Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Lima puluh sembilan


__ADS_3

Zili mulai melangkah ke arah Ze berada diikuti oleh Suho.


"Bukankah akan butuh waktu lebih banyak jika kita menyusul putri dengan berjalan kaki?" tanya Suho namun hanya berupa gumaman kecil namun masih dapat tertangkap oleh Indera pendengaran Zili.


"Kau benar juga, mengapa kita tidak langsung berpindah tempat menuju tempat putri berada karena posisi putri masih ada dalam jangkauan untuk kita berpindah tempat langsung di sana." ucap Zili sedikit merasa konyol.


"Kita juga harus segera memperingati putri tentang bahaya dari tempat itu. Bahaya jika putri masuk ke dalam tempat itu tanpa mengetahui dampak yang akan dia rasakan." ucap Zili lagi dengan wajah cemas.


Zili dapat langsung ber teleportasi ke tempat Ze berada karena ikatan kontrak darah mereka selama Ze berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh darinya.


Mereka berdua langsung menghilang dari tempat itu dan muncul di tempat Ze dalam waktu yang salah menurut mereka juga menurut Jin hu bahkan sangat salah.


"Khem khem." dehem mereka berdua membuat dua sejoli yang sedang asik berpadu kasih itu terkejut.


Ze langsung mendorong dada Jin hu agar menjauh dan ciuman mereka terhenti. Jin hu bukannya memasang wajah terkejut atau malu, dia justru memasang wajah kesal karena merasa terganggu.


"Kalian sudah di sini, ayo kita segera masuk ke dalam hutan itu." ajak Ze mengalihkan perhatian agar tidak merasa canggung.


"Tunggu dulu putri!" seru Zili.


"Ada masalah apa Zili?" tanya Ze.


"Di depan kita itu adalah hutan kesuraman. Hutan yang dapat menggali masa suram atau perasaan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan yang tersembunyi di balik ingatan juga hati seseorang yang memasuki hutan itu." jelas Zili.


"Kalian harus mampu berdamai dengan masa suram itu jika tidak....."


"Jika tidak kenapa?" tanya Ze.


"Jika tidak, maka kalian akan terus tinggal di dalam hutan itu dan tenggelam dalam kesuraman yang menggerogoti jiwa kalian hingga kalian menjadi orang yang kehilangan akal." jawab Zili.


"Bukankah lebih baik jika kita saja yang masuk ke dalam hutan itu pangeran?" saran Suho.


"Ya, aku juga berpikir demikian sebenarnya. Tapi, itu adalah pilihan putri untuk memutuskan untuk masuk sendiri atau mengutus kita saja untuk masuk ke dalam hutan kesuraman itu." ucap Zili.


"Aku akan masuk ke dalam hutan itu." putus Ze membuat tiga pasang mata di sana menatap ke arahnya.


"Bukankah perasaan yang mengganjal di dalam hati adalah penghambat pencapaian juga akan mempengaruhi kultivasi milikku kelak jika tidak segera aku atasi?" tanya Ze dijawab anggukan mereka bertiga.

__ADS_1


"Maka, jika aku dapat lulus dari siksaan mental dari hutan kesuraman ini, itu artinya aku dapat berdamai dengan masa itu dan artinya juga tidak ada lagi hambatan untuk pencapaian kultivasi milikku kelak." tambah Ze menjelaskan tujuannya.


"Maka aku juga akan berusaha untuk berdamai dengan masa suram kehidupanku." putus Jin hu.


"Baiklah jika itu keputusan kalian berdua. Tugas kami adalah mengawasi kalian jika kami rasa kalian tidak sanggup lagi maka kami akan membawa paksa tubuh kalian keluar dari hutan kesuraman itu." ucap Zili.


"Mengapa kalian berkata seolah pengaruh hutan itu tidak akan berdampak pada kalian?" tanya Jin hu.


"Karena dalam masa hidup kami, kami belum mengalami masa dimana kami merasakan sakit hati juga kemarahan yang besar yang akan mengganjal di hati kami." jawab Suho.


"Baiklah aku paham." ucap Jin hu.


"Huft ayo kita masuk ke dalam hutan." ajak Ze setelah menghembuskan nafas untuk memantapkan hati.


