
Sepertinya, tapi apa kita pernah bersinggungan dengan orang istana ini? Mengapa penjaga mereka meninggalkan sarang hanya untuk menyerang kita? " tanya Zili.
"Aku tidak tahu ini kerajaan apa tapi bisa jadi kaisar atau keluarganya memiliki dendam terhadap salah satu dari kita. " jawab Ze.
"Bagaimana cara kita masuk ke dalam istana tanpa menimbulkan keributan agar dapat dengan mudah menemukan keberadaan pasti tubuh yang kita cari?" tanya Hui tu.
Mereka diam sejenak untuk berfikir cara untuk memasuki istana tanpa menimbulkan keributan.
"Kita coba kelilingi hutan sekitar tembok belakang istana dulu. Karena itu kemungkinan adalah hunian para laba-laba itu, maka ada kemungkinan untuk kita menemukan jalan keluar masuk istana dari hutan itu bukan?" saran Ze.
"Ya, itu bisa jadi seperti itu. Mereka tentu butuh akses jalan untuk bertemu dan membawa makanan para laba-laba itu. Melalui pintu depan tentu akan susah karena akan banyak yang melihatnya dan akan curiga jika orang istana terlalu sering masuk ke dalam hutan." saut Hui tu membenarkan ucapan Ze.
"Ayo, sebaiknya kita menyebar agar bisa lebih cepat menemukan jalan itu jika memang ada. " ajak Ze dan mereka segera berpencar.
Mereka cukup lama mencari dan tidak menemukan apa yang mereka cari bahkan mereka hampir putus asa untuk mencari lagi. Namun, saat mereka berkumpul kembali untuk memikirkan cara lainnya untuk dapat memasuki istana, tiba-tiba sebuah batu bergetar di dekat mereka membuat mereka segera bersembunyi untuk memantau apa yang menyebabkan batu itu bergetar.
Batu besar itu bergeser memperlihatkan sebuah lubang di bawahnya dan beberapa orang keluar dari lubang itu. Ada 2 orang pemuda dengan pakaian yang memperlihatkan bahwa mereka adalah orang kalangan atas keluar lebih dulu. Di belakang mereka 4 orang pria berpakaian layaknya prajurit tengah menyeret beberapa orang gadis yang tangan dan kakinya terikat pada sebuah rantai besi.
"Sepertinya para gadis itu adalah santapan yang mereka persembahkan untuk para laba-laba itu." ucap Hui tu.
"Kita selamatkan para gadis itu dengan menghabisi 6 orang itu dengan cepat. Dengan begitu, kita juga dapat memasuki terowongan itu." saran Hui tu.
"Sebaiknya sisakan satu orang untuk dikorek informasi tentang siapa yang menyembah para laba-laba itu dan dimana letak tubuh yang menjadi wadah kehidupan dari para laba-laba itu." saran Ze.
"Itu jauh lebih baik. Tapi, siapa yang akan kita biarkan untuk hidup?" tanya Hui tu.
"Pemuda berpakaian warna merah itu saja." saran Ze.
"Gunakan racun pelumpuh saja untuk mempermudah kita. " saran Ze dijawab anggukan kepala keduanya.
Mereka menerima masing-masing 2 batang stik bambu yang dibuat seperti jarum dari Ze. Mereka lalu melemparkan pada masing-masing dari 6 orang itu.
"Bruk." Mereka semua tumbang satu persatu membuat para gadis yang mereka bawa heran.
__ADS_1
Ze, Hui tu dan Zili segera menghabisi nyawa 5 orang dari mereka menyisakan satu orang yang Ze maksud membuat para gadis berteriak ketakutan melihat darah.
"Aaaa aaaaa aaa." teriak para gadis.
"Diam jika kalian tidak ingin rekan mereka kesini dan membuat kami tidak bisa menyelamatkan hidup kalian. " ucap Hui tu.
Mereka seketika diam mendengar ucapan Hui tu. Ada senyum haru dan mata penuh harapan mendengar ucapan Hui tu itu.
"Apakah kalian sungguh akan membiarkan kami pergi dengan keadaan hidup?" tanya seorang gadis.
"Tentu." jawab Hui tu sedang Zili dan Ze hanya mengangguk.
Zili menghancurkan rantai yang melingkar pada kaki dan tangan para gadis itu membuat mereka berlutut mengucapkan terima kasih.
