Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tiga puluh sembilan


__ADS_3

Ze dan yang lainnya pergi ke desa terdekat dan segera mencari penginapan. Mereka memesan 3 kamar untuk menghindari kecurigaan untuk berjaga-jaga kalau ada yang mengintai mereka.


"Kalian keluar lewat jendela dan hati-hati jangan sampai ada yang melihat kalian. Untuk berjaga-jaga kalau seandainya ada yang mengintai kita dari pihak lawan, kita harus lebih waspada dalam bertindak." ucap Ze pada Zili dan dua pengawalnya dengan suara pelan.


"Baik putri." jawab mereka.


Mereka memasuki kamar mereka masing-masing. Zili menempati kamar yang sama dengan Suho dan Dujo. Ze dan Hui tu masing-masing memiliki satu kamar terpisah yang bersebelahan untuk mempermudah Hui tu menjaga Ze saat Ze membuat tinta untuk jimat segel.


"Sebaiknya aku segera membuat tinta agar dapat membiarkan kak Jin hu dalam keadaan sadar walaupun dia harus tetap berada di dalam batu dimensi untuk beberapa saat lagi." ucap Ze dan segera mengeluarkan semua bahan dan alat yang dia butuhkan.


Ze tampak fokus dengan apa yang dia kerjakan saat ini. Sedangkan di kamarnya saat ini Hui tu sedang fokus mengamati sekitar Ze dengan menggunakan tenaga dalamnya untuk merasakan jika ada seseorang atau kekuatan yang mendekat.


Di sisi lain Zili, Suho dan Dujo satu per satu keluar dengan sangat hati-hati dan waspada dari jendela di kamar mereka.


"Aku sebaiknya segera ke tempat pemuda itu sebelum langit menggelap. Kalau tidak aku bisa terlambat untuk mengawasi pemuda itu jika dia keluar malam ini." gumam Zili sambil bergerak lincah berpindah dari atap rumah ke dahan pohon dan kembali ke atap rumah saat tidak mendapat pohon besar untuk sembunyi.


Sebenarnya Zili menggunakan jurus yang membuat dirinya hampir tidak terlihat. Tapi, untuk menghindari kalau ada yang bertugas mengawasi mereka dan orang itu memiliki pencapaian yang tinggi, Zili berusaha bergerak secepat mungkin untuk menghindari terlacak.


Sedangkan untuk Suho dan Dujo mereka segera berubah wujud ke dalam wujud aslinya saat berada di atas atap penginapan dan segera terbang ke atas langit mengawasi Zili dari balik awan.


Mereka memiliki koneksi batin yang kuat dengan Zili sehingga mereka dapat melihat keberadaan pangeran mereka walaupun dari jarak jauh dan dalam wujud tidak terlihat.


"Huft, beruntung pemuda itu masih ada di tempatnya." ucap pelan Zili.


"Mau kemana pemuda licik itu?" gumam Zili yang mengamati setiap gerak gerik Ming hui palsu semenjak dia tiba di tempat itu.


"Apa yang dia akan lakukan di dapur? Apakah dia sudah mulai beraksi?" gumam Zili sambil terus mengamati Ming hui palsu itu.

__ADS_1


"Batu dimensi ini dan batu dimensi milik gadis bodoh itu akan segera menjadi milikku, sebaiknya aku mulai untuk rencana menyingkirkan para sampah itu." gumam Ming hui palsu itu dan masih dapat didengar oleh Zili.


"Melakukan ini untuk saat ini bukanlah hal yang salah karena racun ini tidak bereaksi langsung. Racun ini akan perlahan merusak tubuh dalam dan energi yang terdapat di dalam tubuh yang memakannya. Saat rencana ku sukses, saat itu pula mereka akan ma*i dengan mendadak tanpa adanya gejala apapun." ucap Ming hui palsu itu sambil menabur bubuk racun kedalam makanan yang ada di dapur itu.


