gumam pria itu dengan seringai menghiasi bibirnya.


"Bukankah seharusnya masih ada beberapa hari lagi untuk pedang itu selesai dibakar dalam tungku guru? Mengapa sekarang pedang itu sudah selesai terbentuk?" tanya seorang wanita.


"Entahlah, anehnya lagi cahaya yang muncul dari pedang itu lebih besar dan kuat hingga menembus langit. Tampaknya pedang yang terbentuk adalah senjata suci level dewa." jawab pria itu.


"APA YANG TERJADI DI TEMPAT INI? MENGAPA SELURUH TAHANAN SUDAH TIDAK ADA DI TEMPATNYA?" ucap pria itu penuh amarah.


"DI MANA PEDANG SUCI LEVEL DEWA MILIKKU? SIAPA YANG BERANI MENGAMBIL PEDANG ITU DARI AKU?" ucapnya lebih emosi lagi lalu mengerahkan tenaganya menghancurkan tungku sebagai luapan amarahnya.

__ADS_1


"SIAPAPUN YANG MENGAMBIL PEDANG MILIKKU SEHARUSNYA BELUM JAUH DARI TEMPAT INI. CARI ORANG KURANG AJAR ITU SEGERA." ucapnya pada semua wanita yang mengikutinya sejak tadi.


"Baik guru." seru mereka serempak.


"Mencariku hm?" ucap Ze yang datang bersama dengan Zili.


"Kembalikan pedang milikku maka kau akan mati dengan tubuh utuh." ucap pria berpakaian hitam itu.


"Bagaimana jika aku tawarkan agar kau berlutut maka akan aku buat kau mati tanpa harus merasakan penderitaan yang panjang?" tawar Ze dengan senyum mengejek.


"Kurang ajar....! Serang mereka. " ucap pria itu.


Para wanita menyerbu ke arah Ze dan Zili yang disambut dengan santai oleh mereka. Dengan sekali tebas mereka semua tersungkur namun anehnya para wanita itu bangkit kembali.


"Merepotkan." ucap Ze.


"Kau tidak akan dapat membunuh orang yang sudah mati." suara pedang itu terdengar oleh pendengaran Ze.


"Mati? Bukankah artinya mereka adalah mayat hidup?" tanya Ze.


"Ya, kau hanya dapat menyingkirkan mereka dengan melebur tubuh mereka. Misalnya pada api iblis di depan sana." jawab pedang itu.


"Lempar tubuh mereka ke dalam api iblis di depan sana." ucap Ze pada Zili menggunakan telepati.


para wanita itu kembali menyerang dan dengan sigap Ze dan Zili menghantam dan menendang tubuh mereka hingga terlempar ke arah api iblis. Melihat itu pria berpakaian hitam itu yang awalnya tersenyum menjadi marah.


"Mengetahui rahasia tubuh mayat yang aku buat. Kalian sungguh bukan orang yang pantas dianggap remeh." ucap pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sebanyak ini author up pasti masih ada yang bilang kurang deh. Kalau gitu author juga butuh dukungan lebih banyak agar bersemangat up lebih banyak lagi mumpung author lagi banyak waktu untuk up nih😁

__ADS_1


__ADS_2