"Kalian sebaiknya segera keluar dari hutan ini. Tapi, ingat untuk hati-hati agar tidak terlihat oleh orang istana." saran Ze.
"Baik putri." saut mereka semua lalu segera pergi setelah kembali mengucapkan terima kasih.
"Kita harus segera mengurus orang itu agar dapat menemukan tubuh yang kita cari sebelum para laba-laba itu menyusul kita di tempat ini." ucap Zili.
Ze mentotok beberapa bagian tubuh orang itu setelah orang itu selesai diikat. Ze juga tidak lupa membuat orang itu menelan paksa pil kejujuran untuk mempermudah proses interogasi mereka.
"Uhuk uhuk uhuk. Siapa kalian dan apa yang kalian berikan padaku tadi?" ucap orang itu panik.
"Siapa kami, itu kamu tidak perlu tahu. Kau hanya harus menjawab apa yang kami tanyakan." jawab Ze.
"Lepaskan aku....! Apakah kalian tidak tahu siapa aku sehingga berani mengikat aku seperti ini?" ucap orang itu panik.
"Aku tidak perduli kamu siapa." ucap Ze.
"Aku adalah calon putra mahkota kerajaan matahari ini. Beraninya kalian memperlakukan aku dengan tidak hormat." ucap orang itu.
"Siapa yang menyembah para iblis itu dengan mengorbankan banyak nyawa itu?" tanya Ze langsung enggan menanggapi ucapan pemuda itu.
__ADS_1
"Ibunda permaisuri." jawab pemuda itu kemudian terkejut karena dapat menjawab langsung pertanyaan yang seharusnya tidak dia jawab.
"Siapa nama permaisuri itu?" tanya Ze.
"Mu ru yue." jawab pemuda itu.
"Apa yang kau berikan padaku sehingga tidak bisa mengendalikan ucapanku?" tanya pemuda itu.
"Apakah raja tahu bahwa permaisurinya melakukan hal tercela seperti itu?" tanya Hui tu.
"Tidak ada raja dalam kerajaan ini semenjak ibunda permaisuri memegang tahta." jawab pemuda itu.
"Bagaimana bisa ada pangeran seperti dirimu jika tidak ada raja di sisi permaisuri?" tanya Hui tu.
"Dalam istana hanya ada pria berstatus selir dari permaisuri. Tidak pernah ada raja kecuali jika aku naik tahta nantinya." jawab pemuda itu.
Ze menggunakan mata dewa miliknya untuk mencari kebenaran tentang masalah itu. Hanya sesaat saja Ze selesai dan terhuyung hingga hampir jatuh jika Zili tidak segera menangkap tubuhnya.
"Tidak pernah ada raja dan tidak akan pernah ada raja selama Mu ru yue itu hidup. Para pangeran dan ayah mereka ada hanya untuk dijadikan tumbal agar dia dapat hidup abadi dengan wajah awet muda dan memiliki kekuatan serta kekuasaan." ucap Ze.
"Tidak mungkin......! Kau pasti sedang membual." bantah pemuda itu.
"Selama kau hidup, ada berapa pangeran dan calon putra mahkota yang hilang tanpa jejak hingga saat ini?" tanya Ze.
"Ada banyak, aku tidak tahu pasti jumlahnya." jawab pemuda itu.
"Ada ratusan orang yang bahkan kau tidak kenal. Umur ibu mu itu bahkan sudah 500 tahun lebih hingga saat ini dan korban pertamanya adalah orang yang berdiri di depanmu itu (menunjuk Hui tu) dia seharusnya adalah kaisar berikutnya saat itu andai ibu mu tidak membunuhnya dan orang tuanya." jelas Ze.
"Apa maksudmu?" tanya Hui tu.
"Aku menggunakan mata dewa dan melihat bahwa Mu ru yue adalah adik kandung dari pemilik tubuh yang kau gunakan itu yang dengan teganya membunuh orang tua dan kakaknya demi tahta. Dia lantas menyembah iblis agar tetap memiliki hidup panjang dengan kekuasaan dan tubuh yang selalu muda." jawab Ze.
"Gila, orang itu terlalu gila." ucap Hui tu.
__ADS_1
Pangeran calon putra mahkota itu hanya terdiam mencerna ucapan Ze. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi tumbal juga nantinya jika tidak ada orang-orang yang sedang berbicara di depannya itu.