Mendengarkan penuturan Ming hui palsu itu Zili sangat geram namun tetap menahan emosinya demi untuk kelancaran tugasnya.


"Beres, setelah semua berakhir aku hanya akan menikmati hasil yang memuaskan tanpa harus mengurus sampah tidak berguna yang akan menyusahkan saja. Mereka semua akan menjumpai raja neraka tanpa harus aku melakukan hal melelahkan." ucap Ming hui palsu itu dan langsung pergi dengan cepat dari dapur itu.


"Beruntung aku memiliki pil penawar segala racun ini." gumam Zili yang segera menghancurkan pil yang dia maksud hingga menjadi bubuk lalu menaburkan bubuk itu pada makanan yang telah ditaburi racun oleh Ming hui.


Zili segera menyusul Ming hui dan ternyata pemuda itu tidak kembali ke tempat sebelumnya dia berada.


"Kemana dia pergi?" tanya Zili pada Suho dan Dujo melalui telepati.


"Dia keluar dari kediaman ini dengan melompati tembok belakang itu." jawab Suho.


"Ah si*l....! Aku kehilangan jejak dia." umpat kesal Zili.


Zili duduk di dahan pohon dengan wajah kesal karena dia kehilangan Ming hui palsu.


"Tap tap tap." saat Zili bersandar pada batang pohon sambil menutup matanya untuk menenangkan diri dia tidak sengaja mendengar suara langkah kaki yang terdengar berasal dari beberapa orang.


"Wakil ketua." ucap seorang pemuda sambil menunduk hormat.


Zili tersenyum mendengar suara yang dia kenal itu. Ya, suara pemuda licik yang mengatakan bahwa dia adalah korban dari keluarga song dan faktanya justru dia adalah anggota keluarga song itu.


"Apakah kau yakin tidak ada yang mengikuti dirimu ke tempat ini?" tanya pria yang Ming hui sebut sebagai wakil ketua.

__ADS_1


"Tadi sempat ada yang mengikuti aku tapi, aku berhasil mengelabui orang itu dan dia kehilangan jejak diriku." jawab Ming hui palsu itu.


"Berarti dia menyadari keberadaan aku sebelumnya padahal aku sudah menutupi keberadaan aku di dekatnya. Beruntung putri memaksa aku mengambil pil penyamaran yang menutupi keberadaan aku dan aku ingat untuk menelannya sebelum keluar dari kediaman gran master Ji. Semoga malam ini aku mendapatkan informasi yang putri butuhkan." batin Ming hui.


"Apa yang kau dapatkan dari putri Ji Liu ku itu?" tanya pria itu.


"Bagaimana wakil ketua bisa tahu kalau putri dari Ji Liu ku itu datang menemui aku?" tanya Ming hui palsu.


"Apakah kau lupa bahwa di luar kediaman itu ada banyak orang dari keluarga song yang bertugas mengawasi kediaman itu?" tanya sinis seorang pemuda yang berdiri di belakang pria yang di panggil wakil ketua itu.


"Dia memeriksa batu dimensi yang kita rebut dari keluarga Yu ini dan mengatakan bahwa akan ada seseorang yang mampu membukanya untukku nanti. Orang itu sedang bertapa dan akan segera selesai dengan tapanya." ucap Ming hui palsu itu.


Sebenarnya Ming hui palsu itu ingin membalas perkataan sinis pemuda itu namun dia tahan mengingat di depannya saat ini adalah seorang yang tegas dan kejam.


"Kau bilang dia memeriksa batu dimensi itu?" tanya pria itu dengan alis berkerut.


"Iya benar." jawab Ming hui palsu dengan sedikit ragu melihat wajah tidak suka pria itu.


"Duakh..... "


"Akh..... "


"Bruk..... "


Pria itu menendang Ming hui palsu dengan keras membuat tubuh pemuda itu terlempar dan menghantam batang pohon.


selamat membaca🙏

__ADS_1


__ADS_2