Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tiga puluh enam


__ADS_3

Ze diam untuk mencerna kebenaran yang baru saja dia ketahui tentang Ming hui. Orang yang dia kira adalah orang yang harus dia bantu karena memiliki dendam yang sama dengannya.


"Bukankah itu artinya ada kemungkinan orang di belakang Ming hui itu juga merupakan orang yang aku cari untuk membalas dendam ibuku?" gumam Ze.


"Kemungkinan besar seperti itu." saut batu dimensi itu.


"Sebaiknya kau tahu nama asli dari pemuda licik dan kejam yang kau kenal dengan nama Ming hui itu." ucap Batu dimensi itu tiba-tiba.


"Siapa?" tanya Ze.


"Song Yu jiu." jawab batu dimensi itu.


"Apa?" pekik Ze sangat terkejut mendengar nama asli dari Ming hui.


"Iya dia adalah keturunan dari keluarga Song yang sangat kau benci." jelas batu dimensi itu.


"Itu artinya dia telah tahu siapa aku dan jati diriku sebelum kami bertemu sebelumnya. Tujuan dia mendekati aku adalah untuk menghancurkan aku beserta keluargaku?" tanya Ze.


"Ya, tujuan utama mereka adalah menyingkirkan dirimu dan kalau bisa dan harus bisa juga menyingkirkan seluruh keluarga Ji dan keluarga Shi yang tersisa." jawab batu dimensi itu.


"Aku juga pernah mendengar kalau kepala keluarga Shi pernah mereka beri racun dengan memanfaatkan anggota keluarga Shi sendiri yang serakah dan bodoh." jelas batu dimensi itu.


"Oh, tragedi kakek yang menderita karena racun juga ulah mereka rupanya." ucap Ze geram dengan tatapan penuh emosi.


"Aku akan pastikan setelah aku mengurus dendam dengan keluarga itu,maka saat itu pula tidak akan ada lagi orang yang akan menyebutkan atau bahkan mengingat bahwa keluarga Song itu pernah ada di dunia ini." ucap Ze penuh kemurkaan.


"Maka aku akan mendukung dirimu untuk itu. Tuanku sebelumnya adalah orang yang sangat baik dan rendah hati. Beliau menolong mereka dan balasan yang tuanku sebelumnya terima dari mereka adalah tuanku sebelumnya harus membayar kebaikan dirinya sendiri dengan nyawanya." ucap batu dimensi itu dengan nada kebencian dan seketika tempat Ze saat itu berubah gelap dengan hawa dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang.


Angin kencang menyerupai tornado mulai terbentuk dan tanah yang dipijak bergetar dengan kencangnya. Ze hanya berusaha untuk menjaga keseimbangan dirinya dan menahan kekuatan emosi dari batu dimensi yang sangat kuat agar tubuhnya tidak terluka.


"Maaf." ucap batu dimensi itu saat sadar bahwa emosinya dapat mencelakai mahluk hidup yang ada di dalamnya saat itu termasuk Ze.


Seketika itu pula keadaan di dalam batu dimensi itu berangsur-angsur membaik. Di dalam sana sudah mulai terang kembali dan suhu udara kembali normal.


"Aku lupa kalau emosiku dapat melukaimu. Aku adalah jiwa dari batu dimensi ini maka keadaan emosiku akan sangat berpengaruh pada keadaan seisi batu dimensi ini." ucapnya menjelaskan.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku dapat mengerti kalau kau tidak dapat menahan emosi. Jika aku berada pada posisi yang sama dengan dirimu, aku juga tidak akan dapat menahan emosi jika mengingat itu." saut Ze.


"Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Ze.


"Untuk apa panggilan itu?" tanya batu dimensi itu balik.


"Bukankah kau dapat berkomunikasi? Maka aku harus memiliki panggilan untuk dirimu. Setidaknya untuk mempermudah komunikasi kita." jawab Ze.


"Entahlah, terserah kau memanggilku apa karena tuanku sebelumnya hanya memanggilku batu dimensi." ucap batu dimensi itu.


"Karena suaramu seperti perempuan, maka akan aku panggil Silla saja." putus Ze.