"Ayo....!" sahut Jin hu sedang Zili dan Suho hanya mengangguk menyetujui.


Mereka masuk ke dalam hutan kesuraman itu bersama. Saat pertama memasuki hutan kesuraman perasaan kalut juga berbagai ingatan tentang masa-masa suram kehidupan mereka teringat kembali seolah baru saja terjadi membuat air mata perlahan keluar dari mata Ze juga Jin hu.


Mereka masih melangkah masuk ke dalam hutan. Perlahan langkah mereka memelan hingga mereka terduduk di tanah.


"Sayang kalian tenang ya di dalam sini jangan sampai bersuara apapun yang kalian dengar dan apapun yang terjadi jangan keluar dari dalam lemari ini. Oke?"


"Ze ingat untuk tetap menjaga dan menemani adikmu Jo. Oke? Kalau kalian sudah tidak mendengar ada suara lagi segera hubungi polisi agar segera kemari dan menolong kalian."


Bayangan kala Astrid memeluk dan mencium kening juga pipinya dan adiknya kembali Ze lihat membuat Ze ingin meraih tubuh ibunya namun tidak dapat.


Dalam ruangan sempit itu dia dapat merasakan ketakutan juga kesedihan.


"Dor......" suara letusan senjata terdengar jelas.


"papa...!"


"Akh tolong....! jangan aku mohon jangan....!" suara teriakan Astrid membuat hatinya semakin kalut.


Ze kecil melangkah menuju suara letusan senjata yang berikutnya terdengar.


"Papa... Mama..." teriak Ze syok melihat kondisi papa dan mamanya yang sudah tidak lagi bernyawa.

__ADS_1


Dengan segera dia berlari duduk terkulai lemas di sebelah ma**t kedua orang tuanya yang telah terbujur kaku penuh dengan darah.


"Hiks papa... mama... bangun hiks hiks


bangun pa ma hiks Ze takut hiks hiks" tangis Ze kecil pecah sedangkan Ze hanya mampu melihat tanpa bisa menyentuh tubuh orang tuanya yang sudah tidak bernyawa lagi. Ze menangis meraung raung begitu pilu.


Seseorang mendekati Ze kecil dari belakang.


"Jangan.....! Hei pergi dari sana cepat....!" seru Ze memberitahu Ze kecil dia lupa kalau itu hanya ingatan yang tidak dapat diubah.


"Hap" orang itu mendekap tubuh Ze kecil.


"Lepas.... tolong... lepaskan saya" teriaknya.


"Papa mama hiks tolong hiks"


"Diam" bentak pria yang mengangkat Ze lalu memukul tengkuk Ze hingga Ze tidak sadarkan diri.


Ze berusaha meraih tubuh orang yang mengangkat tubuh kecilnya namun nihil. Ze lalu berpindah ke dalam ingatan lainnya. Ingatan saat dia berada di karantina saat tubuh kecilnya harus melewati hari yang keras.


Di saat ingatan Ze mengelana melewati dimensi dan waktu, tubuhnya saat itu terlihat sangat lemah dan depresi. Dia kadang berteriak marah, meraung sedih sambil memukul udara.


"Kuatkan hati anda putri." tiba-tiba suara Zili terdengar di telinga Ze.


"Itu hanya ingatan masa lalu bukan hal yang terjadi saat ini dan tidak akan bisa diubah." kembali suara Zili terdengar.


"Akh..... Ya, itu sudah lama berlalu. Maaf ibu, ayah, dan Jo. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk kalian saat itu. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk melindungi mereka yang aku sayangi kedepannya. Aku menyayangi kalian dan aku tahu kalau aku bahagia dan berdamai dengan masa lalu, kalian juga akan bahagia." ucap Ze sembari tersenyum dan seketika dia dapat melihat kedua orang tuanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuhuu.....


Saatnya cuap-cuap author


Di kesempatan kali ini author cuma mau bilang bagi yang berminat untuk bergabung dengan gc author, gc itu sudah author buka bebas.


Mari saling sharing dan sapa di sana.

__ADS_1


Ada pertanyaan juga boleh diutarakan di sana dan bisa langsung di jawab asalkan authornya on ya.


Salam hangat dan sayang dari author 😘


__ADS_2