"Bagaimana?" tanya Ze.


"Cukup bagus, baiklah kau dapat memanggilku dengan sebutan itu." jawab Silla.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Silla." ucap Ze dengan serius.


"Apa itu?" tanya Silla.


"Oh, ada banyak di balik bukit di belakangmu itu." jawab Silla.


"Bisakah aku mengambil buahnya?" tanya Ze lagi.


"Saat ini kau adalah tuan baru pemilik batu dimensi ini. Kau bebas mengambil apapun yang ada di dalam batu dimensi ini kecuali satu." ucap Silla.


"Apa itu?" tanya Ze penasaran.


"Kau lihat pohon tinggi di puncak bukit tepi danau itu?" tanya Silla.


"Ada apa dengan pohon itu?" tanya Ze.


"Itu adalah pohon jiwa yang telah menjaga dunia dalam batu dimensi ini agar tetap menjadi istimewa dan tetap bertahan dengan jiwa penjaga yaitu aku. Jangan sampai pohon itu kau rusak atau batu dimensi ini hanya akan menjadi batu biasa yang tidak berguna." jawab Silla.


"Mengapa aku akan merusak pohon itu? Aku tidak tertarik untuk merusak apapun." ucap Ze.

__ADS_1


"Inti dari pohon itu dapat memberikan seseorang keabadian. Tapi hanya dengan menghancurkan pohon itu baru orang itu dapat memperoleh inti dari pohon itu." jawab Silla.


"Oh." tanggapan singkat Ze membuat Silla heran.


"Hanya oh?" tanya Silla.


"Lalu apa lagi yang harus aku katakan?" tanya Ze balik.


"Tidakkah kau tertarik dengan inti dari pohon itu?" tanya Silla.


"Aku tidak tertarik dengan hidup abadi. Untuk apa hidup selamanya jika hanya untuk melihat orang-orang yang aku sayang dan aku pedulikan perlahan ma*i satu per satu. Aku tidak ingin hidup dalam kesepian." ucap Ze.


"Ya kau benar. Aku merasakan itu semua. Hati aku hancur berkali-kali harus menerima kenyataan bahwa orang yang dekat dengan aku sebelum ini yang menjadi tuanku harus meninggalkan aku karena waktunya telah tiba untuk meninggalkan dunia ini." saut Silla.


"Sebelum aku menemukan orang lain yang pantas untuk menjadi tuanku, aku harus kembali kesepian." tambahnya.


"Sebenarnya kau itu jiwa dari mana mengapa dapat terikat pada batu dimensi ini?" tanya Ze.


"Aku adalah kumpulan harapan dari banyak orang yang dikumpulkan oleh pohon jiwa dan lama kelamaan membentuk sebuah jiwa." jawab Silla.


"Untuk alasan kenapa aku menyatu dengan batu dimensi ini adalah karena seorang abadi yang melakukan itu untuk memberikan kedamaian di desa tempat pohon jiwa sebelumnya tumbuh." tambah Silla.


"Kedamaian? Apa yang terjadi sehingga seorang abadi harus melakukan itu untuk kedamaian?" tanya Ze lagi mulai tertarik dengan cerita Silla.


"Semua itu berkaitan dengan jiwa serakah yang sering kali timbul di saat seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih dari seseorang atau suatu benda. Mereka jadi tidak ingin berbagi anugrah itu pada yang lain dan akhirnya terjadi pertarungan, pertumpahan darah." jelas Silla.


Flashback on


Beberapa abad yang lalu saat pohon jiwa masih diluar batu dimensi.


Pohon jiwa tumbuh di puncak bukit di tengah hutan bernama hutan harapan. Banyak orang yang datang ke hutan harapan untuk mengutarakan harapannya di depan pohon jiwa.


Mohon maaf karena beberapa hari author tidak up itu karena ada beberapa hal yang menyita waktu author mulai dari keluarga yang meninggal dunia hingga beberapa hajatan dari keluarga dekat yang tidak mungkin author abaikan.


Selamat membaca 🙏

__ADS_1


__ADS_2